Langsung ke konten utama

Mubtada’ dalam Ilmu Nahwu: Pengertian, Jenis, Hukum I‘rab, dan Cara Menentukannya

 

Mubtada’ dalam Ilmu Nahwu: Pengertian, Jenis, Hukum I‘rab, dan Cara Menentukannya

Mubtada’ merupakan salah satu unsur paling penting dalam ilmu nahwu. Namun, mubtada’ tidak cukup dipahami hanya sebagai “isim yang terletak pada awal kalimat”. Dalam praktiknya, mubtada’ dapat berada setelah khabar, berbentuk isim nakirah, berupa dhamir, isim isyarah, isim maushul, bahkan berupa susunan yang ditakwil menjadi isim.

Artikel ini membahas mubtada’ secara bertahap, mulai dari pengertian dasar sampai beberapa persoalan lanjutan. Tujuannya agar pembaca bukan hanya mampu menghafal kaidah, tetapi juga dapat menemukan dan mengi‘rab mubtada’ ketika membaca teks Arab, termasuk teks tanpa harakat.

1. Pengertian Mubtada’

Materi dasar

Kata mubtada’ berasal dari kata Arab ibtada’a yang berarti memulai. Dalam pelajaran dasar nahwu, mubtada’ dapat dipahami sebagai isim marfū‘ yang menjadi sesuatu yang diterangkan.

الْمُبْتَدَأُ هُوَ الِاسْمُ الْمَرْفُوعُ الْمُخْبَرُ عَنْهُ

Artinya: “Mubtada’ adalah isim marfū‘ yang menjadi sesuatu yang diberi informasi.”

Perhatikan contoh berikut:

الطَّالِبُ مُجْتَهِدٌ

Siswa itu rajin.

Kata الطَّالِبُ adalah mubtada’ karena menjadi pihak yang sedang dibicarakan. Kata مُجْتَهِدٌ adalah khabar karena memberikan informasi tentang siswa tersebut.

مُبْتَدَأٌ + خَبَرٌ = جُمْلَةٌ اِسْمِيَّةٌ

Mubtada’ + khabar = jumlah ismiyyah

Catatan lanjutan

Definisi yang lebih lengkap dapat dirumuskan sebagai berikut:

الْمُبْتَدَأُ اسْمٌ مُجَرَّدٌ عَنِ الْعَوَامِلِ اللَّفْظِيَّةِ غَيْرِ الزَّائِدَةِ، مُخْبَرٌ عَنْهُ، أَوْ وَصْفٌ رَافِعٌ لِمُكْتَفًى بِهِ عَنِ الْخَبَرِ

Mubtada’ adalah isim yang tidak dimasuki ‘āmil lafẓī yang bukan tambahan dan menjadi sesuatu yang diberi informasi; atau berupa sifat yang mengangkat isim sesudahnya sehingga isim tersebut mencukupi kedudukan khabar.

Bagian kedua definisi ini berkaitan dengan mubtada’ berupa sifat musytaq. Pembahasannya ditempatkan pada bagian lanjutan agar tidak membingungkan pembaca pemula.

2. Mubtada’ dan Jumlah Ismiyyah

Jumlah ismiyyah adalah jumlah yang hubungan pokoknya dibangun oleh mubtada’ dan khabar. Mubtada’ menjadi musnad ilaih, yaitu pihak yang dikenai penyandaran informasi, sedangkan khabar menjadi musnad, yaitu informasi yang disandarkan kepadanya.

Contoh:

الْعِلْمُ نَافِعٌ

Ilmu itu bermanfaat.

Kata Kedudukan Penjelasan
الْعِلْمُ Mubtada’ Sesuatu yang sedang diberi informasi
نَافِعٌ Khabar Informasi yang disampaikan tentang ilmu

I‘rab lengkapnya:

الْعِلْمُ: مُبْتَدَأٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ
نَافِعٌ: خَبَرٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ

Jumlah ismiyyah tidak harus selalu dimulai secara tertulis dengan mubtada’. Dalam susunan tertentu, khabar dapat ditempatkan sebelum mubtada’, seperti:

فِي الْفَصْلِ طَالِبٌ

Susunan tersebut tetap dianalisis sebagai jumlah ismiyyah karena poros isnād-nya adalah khabar فِي الْفَصْلِ dan mubtada’ طَالِبٌ.

