Mubtada’ dalam Ilmu Nahwu: Pengertian, Jenis, Hukum I‘rab, dan Cara Menentukannya
Mubtada’ merupakan salah satu unsur paling penting dalam ilmu nahwu. Namun, mubtada’ tidak cukup dipahami hanya sebagai “isim yang terletak pada awal kalimat”. Dalam praktiknya, mubtada’ dapat berada setelah khabar, berbentuk isim nakirah, berupa dhamir, isim isyarah, isim maushul, bahkan berupa susunan yang ditakwil menjadi isim.
Artikel ini membahas mubtada’ secara bertahap, mulai dari pengertian dasar sampai beberapa persoalan lanjutan. Tujuannya agar pembaca bukan hanya mampu menghafal kaidah, tetapi juga dapat menemukan dan mengi‘rab mubtada’ ketika membaca teks Arab, termasuk teks tanpa harakat.
- Pengertian mubtada’
- Hubungan mubtada’ dan jumlah ismiyyah
- Hukum dan tanda i‘rab mubtada’
- Mubtada’ ma‘rifah dan nakirah
- Bentuk-bentuk mubtada’
- Pola hubungan mubtada’ dan khabar
- Mubtada’ muqaddam dan mu’akhkhar
- Penghapusan mubtada’ atau khabar
- Perbedaan mubtada’ dengan kedudukan lain
- Cara praktis menentukan mubtada’
- Latihan dan pembahasan
1. Pengertian Mubtada’
Materi dasarKata mubtada’ berasal dari kata Arab ibtada’a yang berarti memulai. Dalam pelajaran dasar nahwu, mubtada’ dapat dipahami sebagai isim marfū‘ yang menjadi sesuatu yang diterangkan.
Artinya: “Mubtada’ adalah isim marfū‘ yang menjadi sesuatu yang diberi informasi.”
Perhatikan contoh berikut:
Siswa itu rajin.
Kata الطَّالِبُ adalah mubtada’ karena menjadi pihak yang sedang dibicarakan. Kata مُجْتَهِدٌ adalah khabar karena memberikan informasi tentang siswa tersebut.
Mubtada’ + khabar = jumlah ismiyyah
Definisi yang lebih lengkap dapat dirumuskan sebagai berikut:
Mubtada’ adalah isim yang tidak dimasuki ‘āmil lafẓī yang bukan tambahan dan menjadi sesuatu yang diberi informasi; atau berupa sifat yang mengangkat isim sesudahnya sehingga isim tersebut mencukupi kedudukan khabar.
Bagian kedua definisi ini berkaitan dengan mubtada’ berupa sifat musytaq. Pembahasannya ditempatkan pada bagian lanjutan agar tidak membingungkan pembaca pemula.
2. Mubtada’ dan Jumlah Ismiyyah
Jumlah ismiyyah adalah jumlah yang hubungan pokoknya dibangun oleh mubtada’ dan khabar. Mubtada’ menjadi musnad ilaih, yaitu pihak yang dikenai penyandaran informasi, sedangkan khabar menjadi musnad, yaitu informasi yang disandarkan kepadanya.
Contoh:
Ilmu itu bermanfaat.
| Kata | Kedudukan | Penjelasan |
|---|---|---|
| الْعِلْمُ | Mubtada’ | Sesuatu yang sedang diberi informasi |
| نَافِعٌ | Khabar | Informasi yang disampaikan tentang ilmu |
I‘rab lengkapnya:
Jumlah ismiyyah tidak harus selalu dimulai secara tertulis dengan mubtada’. Dalam susunan tertentu, khabar dapat ditempatkan sebelum mubtada’, seperti:
Susunan tersebut tetap dianalisis sebagai jumlah ismiyyah karena poros isnād-nya adalah khabar فِي الْفَصْلِ dan mubtada’ طَالِبٌ.
3. Hukum dan Tanda I‘rab Mubtada’
Hukum i‘rab mubtada’ adalah marfū‘ (مَرْفُوعٌ). Akan tetapi, tanda rafa‘nya tidak selalu berupa dhammah. Tanda rafa‘ mubtada’ ditentukan oleh bentuk isim yang berkedudukan sebagai mubtada’.
