Ketika meng-i‘rab isim dhamir, kesalahan yang sangat sering terjadi adalah memperlakukannya seperti isim mu‘rab biasa.
Misalnya, ketika membaca:
Dhamir pada tiga kalimat tersebut tidak dijelaskan dengan cara: “marfu‘ dengan dhammah, manshub dengan fathah, atau majrur dengan kasrah.”
Mengapa?
Karena kaidah dasarnya adalah:
Semua dhamir adalah mabni.
Yang berubah bukan bentuk i‘rab akhirnya, tetapi kedudukannya di dalam kalimat.
Jangan bertanya terlebih dahulu: “Dhamir ini harakatnya apa?”
Tanyakan: “Dhamir ini sedang berfungsi sebagai apa?”
1. Apa Itu Isim Dhamir?
Dhamir adalah isim yang digunakan untuk menunjukkan pembicara, lawan bicara, atau sesuatu yang dibicarakan tanpa selalu mengulang namanya.
Contoh:
Zaid adalah seorang pelajar, dan dia rajin.
Kata هُوَ menggantikan penyebutan زيد. Karena itu هُوَ termasuk dhamir.
Secara praktis kita sering bertemu tiga bentuk:
- Dhamir munfashil — berdiri sendiri, seperti هُوَ dan أَنَا.
- Dhamir muttashil — menempel pada kata lain, seperti ـهُ pada كِتَابُهُ.
- Dhamir mustatir — tidak tertulis tetapi dipahami dari fi‘il.
2. Kaidah Pokok: Semua Dhamir Mabni
Mabni berarti akhir katanya tidak berubah karena perubahan kedudukan i‘rab seperti yang terjadi pada isim mu‘rab.
Bandingkan dengan isim mu‘rab
رَأَيْتُ زَيْدًا
مَرَرْتُ بِزَيْدٍ
Kata زيد berubah:
- زَيْدٌ → marfu‘;
- زَيْدًا → manshub;
- زَيْدٍ → majrur.
Dhamir tidak mengalami perubahan semacam itu. Karena itu i‘rabnya sering dijelaskan dengan:
فِي مَحَلِّ نَصْبٍ
فِي مَحَلِّ جَرٍّ
Ini dua hal yang berbeda. Sebuah kata dapat bersifat mabni tetapi tetap berada pada محل رفع، نصب، atau جر.
3. Apa Arti “Fi Mahalli” dalam I‘rab Dhamir?
Contoh:
I‘rab هُوَ:
Artinya, هُوَ merupakan dhamir munfashil yang mabni, tetapi menempati posisi yang seharusnya ditempati mubtada marfu‘.
MAHALL = KEDUDUKANNYA DALAM STRUKTUR KALIMAT
4. Peta Besar I‘rab Dhamir
| Kedudukan | Fungsi yang Sering Ditempati | Contoh |
|---|---|---|
| محل رفع | Mubtada, fa‘il, naibul fa‘il, isim kana | هُوَ، كَتَبْتُ، كَتَبُوا |
| محل نصب | Maf‘ul bih, isim inna | رَأَيْتُهُ، إِنَّهُ |
| محل جر | Setelah huruf jar, mudhaf ilaih | بِهِ، كِتَابُهُ |
5. Dhamir dalam محل رفع
Dhamir berada pada محل رفع jika menempati fungsi yang pada isim mu‘rab seharusnya marfu‘.
A. Sebagai Mubtada
هُوَ:
أَنَا:
B. Sebagai Fa‘il
Aku telah menulis.
تُ adalah dhamir yang melakukan pekerjaan.
Contoh lain:
| Contoh | Dhamir | Kedudukan |
|---|---|---|
| كَتَبْتَ | تَ | في محل رفع فاعل |
| كَتَبْتِ | تِ | في محل رفع فاعل |
| كَتَبْنَا | نَا | في محل رفع فاعل |
| كَتَبُوا | واو الجماعة | في محل رفع فاعل |
| كَتَبَا | ألف الاثنين | في محل رفع فاعل |
| كَتَبْنَ | نون النسوة | في محل رفع فاعل |
C. Sebagai Naibul Fa‘il
Aku dihormati.
Fi‘ilnya berbentuk pasif. Karena itu تُ bukan fa‘il, tetapi:
أَكْرَمْتُ زَيْدًا → تُ = fa‘il.
أُكْرِمْتُ → تُ = naibul fa‘il.
D. Sebagai Isim Kana
تُ:
طَالِبًا = khabar kana, manshub.
6. Dhamir dalam محل نصب
Dhamir berada pada محل نصب apabila menempati fungsi yang seharusnya manshub.