3. Hukum dan Tanda I‘rab Mubtada’

Hukum i‘rab mubtada’ adalah marfū‘ (مَرْفُوعٌ). Akan tetapi, tanda rafa‘nya tidak selalu berupa dhammah. Tanda rafa‘ mubtada’ ditentukan oleh bentuk isim yang berkedudukan sebagai mubtada’.

الْمُبْتَدَأُ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ تَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ نَوْعِ الِاسْمِ

Mubtada’ berkedudukan marfū‘, sedangkan tanda rafa‘nya berbeda-beda sesuai dengan jenis isimnya.

Bentuk Isim Tanda Rafa‘ Contoh Keterangan
Isim mufrad
الِاسْمُ الْمُفْرَدُ
Dhammah yang tampak
الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ
الطَّالِبُ حَاضِرٌ Dirafa‘kan dengan dhammah yang tampak pada akhir kata.
Jamak taksir
جَمْعُ التَّكْسِيرِ
Dhammah yang tampak
الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ
الطُّلَّابُ حَاضِرُونَ Dirafa‘kan dengan dhammah yang tampak pada akhir kata.
Jamak muannats sālim
جَمْعُ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمِ
Dhammah yang tampak
الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ
الطَّالِبَاتُ مُجْتَهِدَاتٌ Dirafa‘kan dengan dhammah yang tampak pada akhir kata.
Isim tatsniyah
الْمُثَنَّى
Alif sebagai pengganti dhammah
الْأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ
الطَّالِبَانِ حَاضِرَانِ Dirafa‘kan dengan alif karena berbentuk tatsniyah.
Jamak mudzakkar sālim
جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمِ
Wāwu sebagai pengganti dhammah
الْوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ
الْمُعَلِّمُونَ مُخْلِصُونَ Dirafa‘kan dengan wāwu karena berbentuk jamak mudzakkar sālim.
Al-asmā’ al-khamsah
الْأَسْمَاءُ الْخَمْسَةُ
Wāwu sebagai pengganti dhammah
الْوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ
أَبُوكَ كَرِيمٌ Dirafa‘kan dengan wāwu karena termasuk al-asmā’ al-khamsah.
Isim maqṣūr
الِاسْمُ الْمَقْصُورُ
Dhammah yang diperkirakan
الضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ
مُوسَى نَبِيٌّ Dhammah tidak tampak karena ketidakmungkinan: التَّعَذُّرُ.
Isim manqūṣ
الِاسْمُ الْمَنْقُوصُ
Dhammah yang diperkirakan
الضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ
الْقَاضِي عَادِلٌ Dhammah tidak tampak karena berat dilafalkan: الثِّقَلُ.

A. Rafa‘ dengan Dhammah — الرَّفْعُ بِالضَّمَّةِ

Dhammah merupakan tanda asli rafa‘ (عَلَامَةُ الرَّفْعِ الْأَصْلِيَّةُ). Dhammah menjadi tanda rafa‘ pada isim mufrad, jamak taksir, dan jamak muannats sālim.

الطَّالِبُ حَاضِرٌ

Siswa itu hadir.

الطَّالِبُ: مُبْتَدَأٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ
الطُّلَّابُ حَاضِرُونَ

Para siswa itu hadir.

الطُّلَّابُ: مُبْتَدَأٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ
الطَّالِبَاتُ مُجْتَهِدَاتٌ

Para siswi itu rajin.

الطَّالِبَاتُ: مُبْتَدَأٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ

B. Rafa‘ dengan Alif — الرَّفْعُ بِالْأَلِفِ

Alif menjadi tanda cabang rafa‘ (عَلَامَةُ الرَّفْعِ الْفَرْعِيَّةُ) pada isim tatsniyah.

الطَّالِبَانِ حَاضِرَانِ

Dua siswa itu hadir.

الطَّالِبَانِ: مُبْتَدَأٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الْأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ مُثَنًّى

C. Rafa‘ dengan Wāwu — الرَّفْعُ بِالْوَاوِ

Wāwu menjadi tanda cabang rafa‘ pada jamak mudzakkar sālim dan al-asmā’ al-khamsah.