Mubtada’ berkedudukan marfū‘, sedangkan tanda rafa‘nya berbeda-beda sesuai dengan jenis isimnya.
| Bentuk Isim | Tanda Rafa‘ | Contoh | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Isim mufrad الِاسْمُ الْمُفْرَدُ |
Dhammah yang tampak الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ |
الطَّالِبُ حَاضِرٌ | Dirafa‘kan dengan dhammah yang tampak pada akhir kata. |
| Jamak taksir جَمْعُ التَّكْسِيرِ |
Dhammah yang tampak الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ |
الطُّلَّابُ حَاضِرُونَ | Dirafa‘kan dengan dhammah yang tampak pada akhir kata. |
| Jamak muannats sālim جَمْعُ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمِ |
Dhammah yang tampak الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ |
الطَّالِبَاتُ مُجْتَهِدَاتٌ | Dirafa‘kan dengan dhammah yang tampak pada akhir kata. |
| Isim tatsniyah الْمُثَنَّى |
Alif sebagai pengganti dhammah الْأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ |
الطَّالِبَانِ حَاضِرَانِ | Dirafa‘kan dengan alif karena berbentuk tatsniyah. |
| Jamak mudzakkar sālim جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمِ |
Wāwu sebagai pengganti dhammah الْوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ |
الْمُعَلِّمُونَ مُخْلِصُونَ | Dirafa‘kan dengan wāwu karena berbentuk jamak mudzakkar sālim. |
| Al-asmā’ al-khamsah الْأَسْمَاءُ الْخَمْسَةُ |
Wāwu sebagai pengganti dhammah الْوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ |
أَبُوكَ كَرِيمٌ | Dirafa‘kan dengan wāwu karena termasuk al-asmā’ al-khamsah. |
| Isim maqṣūr الِاسْمُ الْمَقْصُورُ |
Dhammah yang diperkirakan الضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ |
مُوسَى نَبِيٌّ | Dhammah tidak tampak karena ketidakmungkinan: التَّعَذُّرُ. |
| Isim manqūṣ الِاسْمُ الْمَنْقُوصُ |
Dhammah yang diperkirakan الضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ |
الْقَاضِي عَادِلٌ | Dhammah tidak tampak karena berat dilafalkan: الثِّقَلُ. |
A. Rafa‘ dengan Dhammah — الرَّفْعُ بِالضَّمَّةِ
Dhammah merupakan tanda asli rafa‘ (عَلَامَةُ الرَّفْعِ الْأَصْلِيَّةُ). Dhammah menjadi tanda rafa‘ pada isim mufrad, jamak taksir, dan jamak muannats sālim.
Siswa itu hadir.
Para siswa itu hadir.
Para siswi itu rajin.
B. Rafa‘ dengan Alif — الرَّفْعُ بِالْأَلِفِ
Alif menjadi tanda cabang rafa‘ (عَلَامَةُ الرَّفْعِ الْفَرْعِيَّةُ) pada isim tatsniyah.
Dua siswa itu hadir.
C. Rafa‘ dengan Wāwu — الرَّفْعُ بِالْوَاوِ
Wāwu menjadi tanda cabang rafa‘ pada jamak mudzakkar sālim dan al-asmā’ al-khamsah.
Para guru itu ikhlas.
Ayahmu mulia.
D. Rafa‘ dengan Dhammah yang Diperkirakan — الرَّفْعُ بِالضَّمَّةِ الْمُقَدَّرَةِ
Pada beberapa isim, kedudukan rafa‘ tetap ada, tetapi dhammah tidak tampak pada akhir kata. Dhammah tersebut disebut الضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ.
1. Isim maqṣūr — الِاسْمُ الْمَقْصُورُ
Musa adalah seorang nabi.
Dhammah tidak dapat ditampakkan pada alif maqṣūrah. Keadaan ini disebut التَّعَذُّرُ, yaitu ketidakmungkinan melafalkan harakat pada alif.
2. Isim manqūṣ — الِاسْمُ الْمَنْقُوصُ
Hakim itu adil.
Dhammah tidak ditampakkan pada huruf yā’ karena berat dalam pengucapan. Keadaan ini disebut الثِّقَلُ.