A. Sebagai Maf‘ul Bih
Aku melihatnya.
Dalam satu kata terdapat dua dhamir:
Contoh lain:
عَلَّمَنِي
نَصَحَنَا
أَكْرَمَهُمْ
Dhamir yang terkena pekerjaan fi‘il berada pada محل نصب مفعول به.
B. Dhamir Munfashil Nashab
Bentuk yang sangat terkenal adalah dhamir dengan إِيَّا.
Hanya kepada-Mu kami menyembah.
C. Sebagai Isim Inna
ـهُ:
مُجْتَهِدٌ = khabar inna, marfu‘.
Begitu pula:
7. Dhamir dalam محل جر
Dhamir sangat sering berada pada محل جر dalam dua keadaan:
- setelah huruf jar;
- sebagai mudhaf ilaih.
A. Setelah Huruf Jar
Contoh:
ـه:
B. Sebagai Mudhaf Ilaih
Pada كِتَابُهُ, dhamir ـهُ melekat pada isim.
Perubahan bunyi pada هاء الضمير, misalnya ـهُ dan ـهِ, bukan berarti dhamir berubah dari raf‘ menjadi jarr. Perubahan itu berkaitan dengan kaidah bunyi/penyesuaian harakat, bukan tanda i‘rab dhamir.
8. Dhamir نَا: Bentuk Sama, Bisa Raf‘, Nashab, dan Jarr
Inilah contoh terbaik untuk memahami bahwa fungsi menentukan mahal i‘rab.
A. محل رفع
B. محل نصب
C. محل جر sebagai Mudhaf Ilaih
D. محل جر Setelah Huruf Jar
Jangan menghafal bahwa نَا selalu fa‘il atau selalu maf‘ul bih. Lihat fungsi dan apa yang berada sebelum dhamir tersebut.
9. Dhamir Mustatir: Dhamir yang Tidak Tertulis
Tidak semua dhamir terlihat dalam tulisan.
Kadang fa‘il dipahami dari bentuk fi‘il.
Contoh 1
Aku menulis.
Fa‘ilnya:
Contoh 2
Fa‘il:
Contoh 3
Pada يَكْتُبُ, fa‘ilnya adalah dhamir yang kembali kepada زيد:
Ketiadaan isim setelah fi‘il tidak selalu berarti kalimat kehilangan fa‘il. Fa‘ilnya mungkin berupa dhamir mustatir.
10. Dhamir Munfashil yang Sering Dijumpai
| Makna | Dhamir |
|---|---|
| Saya | أَنَا |
| Kami | نَحْنُ |
| Kamu laki-laki | أَنْتَ |
| Kamu perempuan | أَنْتِ |
| Kalian berdua | أَنْتُمَا |
| Kalian laki-laki | أَنْتُمْ |
| Kalian perempuan | أَنْتُنَّ |
| Dia laki-laki | هُوَ |
| Dia perempuan | هِيَ |
| Mereka berdua | هُمَا |
| Mereka laki-laki | هُمْ |
| Mereka perempuan | هُنَّ |
Jika digunakan sebagai mubtada, dhamir-dhamir tersebut berada pada:
11. Jebakan Penting dalam I‘rab Dhamir
Jebakan 1 — تاء الفاعل Bukan تاء التأنيث
Bandingkan:
تُ = تاء الفاعل, yaitu dhamir dan berada pada محل رفع فاعل.
تْ pada كَتَبَتْ adalah تاء التأنيث الساكنة. Ia bukan dhamir dan:
Fa‘ilnya justru فَاطِمَةُ.
Jebakan 2 — Wawu Jama‘ah Adalah Dhamir, Nun Bukan Dhamir
واو الجماعة = dhamir dalam محل رفع فاعل.
Sedangkan ن pada akhir fi‘il bukan dhamir. Pada af‘alul khamsah, nun tersebut berkaitan dengan tanda raf‘.
Bandingkan:
لَنْ يَكْتُبُوا
لَمْ يَكْتُبُوا
Wawu tetap ada sebagai fa‘il, sedangkan nun dapat hilang karena nashab atau jazm.
Jebakan 3 — Nun Niswah Tidak Sama dengan Nun Taukid
Pada:
نون النسوة merupakan dhamir:
Tetapi نون التوكيد bukan dhamir.
Jebakan 4 — Dhamir yang Sama Tidak Selalu Mempunyai Fungsi yang Sama
مَرَرْتُ بِهِ
كِتَابُهُ جَدِيدٌ
Pada kalimat pertama ـهُ = محل نصب مفعول به.
Pada kalimat kedua ـه = محل جر بحرف الجر.