الْمُعَلِّمُونَ مُخْلِصُونَ

Para guru itu ikhlas.

الْمُعَلِّمُونَ: مُبْتَدَأٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الْوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ
أَبُوكَ كَرِيمٌ

Ayahmu mulia.

أَبُوكَ: مُبْتَدَأٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الْوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ

D. Rafa‘ dengan Dhammah yang Diperkirakan — الرَّفْعُ بِالضَّمَّةِ الْمُقَدَّرَةِ

Pada beberapa isim, kedudukan rafa‘ tetap ada, tetapi dhammah tidak tampak pada akhir kata. Dhammah tersebut disebut الضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ.

1. Isim maqṣūr — الِاسْمُ الْمَقْصُورُ

مُوسَى نَبِيٌّ

Musa adalah seorang nabi.

مُوسَى: مُبْتَدَأٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ عَلَى الْأَلِفِ الْمَقْصُورَةِ، مَنَعَ مِنْ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ

Dhammah tidak dapat ditampakkan pada alif maqṣūrah. Keadaan ini disebut التَّعَذُّرُ, yaitu ketidakmungkinan melafalkan harakat pada alif.

2. Isim manqūṣ — الِاسْمُ الْمَنْقُوصُ

الْقَاضِي عَادِلٌ

Hakim itu adil.

الْقَاضِي: مُبْتَدَأٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ عَلَى الْيَاءِ، مَنَعَ مِنْ ظُهُورِهَا الثِّقَلُ

Dhammah tidak ditampakkan pada huruf yā’ karena berat dalam pengucapan. Keadaan ini disebut الثِّقَلُ.

Perbedaan yang harus diingat:

Jenis Isim Tanda Rafa‘ Sebab Istilah Arab
Isim maqṣūr Dhammah diperkirakan pada alif maqṣūrah Tidak mungkin ditampakkan التَّعَذُّرُ
Isim manqūṣ Dhammah diperkirakan pada huruf yā’ Berat dilafalkan الثِّقَلُ

Ringkasan Tanda Rafa‘ Mubtada’

١. الضَّمَّةُ: فِي الِاسْمِ الْمُفْرَدِ، وَجَمْعِ التَّكْسِيرِ، وَجَمْعِ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمِ
٢. الْأَلِفُ: فِي الْمُثَنَّى
٣. الْوَاوُ: فِي جَمْعِ الْمُذَكَّرِ السَّالِمِ وَالْأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ

Dhammah digunakan pada isim mufrad, jamak taksir, dan jamak muannats sālim. Alif digunakan pada isim tatsniyah. Wāwu digunakan pada jamak mudzakkar sālim dan al-asmā’ al-khamsah.

Mengapa mubtada’ dibaca rafa‘?

Menurut pendapat yang umum digunakan dalam pembelajaran nahwu, mubtada’ dirafa‘kan oleh al-ibtidā’, yaitu ‘āmil maknawi. Disebut maknawi karena tidak berupa kata yang tampak dalam kalimat.

Terdapat perbedaan penjelasan di kalangan ahli nahwu tentang ‘āmil yang merafa‘kan mubtada’ dan khabar. Namun, perbedaan tersebut tidak mengubah penerapan dasarnya: mubtada’ tetap berkedudukan rafa‘.

4. Mubtada’ Ma‘rifah dan Nakirah

A. Hukum asal mubtada’ adalah ma‘rifah

Pada asalnya, mubtada’ berupa isim ma‘rifah karena sesuatu yang akan diberi informasi seharusnya telah dikenal atau dapat ditentukan oleh pendengar.