Perbedaan yang harus diingat:
| Jenis Isim | Tanda Rafa‘ | Sebab | Istilah Arab |
|---|---|---|---|
| Isim maqṣūr | Dhammah diperkirakan pada alif maqṣūrah | Tidak mungkin ditampakkan | التَّعَذُّرُ |
| Isim manqūṣ | Dhammah diperkirakan pada huruf yā’ | Berat dilafalkan | الثِّقَلُ |
Ringkasan Tanda Rafa‘ Mubtada’
Dhammah digunakan pada isim mufrad, jamak taksir, dan jamak muannats sālim. Alif digunakan pada isim tatsniyah. Wāwu digunakan pada jamak mudzakkar sālim dan al-asmā’ al-khamsah.
Mengapa mubtada’ dibaca rafa‘?
Menurut pendapat yang umum digunakan dalam pembelajaran nahwu, mubtada’ dirafa‘kan oleh al-ibtidā’, yaitu ‘āmil maknawi. Disebut maknawi karena tidak berupa kata yang tampak dalam kalimat.
Terdapat perbedaan penjelasan di kalangan ahli nahwu tentang ‘āmil yang merafa‘kan mubtada’ dan khabar. Namun, perbedaan tersebut tidak mengubah penerapan dasarnya: mubtada’ tetap berkedudukan rafa‘.
4. Mubtada’ Ma‘rifah dan Nakirah
A. Hukum asal mubtada’ adalah ma‘rifah
Pada asalnya, mubtada’ berupa isim ma‘rifah karena sesuatu yang akan diberi informasi seharusnya telah dikenal atau dapat ditentukan oleh pendengar.
| Bentuk Ma‘rifah | Contoh | Arti |
|---|---|---|
| Isim ‘alam | مُحَمَّدٌ مُجْتَهِدٌ | Muhammad rajin |
| Dhamir | أَنَا طَالِبٌ | Saya seorang pelajar |
| Isim isyarah | هَذَا كِتَابٌ | Ini sebuah buku |
| Isim maushul | الَّذِي جَاءَ أَخِي | Orang yang datang itu saudaraku |
| Isim dengan ال | الْعِلْمُ نُورٌ | Ilmu adalah cahaya |
| Mudhaf kepada ma‘rifah | كِتَابُ الطَّالِبِ جَدِيدٌ | Buku siswa itu baru |
B. Kapan isim nakirah dapat menjadi mubtada’?
Isim nakirah dapat menjadi mubtada’ apabila susunannya menghasilkan informasi yang bermanfaat. Alasan yang membolehkan isim nakirah menjadi mubtada’ disebut:
| Alasan Pembolehan | Contoh | Penjelasan |
|---|---|---|
| Khabar didahulukan | فِي الْفَصْلِ طَالِبٌ | Di dalam kelas terdapat seorang siswa |
| Mubtada’ diberi sifat | طَالِبٌ مُجْتَهِدٌ حَاضِرٌ | Seorang siswa yang rajin hadir |
| Didahului pertanyaan | أَطَالِبٌ فِي الْفَصْلِ؟ | Apakah ada seorang siswa di kelas? |
| Didahului penafian | مَا أَحَدٌ فِي الْبَيْتِ | Tidak ada seorang pun di rumah |
| Mengandung doa | سَلَامٌ عَلَيْكُمْ | Semoga keselamatan tercurah kepada kalian |
| Menunjukkan pembagian | طَالِبٌ مُجْتَهِدٌ وَطَالِبٌ كَسْلَانُ | Ada siswa yang rajin dan ada yang malas |
Tidak setiap isim nakirah dapat langsung dijadikan mubtada’. Ukuran pentingnya adalah adanya faedah yang jelas. Demikian pula, tidak setiap isim nakirah setelah jar-majrur otomatis menjadi mubtada’. Hubungan makna dan kesempurnaan informasi tetap harus diperiksa.
5. Bentuk-Bentuk Mubtada’
A. Berupa isim zhahir
Al-Qur’an adalah petunjuk.
Kata الْقُرْآنُ merupakan isim zhahir yang berkedudukan sebagai mubtada’.
B. Berupa dhamir munfashil
Saya seorang pelajar.
Dhamir tersebut bersifat mabnī sehingga bentuk akhirnya tidak berubah, tetapi kedudukannya berada pada posisi rafa‘ sebagai mubtada’.