Pada kalimat ketiga ـهُ = محل جر مضاف إليه.
Jebakan 5 — Mabni Tidak Selalu Berarti “La Mahalla Lahu”
Pada:
هُوَ adalah mabni, tetapi mempunyai kedudukan:
Jadi:
Mabni ≠ otomatis لا محل له من الإعراب.
Catatan tingkat lanjut: kapan dhamir bisa لا محل له من الإعراب?
Salah satu pembahasan tingkat lanjut adalah ضمير الفصل.
Dalam analisis yang menjadikan هُوَ sebagai dhamir fashl, ia dijelaskan:
Ini berbeda dengan هُوَ yang berfungsi sebagai mubtada. Karena itu, fungsi selalu harus dilihat dari struktur kalimat.
12. Contoh Analisis Lengkap
Perhatikan:
Sesungguhnya mereka telah menulis kitab mereka.
إِنَّ
Huruf nasikh.
هُمْ pertama
كَتَبُوا
كَتَبَ = fi‘il madhi.
واو الجماعة:
كِتَابَ
Maf‘ul bih manshub dan sekaligus mudhaf.
هُمْ kedua
13. Contoh Lebih Lengkap
Sesungguhnya kami membaca kitab kami di rumah kami.
إِنَّنَا
نَا:
نَقْرَأُ
Fa‘ilnya:
كِتَابَنَا
كِتَابَ = maf‘ul bih manshub dan mudhaf.
نَا:
فِي بَيْتِنَا
بَيْتِ = isim majrur dan mudhaf.
نَا:
14. Cara Cepat Meng-i‘rab Dhamir
Langkah 1 — Tentukan jenis dhamir.
Munfashil, muttashil, atau mustatir?
Langkah 2 — Lihat dhamir menempel pada apa.
Fi‘il, isim, huruf jar, atau إنَّ dan saudaranya?
Langkah 3 — Tentukan fungsi Nahwunya.
Mubtada, fa‘il, maf‘ul bih, isim inna, mudhaf ilaih, dan seterusnya.
Langkah 4 — Baru tentukan mahal i‘rabnya.
رفع، نصب، atau جر?
Langkah 5 — Susun i‘rab secara lengkap.
15. Pola I‘rab yang Bisa Langsung Dipakai
| Contoh | I‘rab Dhamir |
|---|---|
| هُوَ طَالِبٌ | ضمير منفصل مبني في محل رفع مبتدأ |
| كَتَبْتُ | التاء ضمير متصل مبني في محل رفع فاعل |
| أُكْرِمْتُ | التاء ضمير متصل مبني في محل رفع نائب فاعل |
| كُنْتُ طَالِبًا | التاء ضمير متصل مبني في محل رفع اسم كان |
| رَأَيْتُهُ | الهاء ضمير متصل مبني في محل نصب مفعول به |
| إِنَّهُ | الهاء ضمير متصل مبني في محل نصب اسم إن |
| بِهِ | الهاء ضمير متصل مبني في محل جر بالباء |
| كِتَابُهُ | الهاء ضمير متصل مبني في محل جر مضاف إليه |
16. Lima Pertanyaan Pemeriksa Dhamir
1. Dhamir ini terlihat atau tersembunyi?
2. Jika menempel, ia menempel pada fi‘il, isim, atau huruf?
3. Jika menempel pada fi‘il, apakah ia pelaku atau objek?
4. Jika menempel pada isim, apakah ia menjadi mudhaf ilaih?
5. Jika menempel pada huruf jar atau إنَّ, apa mahal i‘rabnya?
Kesimpulan
Kunci memahami i‘rab dhamir bukan menghafal bahwa هُوَ, نَا, ـهُ, ـكَ selalu mempunyai satu kedudukan tertentu.
Kaidah pokoknya adalah:
Semua dhamir adalah mabni.
Namun dhamir dapat menempati kedudukan yang berbeda sesuai fungsinya:
فِي مَحَلِّ نَصْبٍ
فِي مَحَلِّ جَرٍّ
Perhatikan tiga contoh:
رَأَيْتُهُ
مَرَرْتُ بِهِ
Pada contoh pertama, dhamir berada pada محل رفع. Pada contoh kedua, محل نصب. Pada contoh ketiga, محل جر.
Karena itu, ketika menjumpai dhamir dalam kitab gundul, jangan mulai dari pertanyaan:
“Harakat dhamir ini apa?”
Mulailah dari:
“Apa fungsi dhamir ini di dalam kalimat?”
Jika fungsinya sudah diketahui, kedudukan i‘rabnya akan jauh lebih mudah ditentukan.
Komentar
Posting Komentar