Bentuk Ma‘rifah Contoh Arti
Isim ‘alam مُحَمَّدٌ مُجْتَهِدٌ Muhammad rajin
Dhamir أَنَا طَالِبٌ Saya seorang pelajar
Isim isyarah هَذَا كِتَابٌ Ini sebuah buku
Isim maushul الَّذِي جَاءَ أَخِي Orang yang datang itu saudaraku
Isim dengan ال الْعِلْمُ نُورٌ Ilmu adalah cahaya
Mudhaf kepada ma‘rifah كِتَابُ الطَّالِبِ جَدِيدٌ Buku siswa itu baru

B. Kapan isim nakirah dapat menjadi mubtada’?

Isim nakirah dapat menjadi mubtada’ apabila susunannya menghasilkan informasi yang bermanfaat. Alasan yang membolehkan isim nakirah menjadi mubtada’ disebut:

مُسَوِّغَاتُ الِابْتِدَاءِ بِالنَّكِرَةِ
Alasan Pembolehan Contoh Penjelasan
Khabar didahulukan فِي الْفَصْلِ طَالِبٌ Di dalam kelas terdapat seorang siswa
Mubtada’ diberi sifat طَالِبٌ مُجْتَهِدٌ حَاضِرٌ Seorang siswa yang rajin hadir
Didahului pertanyaan أَطَالِبٌ فِي الْفَصْلِ؟ Apakah ada seorang siswa di kelas?
Didahului penafian مَا أَحَدٌ فِي الْبَيْتِ Tidak ada seorang pun di rumah
Mengandung doa سَلَامٌ عَلَيْكُمْ Semoga keselamatan tercurah kepada kalian
Menunjukkan pembagian طَالِبٌ مُجْتَهِدٌ وَطَالِبٌ كَسْلَانُ Ada siswa yang rajin dan ada yang malas

Tidak setiap isim nakirah dapat langsung dijadikan mubtada’. Ukuran pentingnya adalah adanya faedah yang jelas. Demikian pula, tidak setiap isim nakirah setelah jar-majrur otomatis menjadi mubtada’. Hubungan makna dan kesempurnaan informasi tetap harus diperiksa.

5. Bentuk-Bentuk Mubtada’

A. Berupa isim zhahir

الْقُرْآنُ هُدًى

Al-Qur’an adalah petunjuk.

Kata الْقُرْآنُ merupakan isim zhahir yang berkedudukan sebagai mubtada’.

B. Berupa dhamir munfashil

أَنَا طَالِبٌ

Saya seorang pelajar.

أَنَا: ضَمِيرٌ مُنْفَصِلٌ مَبْنِيٌّ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ مُبْتَدَأٌ

Dhamir tersebut bersifat mabnī sehingga bentuk akhirnya tidak berubah, tetapi kedudukannya berada pada posisi rafa‘ sebagai mubtada’.

C. Berupa isim isyarah

هَذَا كِتَابٌ

Ini sebuah buku.

Kata هَذَا adalah isim isyarah mabnī yang berada pada posisi rafa‘ sebagai mubtada’.

D. Berupa isim maushul

الَّذِي يَقْرَأُ أَخِي

Orang yang sedang membaca itu adalah saudaraku.

Kata الَّذِي menjadi mubtada’, sedangkan jumlah يَقْرَأُ menjadi ṣilah al-maushūl.

E. Berupa mashdar mu’awwal

أَنْ تَصْدُقَ خَيْرٌ لَكَ

Bersikap jujur lebih baik bagimu.

Susunan أَنْ تَصْدُقَ dapat ditakwil menjadi:

صِدْقُكَ خَيْرٌ لَكَ

Dengan demikian, أَنْ تَصْدُقَ merupakan mashdar mu’awwal yang berada pada posisi rafa‘ sebagai mubtada’.

6. Pola Hubungan Mubtada’ dan Khabar

Untuk menemukan mubtada’, pembaca juga perlu mengenali bentuk khabarnya. Khabar tidak selalu berupa satu kata, tetapi dapat berupa jumlah atau syibhul jumlah.

Pola Contoh Analisis Ringkas
Mubtada’ + khabar mufrad الْعِلْمُ نَافِعٌ Khabar berupa satu unsur, bukan berupa jumlah atau syibhul jumlah
Mubtada’ + jumlah fi‘liyyah الطَّالِبُ يَقْرَأُ Jumlah fi‘liyyah يَقْرَأُ menjadi khabar
Mubtada’ + jumlah ismiyyah الطَّالِبُ أَخْلَاقُهُ حَسَنَةٌ Jumlah أَخْلَاقُهُ حَسَنَةٌ menjadi khabar
Mubtada’ + jar-majrur الطَّالِبُ فِي الْفَصْلِ Jar-majrur berkaitan dengan khabar yang diperkirakan
Mubtada’ + zharaf الْكِتَابُ فَوْقَ الْمَكْتَبِ Zharaf berkaitan dengan khabar yang diperkirakan
Khabar + mubtada’ فِي الْفَصْلِ طَالِبٌ Khabar didahulukan dan mubtada’ diakhirkan

Rābiṭ pada khabar berbentuk jumlah

Apabila khabar berupa jumlah, biasanya terdapat unsur yang menghubungkannya dengan mubtada’. Penghubung tersebut dinamakan rābiṭ.