C. Berupa isim isyarah
Ini sebuah buku.
Kata هَذَا adalah isim isyarah mabnī yang berada pada posisi rafa‘ sebagai mubtada’.
D. Berupa isim maushul
Orang yang sedang membaca itu adalah saudaraku.
Kata الَّذِي menjadi mubtada’, sedangkan jumlah يَقْرَأُ menjadi ṣilah al-maushūl.
E. Berupa mashdar mu’awwal
Bersikap jujur lebih baik bagimu.
Susunan أَنْ تَصْدُقَ dapat ditakwil menjadi:
Dengan demikian, أَنْ تَصْدُقَ merupakan mashdar mu’awwal yang berada pada posisi rafa‘ sebagai mubtada’.
6. Pola Hubungan Mubtada’ dan Khabar
Untuk menemukan mubtada’, pembaca juga perlu mengenali bentuk khabarnya. Khabar tidak selalu berupa satu kata, tetapi dapat berupa jumlah atau syibhul jumlah.
| Pola | Contoh | Analisis Ringkas |
|---|---|---|
| Mubtada’ + khabar mufrad | الْعِلْمُ نَافِعٌ | Khabar berupa satu unsur, bukan berupa jumlah atau syibhul jumlah |
| Mubtada’ + jumlah fi‘liyyah | الطَّالِبُ يَقْرَأُ | Jumlah fi‘liyyah يَقْرَأُ menjadi khabar |
| Mubtada’ + jumlah ismiyyah | الطَّالِبُ أَخْلَاقُهُ حَسَنَةٌ | Jumlah أَخْلَاقُهُ حَسَنَةٌ menjadi khabar |
| Mubtada’ + jar-majrur | الطَّالِبُ فِي الْفَصْلِ | Jar-majrur berkaitan dengan khabar yang diperkirakan |
| Mubtada’ + zharaf | الْكِتَابُ فَوْقَ الْمَكْتَبِ | Zharaf berkaitan dengan khabar yang diperkirakan |
| Khabar + mubtada’ | فِي الْفَصْلِ طَالِبٌ | Khabar didahulukan dan mubtada’ diakhirkan |
Rābiṭ pada khabar berbentuk jumlah
Apabila khabar berupa jumlah, biasanya terdapat unsur yang menghubungkannya dengan mubtada’. Penghubung tersebut dinamakan rābiṭ.
Siswa itu akhlaknya baik.
- الطَّالِبُ: mubtada’ pertama.
- أَخْلَاقُهُ: mubtada’ kedua.
- حَسَنَةٌ: khabar mubtada’ kedua.
- Jumlah أَخْلَاقُهُ حَسَنَةٌ: khabar mubtada’ pertama.
- Dhamir هُ: rābiṭ yang kembali kepada mubtada’ pertama.
7. Mubtada’ Muqaddam dan Mubtada’ Mu’akhkhar
A. Mubtada’ didahulukan
- الطَّالِبُ: mubtada’ muqaddam.
- فِي الْفَصْلِ: khabar mu’akhkhar.
B. Mubtada’ diakhirkan
- فِي الْفَصْلِ: khabar muqaddam.
- طَالِبٌ: mubtada’ mu’akhkhar.
C. Keadaan khabar wajib didahulukan
Khabar wajib didahulukan antara lain dalam keadaan berikut:
-
Khabar mengandung kata yang mempunyai hak berada di awal kalimat.
أَيْنَ كِتَابُكَ؟Kata أَيْنَ menjadi khabar muqaddam, sedangkan كِتَابُكَ menjadi mubtada’ mu’akhkhar.
-
Mubtada’ berupa nakirah yang belum mempunyai alasan pembolehan selain pendahuluan khabar.
فِي الْبَيْتِ رَجُلٌ -
Pada mubtada’ terdapat dhamir yang kembali kepada bagian dari khabar.
فِي الدَّارِ صَاحِبُهَا -
Susunan mengandung pembatasan.
مَا فِي الْبَيْتِ إِلَّا زَيْدٌArtinya: “Tidak ada di dalam rumah selain Zaid.” Frasa فِي الْبَيْتِ menjadi khabar muqaddam dan زَيْدٌ menjadi mubtada’ mu’akhkhar.