الطَّالِبُ أَخْلَاقُهُ حَسَنَةٌ

Siswa itu akhlaknya baik.

  • الطَّالِبُ: mubtada’ pertama.
  • أَخْلَاقُهُ: mubtada’ kedua.
  • حَسَنَةٌ: khabar mubtada’ kedua.
  • Jumlah أَخْلَاقُهُ حَسَنَةٌ: khabar mubtada’ pertama.
  • Dhamir هُ: rābiṭ yang kembali kepada mubtada’ pertama.

7. Mubtada’ Muqaddam dan Mubtada’ Mu’akhkhar

A. Mubtada’ didahulukan

الطَّالِبُ فِي الْفَصْلِ
  • الطَّالِبُ: mubtada’ muqaddam.
  • فِي الْفَصْلِ: khabar mu’akhkhar.

B. Mubtada’ diakhirkan

فِي الْفَصْلِ طَالِبٌ
  • فِي الْفَصْلِ: khabar muqaddam.
  • طَالِبٌ: mubtada’ mu’akhkhar.

C. Keadaan khabar wajib didahulukan

Khabar wajib didahulukan antara lain dalam keadaan berikut:

  1. Khabar mengandung kata yang mempunyai hak berada di awal kalimat.

    أَيْنَ كِتَابُكَ؟

    Kata أَيْنَ menjadi khabar muqaddam, sedangkan كِتَابُكَ menjadi mubtada’ mu’akhkhar.

  2. Mubtada’ berupa nakirah yang belum mempunyai alasan pembolehan selain pendahuluan khabar.

    فِي الْبَيْتِ رَجُلٌ
  3. Pada mubtada’ terdapat dhamir yang kembali kepada bagian dari khabar.

    فِي الدَّارِ صَاحِبُهَا
  4. Susunan mengandung pembatasan.

    مَا فِي الْبَيْتِ إِلَّا زَيْدٌ

    Artinya: “Tidak ada di dalam rumah selain Zaid.” Frasa فِي الْبَيْتِ menjadi khabar muqaddam dan زَيْدٌ menjadi mubtada’ mu’akhkhar.

8. Kesesuaian Mubtada’ dan Khabar

Apabila khabar berupa sifat yang menerangkan mubtada’, biasanya terdapat kesesuaian dalam jenis dan jumlah.

Mubtada’ Khabar Arti
الطَّالِبُ مُجْتَهِدٌ Siswa itu rajin
الطَّالِبَةُ مُجْتَهِدَةٌ Siswi itu rajin
الطَّالِبَانِ مُجْتَهِدَانِ Dua siswa itu rajin
الطَّالِبُونَ مُجْتَهِدُونَ Para siswa itu rajin
الطَّالِبَاتُ مُجْتَهِدَاتٌ Para siswi itu rajin

Jamak benda yang tidak berakal biasanya diperlakukan seperti mufrad muannats.

الْأَشْجَارُ كَبِيرَةٌ

Artinya: “Pohon-pohon itu besar.” Karena الْأَشْجَارُ merupakan jamak benda tidak berakal, khabarnya berbentuk mufrad muannats: كَبِيرَةٌ.

9. Penghapusan Mubtada’ atau Khabar

A. Khabar yang dibuang

Khabar dapat dibuang apabila telah diketahui atau diwajibkan oleh kaidah tertentu.

لَوْلَا الْمَاءُ لَهَلَكَ النَّاسُ

Seandainya tidak ada air, niscaya manusia binasa.

Kata الْمَاءُ menjadi mubtada’. Khabarnya dibuang dengan perkiraan مَوْجُودٌ.