8. Kesesuaian Mubtada’ dan Khabar
Apabila khabar berupa sifat yang menerangkan mubtada’, biasanya terdapat kesesuaian dalam jenis dan jumlah.
| Mubtada’ | Khabar | Arti |
|---|---|---|
| الطَّالِبُ | مُجْتَهِدٌ | Siswa itu rajin |
| الطَّالِبَةُ | مُجْتَهِدَةٌ | Siswi itu rajin |
| الطَّالِبَانِ | مُجْتَهِدَانِ | Dua siswa itu rajin |
| الطَّالِبُونَ | مُجْتَهِدُونَ | Para siswa itu rajin |
| الطَّالِبَاتُ | مُجْتَهِدَاتٌ | Para siswi itu rajin |
Jamak benda yang tidak berakal biasanya diperlakukan seperti mufrad muannats.
Artinya: “Pohon-pohon itu besar.” Karena الْأَشْجَارُ merupakan jamak benda tidak berakal, khabarnya berbentuk mufrad muannats: كَبِيرَةٌ.
9. Penghapusan Mubtada’ atau Khabar
A. Khabar yang dibuang
Khabar dapat dibuang apabila telah diketahui atau diwajibkan oleh kaidah tertentu.
Seandainya tidak ada air, niscaya manusia binasa.
Kata الْمَاءُ menjadi mubtada’. Khabarnya dibuang dengan perkiraan مَوْجُودٌ.
Contoh berdasarkan jawaban:
Kata مُحَمَّدٌ menjadi mubtada’ dan khabarnya dibuang karena telah dipahami. Perkiraan lengkapnya:
B. Mubtada’ yang dibuang
Pertanyaan:
Jawaban:
Susunan lengkap yang diperkirakan adalah:
Mubtada’ هَذَا dibuang dalam jawaban karena telah diketahui dari pertanyaan.
10. Mubtada’ Berupa Sifat yang Beramal seperti Fi‘il
Bagian ini dapat dilewati sementara oleh pembaca yang baru mulai belajar nahwu.
Mubtada’ dapat berupa sifat musytaq, seperti isim fā‘il, yang bekerja seperti fi‘ilnya. Sifat tersebut dapat mengangkat isim sesudahnya sehingga isim itu mencukupi kedudukan khabar.
Apakah dua orang yang bernama Zaid sedang berdiri?
- أَ: hamzah istifham.
- قَائِمٌ: mubtada’ berupa isim fā‘il.
- الزَّيْدَانِ: fā‘il bagi isim fā‘il.
- Fā‘il tersebut mencukupi kedudukan khabar atau سَدَّ مَسَدَّ الْخَبَرِ.
Contoh dengan penafian:
Dua siswa itu tidak hadir.
Pada pola ini, sifat yang beramal biasanya bersandar pada penafian atau pertanyaan. Pembahasannya termasuk nahwu tingkat menengah-lanjut.
11. Perbedaan Mubtada’ dengan Kedudukan Lain
A. Mubtada’ dan fa‘il
| Pembeda | Mubtada’ | Fa‘il |
|---|---|---|
| Struktur utama | Berhubungan dengan khabar | Berhubungan dengan fi‘il atau yang bekerja seperti fi‘il |
| Fungsi | Sesuatu yang diberi informasi | Pelaku suatu perbuatan |
| Contoh | زَيْدٌ قَائِمٌ | قَامَ زَيْدٌ |
Bandingkan dua kalimat berikut:
Kata زَيْدٌ adalah mubtada’. Jumlah يَكْتُبُ menjadi khabar. Fa‘il dari يَكْتُبُ adalah dhamir tersembunyi هُوَ yang kembali kepada Zaid.
Pada susunan kedua, زَيْدٌ adalah fa‘il karena berada setelah fi‘il يَكْتُبُ.
B. Mubtada’, isim kāna, dan isim inna
| Susunan | Kedudukan الطَّالِب | Hukum I‘rab |
|---|---|---|
| الطَّالِبُ مُجْتَهِدٌ | Mubtada’ | Marfū‘ |
| كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا | Isim kāna | Marfū‘ |
| إِنَّ الطَّالِبَ مُجْتَهِدٌ | Isim inna | Manṣūb |
Kehadiran كَانَ atau إِنَّ mengubah kedudukan nahwu unsur-unsur dalam jumlah ismiyyah.
C. Tidak setiap isim di awal kalimat menjadi mubtada’
Kata الطَّالِبَ bukan mubtada’, melainkan isim inna.
Kata زَيْدًا bukan mubtada’, melainkan maf‘ul bih yang didahulukan.
Kata الطَّالِبِ bukan mubtada’, tetapi mudhaf ilaih. Mubtada’nya adalah كِتَابُ beserta susunan idhafahnya.
12. Contoh Mubtada’ dalam Al-Qur’an
A. Mubtada’ berupa isim isyarah
“Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia.” (QS. Āli ‘Imrān: 138)
- هَٰذَا: mubtada’.
- بَيَانٌ: khabar.
B. Mubtada’ berupa dhamir
“Dialah Allah Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlāṣ: 1)
Pada salah satu analisis yang masyhur, هُوَ berkedudukan sebagai mubtada’, sedangkan susunan sesudahnya memberikan informasi tentangnya.
C. Mubtada’ nakirah dalam ungkapan doa keselamatan
“Kepada mereka dikatakan: ‘Salam,’ sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Yāsīn: 58)
Analisis ayat Al-Qur’an dapat memiliki rincian dan perbedaan pandangan. Contoh-contoh ini digunakan untuk menunjukkan penerapan dasar kaidah, bukan untuk menutup kemungkinan analisis i‘rab lainnya.
13. Cara Praktis Menentukan Mubtada’
-
Tentukan apakah kata yang diperiksa merupakan isim.
-
Periksa apakah terdapat ‘āmil sebelumnya, seperti fi‘il, huruf jar, إِنَّ, atau كَانَ.
-
Tanyakan: “Siapa atau apa yang sedang diberi informasi?”
-
Cari informasi yang disampaikan tentang isim tersebut.
-
Periksa apakah isim itu berstatus rafa‘ atau berada pada posisi rafa‘.
-
Periksa kemungkinan khabar didahulukan, terutama jika kalimat diawali jar-majrur, zharaf, atau kata tanya.
-
Jika khabar berupa jumlah, cari rābiṭ yang menghubungkannya dengan mubtada’.
Rumus pemeriksaan praktis:
Isim + tidak dikuasai ‘āmil lain + menjadi pihak yang diberi informasi + berkedudukan rafa‘ = kemungkinan besar mubtada’.
14. Kesalahan yang Sering Terjadi
-
Menganggap kata pertama selalu menjadi mubtada’.
-
Menganggap setiap isim marfū‘ pasti menjadi mubtada’.
-
Menganggap mubtada’ harus selalu berupa isim zhahir.
-
Menolak semua isim nakirah sebagai mubtada’.
-
Menentukan kedudukan kata hanya berdasarkan arti terjemahannya.
-
Tidak memeriksa keberadaan khabar muqaddam.
-
Tidak mencari rābiṭ ketika khabar berbentuk jumlah.
-
Mengandalkan harakat tanpa memahami hubungan antarkata.