Contoh berdasarkan jawaban:

مَنْ فِي الْفَصْلِ؟ مُحَمَّدٌ

Kata مُحَمَّدٌ menjadi mubtada’ dan khabarnya dibuang karena telah dipahami. Perkiraan lengkapnya:

مُحَمَّدٌ فِي الْفَصْلِ

B. Mubtada’ yang dibuang

Pertanyaan:

مَنْ هَذَا؟

Jawaban:

مُحَمَّدٌ

Susunan lengkap yang diperkirakan adalah:

هَذَا مُحَمَّدٌ

Mubtada’ هَذَا dibuang dalam jawaban karena telah diketahui dari pertanyaan.

10. Mubtada’ Berupa Sifat yang Beramal seperti Fi‘il

Materi lanjutan

Bagian ini dapat dilewati sementara oleh pembaca yang baru mulai belajar nahwu.

Mubtada’ dapat berupa sifat musytaq, seperti isim fā‘il, yang bekerja seperti fi‘ilnya. Sifat tersebut dapat mengangkat isim sesudahnya sehingga isim itu mencukupi kedudukan khabar.

أَقَائِمٌ الزَّيْدَانِ؟

Apakah dua orang yang bernama Zaid sedang berdiri?

  • أَ: hamzah istifham.
  • قَائِمٌ: mubtada’ berupa isim fā‘il.
  • الزَّيْدَانِ: fā‘il bagi isim fā‘il.
  • Fā‘il tersebut mencukupi kedudukan khabar atau سَدَّ مَسَدَّ الْخَبَرِ.

Contoh dengan penafian:

مَا حَاضِرٌ الطَّالِبَانِ

Dua siswa itu tidak hadir.

Pada pola ini, sifat yang beramal biasanya bersandar pada penafian atau pertanyaan. Pembahasannya termasuk nahwu tingkat menengah-lanjut.

11. Perbedaan Mubtada’ dengan Kedudukan Lain

A. Mubtada’ dan fa‘il

Pembeda Mubtada’ Fa‘il
Struktur utama Berhubungan dengan khabar Berhubungan dengan fi‘il atau yang bekerja seperti fi‘il
Fungsi Sesuatu yang diberi informasi Pelaku suatu perbuatan
Contoh زَيْدٌ قَائِمٌ قَامَ زَيْدٌ

Bandingkan dua kalimat berikut:

زَيْدٌ يَكْتُبُ

Kata زَيْدٌ adalah mubtada’. Jumlah يَكْتُبُ menjadi khabar. Fa‘il dari يَكْتُبُ adalah dhamir tersembunyi هُوَ yang kembali kepada Zaid.

يَكْتُبُ زَيْدٌ

Pada susunan kedua, زَيْدٌ adalah fa‘il karena berada setelah fi‘il يَكْتُبُ.

B. Mubtada’, isim kāna, dan isim inna

Susunan Kedudukan الطَّالِب Hukum I‘rab
الطَّالِبُ مُجْتَهِدٌ Mubtada’ Marfū‘
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا Isim kāna Marfū‘
إِنَّ الطَّالِبَ مُجْتَهِدٌ Isim inna Manṣūb

Kehadiran كَانَ atau إِنَّ mengubah kedudukan nahwu unsur-unsur dalam jumlah ismiyyah.

C. Tidak setiap isim di awal kalimat menjadi mubtada’

إِنَّ الطَّالِبَ حَاضِرٌ

Kata الطَّالِبَ bukan mubtada’, melainkan isim inna.

زَيْدًا أَكْرَمْتُ

Kata زَيْدًا bukan mubtada’, melainkan maf‘ul bih yang didahulukan.

كِتَابُ الطَّالِبِ جَدِيدٌ

Kata الطَّالِبِ bukan mubtada’, tetapi mudhaf ilaih. Mubtada’nya adalah كِتَابُ beserta susunan idhafahnya.

12. Contoh Mubtada’ dalam Al-Qur’an

A. Mubtada’ berupa isim isyarah

هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ

“Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia.” (QS. Āli ‘Imrān: 138)

  • هَٰذَا: mubtada’.
  • بَيَانٌ: khabar.

B. Mubtada’ berupa dhamir

هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Dialah Allah Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlāṣ: 1)

Pada salah satu analisis yang masyhur, هُوَ berkedudukan sebagai mubtada’, sedangkan susunan sesudahnya memberikan informasi tentangnya.