15. Latihan Menentukan Mubtada’
Tentukan mubtada’ dan khabar pada kalimat berikut:
- الْعِلْمُ نُورٌ
- فِي الْحَدِيقَةِ أَشْجَارٌ
- أَنَا مُسْلِمٌ
- الطَّالِبَانِ حَاضِرَانِ
- عِنْدَكَ ضَيْفٌ
- الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
- أَنْ تَتَعَلَّمَ خَيْرٌ لَكَ
- الطَّالِبُ كِتَابُهُ جَدِيدٌ
- أَيْنَ مَدْرَسَتُكَ؟
- كَانَ الْجَوُّ جَمِيلًا
Jawaban dan pembahasan
| No. | Mubtada’ | Khabar | Pembahasan |
|---|---|---|---|
| 1 | الْعِلْمُ | نُورٌ | Keduanya marfū‘ dengan dhammah |
| 2 | أَشْجَارٌ | فِي الْحَدِيقَةِ | Mubtada’ mu’akhkhar dan khabar muqaddam |
| 3 | أَنَا | مُسْلِمٌ | Dhamir mabnī pada posisi rafa‘ sebagai mubtada’ |
| 4 | الطَّالِبَانِ | حَاضِرَانِ | Keduanya dirafa‘kan dengan alif karena berbentuk tatsniyah |
| 5 | ضَيْفٌ | عِنْدَكَ | Mubtada’ mu’akhkhar dan khabar muqaddam |
| 6 | الْمُؤْمِنُونَ | إِخْوَةٌ | Mubtada’ dirafa‘kan dengan wāwu karena jamak mudzakkar sālim |
| 7 | أَنْ تَتَعَلَّمَ | خَيْرٌ | Mashdar mu’awwal berada pada posisi rafa‘ sebagai mubtada’ |
| 8 | الطَّالِبُ | كِتَابُهُ جَدِيدٌ | Khabar berupa jumlah ismiyyah dan memiliki rābiṭ berupa dhamir هُ |
| 9 | مَدْرَسَتُكَ | أَيْنَ | Kata tanya menjadi khabar muqaddam dan mubtada’ diakhirkan |
| 10 | Tidak ada mubtada’ secara istilah | Tidak ada khabar mubtada’ | الْجَوُّ adalah isim kāna dan جَمِيلًا adalah khabar kāna |
16. Ringkasan Kaidah Mubtada’
| Kaidah | Penjelasan |
|---|---|
| Mubtada’ adalah isim | Dapat berupa isim zhahir, dhamir, isim isyarah, isim maushul, atau mashdar mu’awwal |
| Mubtada’ berstatus marfū‘ | Tanda rafa‘nya dapat berupa dhammah, alif, wāwu, atau tanda yang diperkirakan |
| Mubtada’ diberi informasi | Informasi yang disampaikan tentang mubtada’ disebut khabar |
| Asalnya berupa ma‘rifah | Nakirah dapat menjadi mubtada’ apabila menghasilkan faedah yang jelas |
| Asalnya didahulukan | Dalam keadaan tertentu mubtada’ dapat atau wajib diakhirkan |
| Tidak selalu menjadi kata pertama | Khabar dapat ditempatkan sebelum mubtada’ |
| Tidak semua isim marfū‘ adalah mubtada’ | Isim marfū‘ juga dapat menjadi fa‘il, nā’ib al-fā‘il, isim kāna, na‘at, badal, dan kedudukan lainnya |
| Mubtada’ atau khabar dapat dibuang | Penghapusan diperbolehkan apabila maknanya diketahui dari konteks |
17. Penutup
Mubtada’ bukan sekadar isim yang berada pada awal kalimat. Mubtada’ adalah isim yang menjadi pusat pemberitaan dalam jumlah ismiyyah dan pada dasarnya berkedudukan rafa‘.
Untuk menentukan mubtada’ dengan tepat, pembaca harus memadukan empat kemampuan: mengenali jenis kata, memahami ‘āmil, membaca tanda i‘rab, dan menemukan hubungan makna antara unsur yang diberi informasi dengan informasi yang disampaikan.
Apabila empat kemampuan tersebut terus dilatih, pembaca tidak lagi menentukan mubtada’ hanya berdasarkan posisi kata, tetapi berdasarkan struktur kalimat secara utuh. Inilah salah satu fondasi penting untuk membaca dan memahami kitab Arab tanpa harakat.
Daftar Referensi
- Ibnu Ājurrūm, Al-Muqaddimah al-Ājurrūmiyyah.
- Ibnu Hisyām al-Anṣārī, Qaṭr al-Nadā wa Ball al-Ṣadā.
- Ibnu ‘Aqīl, Syarḥ Ibn ‘Aqīl ‘alā Alfiyyah Ibn Mālik.
- Muṣṭafā al-Ghalāyainī, Jāmi‘ al-Durūs al-‘Arabiyyah.
- ‘Abbās Ḥasan, Al-Naḥw al-Wāfī.
- Fu’ād Ni‘mah, Mulakhkhaṣ Qawā‘id al-Lughah al-‘Arabiyyah.
Catatan: Penjelasan disusun untuk tujuan pembelajaran bertahap. Pada beberapa contoh, khususnya ayat Al-Qur’an dan susunan tingkat lanjut, dapat ditemukan rincian atau perbedaan analisis dalam kitab-kitab i‘rab dan nahwu.
Komentar
Posting Komentar