C. Mubtada’ nakirah dalam ungkapan doa keselamatan

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

“Kepada mereka dikatakan: ‘Salam,’ sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Yāsīn: 58)

Analisis ayat Al-Qur’an dapat memiliki rincian dan perbedaan pandangan. Contoh-contoh ini digunakan untuk menunjukkan penerapan dasar kaidah, bukan untuk menutup kemungkinan analisis i‘rab lainnya.

13. Cara Praktis Menentukan Mubtada’

  1. Tentukan apakah kata yang diperiksa merupakan isim.

  2. Periksa apakah terdapat ‘āmil sebelumnya, seperti fi‘il, huruf jar, إِنَّ, atau كَانَ.

  3. Tanyakan: “Siapa atau apa yang sedang diberi informasi?”

  4. Cari informasi yang disampaikan tentang isim tersebut.

  5. Periksa apakah isim itu berstatus rafa‘ atau berada pada posisi rafa‘.

  6. Periksa kemungkinan khabar didahulukan, terutama jika kalimat diawali jar-majrur, zharaf, atau kata tanya.

  7. Jika khabar berupa jumlah, cari rābiṭ yang menghubungkannya dengan mubtada’.

Rumus pemeriksaan praktis:

Isim + tidak dikuasai ‘āmil lain + menjadi pihak yang diberi informasi + berkedudukan rafa‘ = kemungkinan besar mubtada’.

14. Kesalahan yang Sering Terjadi

  1. Menganggap kata pertama selalu menjadi mubtada’.

  2. Menganggap setiap isim marfū‘ pasti menjadi mubtada’.

  3. Menganggap mubtada’ harus selalu berupa isim zhahir.

  4. Menolak semua isim nakirah sebagai mubtada’.

  5. Menentukan kedudukan kata hanya berdasarkan arti terjemahannya.

  6. Tidak memeriksa keberadaan khabar muqaddam.

  7. Tidak mencari rābiṭ ketika khabar berbentuk jumlah.

  8. Mengandalkan harakat tanpa memahami hubungan antarkata.

15. Latihan Menentukan Mubtada’

Tentukan mubtada’ dan khabar pada kalimat berikut:

  1. الْعِلْمُ نُورٌ
  2. فِي الْحَدِيقَةِ أَشْجَارٌ
  3. أَنَا مُسْلِمٌ
  4. الطَّالِبَانِ حَاضِرَانِ
  5. عِنْدَكَ ضَيْفٌ
  6. الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
  7. أَنْ تَتَعَلَّمَ خَيْرٌ لَكَ
  8. الطَّالِبُ كِتَابُهُ جَدِيدٌ
  9. أَيْنَ مَدْرَسَتُكَ؟
  10. كَانَ الْجَوُّ جَمِيلًا

Jawaban dan pembahasan

No. Mubtada’ Khabar Pembahasan
1 الْعِلْمُ نُورٌ Keduanya marfū‘ dengan dhammah
2 أَشْجَارٌ فِي الْحَدِيقَةِ Mubtada’ mu’akhkhar dan khabar muqaddam
3 أَنَا مُسْلِمٌ Dhamir mabnī pada posisi rafa‘ sebagai mubtada’
4 الطَّالِبَانِ حَاضِرَانِ Keduanya dirafa‘kan dengan alif karena berbentuk tatsniyah
5 ضَيْفٌ عِنْدَكَ Mubtada’ mu’akhkhar dan khabar muqaddam
6 الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ Mubtada’ dirafa‘kan dengan wāwu karena jamak mudzakkar sālim
7 أَنْ تَتَعَلَّمَ خَيْرٌ Mashdar mu’awwal berada pada posisi rafa‘ sebagai mubtada’
8 الطَّالِبُ كِتَابُهُ جَدِيدٌ Khabar berupa jumlah ismiyyah dan memiliki rābiṭ berupa dhamir هُ
9 مَدْرَسَتُكَ أَيْنَ Kata tanya menjadi khabar muqaddam dan mubtada’ diakhirkan
10 Tidak ada mubtada’ secara istilah Tidak ada khabar mubtada’ الْجَوُّ adalah isim kāna dan جَمِيلًا adalah khabar kāna

16. Ringkasan Kaidah Mubtada’

Kaidah Penjelasan
Mubtada’ adalah isim Dapat berupa isim zhahir, dhamir, isim isyarah, isim maushul, atau mashdar mu’awwal
Mubtada’ berstatus marfū‘ Tanda rafa‘nya dapat berupa dhammah, alif, wāwu, atau tanda yang diperkirakan
Mubtada’ diberi informasi Informasi yang disampaikan tentang mubtada’ disebut khabar
Asalnya berupa ma‘rifah Nakirah dapat menjadi mubtada’ apabila menghasilkan faedah yang jelas
Asalnya didahulukan Dalam keadaan tertentu mubtada’ dapat atau wajib diakhirkan
Tidak selalu menjadi kata pertama Khabar dapat ditempatkan sebelum mubtada’
Tidak semua isim marfū‘ adalah mubtada’ Isim marfū‘ juga dapat menjadi fa‘il, nā’ib al-fā‘il, isim kāna, na‘at, badal, dan kedudukan lainnya
Mubtada’ atau khabar dapat dibuang Penghapusan diperbolehkan apabila maknanya diketahui dari konteks

17. Penutup

Mubtada’ bukan sekadar isim yang berada pada awal kalimat. Mubtada’ adalah isim yang menjadi pusat pemberitaan dalam jumlah ismiyyah dan pada dasarnya berkedudukan rafa‘.

Untuk menentukan mubtada’ dengan tepat, pembaca harus memadukan empat kemampuan: mengenali jenis kata, memahami ‘āmil, membaca tanda i‘rab, dan menemukan hubungan makna antara unsur yang diberi informasi dengan informasi yang disampaikan.

الْمُبْتَدَأُ هُوَ الِاسْمُ الْمَرْفُوعُ الْمُخْبَرُ عَنْهُ

Apabila empat kemampuan tersebut terus dilatih, pembaca tidak lagi menentukan mubtada’ hanya berdasarkan posisi kata, tetapi berdasarkan struktur kalimat secara utuh. Inilah salah satu fondasi penting untuk membaca dan memahami kitab Arab tanpa harakat.

Daftar Referensi

  1. Ibnu Ājurrūm, Al-Muqaddimah al-Ājurrūmiyyah.
  2. Ibnu Hisyām al-Anṣārī, Qaṭr al-Nadā wa Ball al-Ṣadā.
  3. Ibnu ‘Aqīl, Syarḥ Ibn ‘Aqīl ‘alā Alfiyyah Ibn Mālik.
  4. Muṣṭafā al-Ghalāyainī, Jāmi‘ al-Durūs al-‘Arabiyyah.
  5. ‘Abbās Ḥasan, Al-Naḥw al-Wāfī.
  6. Fu’ād Ni‘mah, Mulakhkhaṣ Qawā‘id al-Lughah al-‘Arabiyyah.

Catatan: Penjelasan disusun untuk tujuan pembelajaran bertahap. Pada beberapa contoh, khususnya ayat Al-Qur’an dan susunan tingkat lanjut, dapat ditemukan rincian atau perbedaan analisis dalam kitab-kitab i‘rab dan nahwu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunitas Pembelajar

Ikuti Sukri Almarosy

Jadilah bagian dari komunitas pembelajar PBJ, kepemimpinan, dan pengembangan kompetensi ASN. Dengan menjadi follower, materi terbaru lebih mudah ditemukan melalui Daftar Bacaan Blogger Anda.

  • Mengetahui pembaruan artikel dan materi pembelajaran lebih cepat.
  • Mudah kembali ke panduan PBJ, simulasi, dan pembahasan terbaru.
  • Gratis, aman melalui akun Google, dan dapat berhenti mengikuti kapan saja.

✓ Menjadi Followers

Klik tombol di bawah, masuk dengan akun Google, lalu pilih mengikuti secara publik atau anonim.

✓ Ikuti di Blogger Nama dan foto profil hanya tampil jika Anda memilih mengikuti secara publik.

Mulai Belajar Hari Ini

Pengetahuan yang tepat membuat kita bekerja lebih tenang dan profesional.

Jelajahi Rumah Belajar ASN