Ketika membaca kitab Arab tanpa harakat, kita sering menemukan kalimat yang diawali oleh إِنَّ, كَأَنَّ, لَيْتَ, atau لَعَلَّ.
Kata-kata tersebut bukan fi‘il. Kata-kata tersebut termasuk kelompok huruf nāsikh yang dapat mengubah kedudukan i‘rab mubtada’ dan khabar.
Siswa itu rajin.
Setelah dimasuki Inna:Sesungguhnya siswa itu rajin.
Mengapa kata الطَّالِبُ berubah menjadi الطَّالِبَ, sedangkan مُجْتَهِدٌ tetap marfū‘?
Jawabannya terdapat dalam pembahasan Inna dan saudara-saudaranya, yang dalam bahasa Arab disebut:
Artikel ini membahas enam huruf nāsikh, hukum isim dan khabarnya, tanda i‘rab, contoh Al-Qur’an, serta latihan untuk menentukan harakat akhir kata ketika membaca kitab tanpa harakat.
Ringkasan 60 Detik
Inna dan saudara-saudaranya merupakan enam huruf nāsikh. Dalam pola dasarnya, kelompok ini masuk ke dalam susunan mubtada’ dan khabar.
Mubtada’ menjadi isim Inna yang manṣūb, sedangkan khabar menjadi khabar Inna yang marfū‘.
Keenam huruf tersebut memiliki fungsi makna yang berbeda. Namun, dalam pola dasarnya, hukum i‘rab isim dan khabarnya sama.
Kata الطَّالِبَ adalah isim Inna yang manṣūb, sedangkan مُجْتَهِدٌ adalah khabar Inna yang marfū‘.
1. Pengertian Inna dan Saudara-Saudaranya
Materi DasarInna dan saudara-saudaranya merupakan kelompok huruf nāsikh yang masuk ke dalam jumlah ismiyyah, menjadikan mubtada’ sebagai isimnya yang manṣūb dan khabar sebagai khabarnya yang marfū‘.
Kelompok ini juga dikenal dengan istilah:
Artinya, huruf-huruf yang menyerupai fi‘il dalam sejumlah sifat dan cara kerjanya.
Meskipun menyerupai fi‘il dalam beberapa hal, Inna dan saudara-saudaranya tetap termasuk kelompok huruf, bukan fi‘il.
Ilmu itu bermanfaat.
Sesungguhnya ilmu itu bermanfaat.
Sebelum dimasuki Inna, kata الْعِلْمُ merupakan mubtada’ marfū‘.
Setelah dimasuki Inna, kata itu menjadi الْعِلْمَ yang berkedudukan manṣūb sebagai isim Inna.
Pembahasan ini merupakan kelanjutan dari materi Mubtada’ dalam Ilmu Nahwu dan Khabar dalam Ilmu Nahwu.
Pembaca yang belum memahami mubtada’ dan khabar disarankan mempelajari kedua materi tersebut terlebih dahulu.
2. Hukum Dasar Isim dan Khabar Inna
Materi IntiSesungguhnya siswa itu rajin.
I‘rab:Bagaimana menentukan isim dan khabar Inna?
Pada kalimat sederhana, tanyakan dua hal:
- Siapa atau apa yang sedang diterangkan? Unsur tersebut merupakan calon isim Inna.
- Informasi apa yang diberikan mengenai unsur tersebut? Informasi itu merupakan calon khabar Inna.
Namun, jangan menentukan isim dan khabar hanya berdasarkan urutan kata. Dalam susunan tertentu, khabar dapat didahulukan dan isim Inna diakhirkan.
3. Enam Huruf Inna dan Saudara-Saudaranya
Materi IntiMenurut pembagian dalam Al-Ājurrūmiyyah, terdapat enam huruf yang termasuk kelompok Inna dan saudara-saudaranya.
Makna: Penegasan.
Sesungguhnya ilmu itu bermanfaat.
Makna: Penegasan dalam susunan yang dapat ditakwilkan sebagai maṣdar.
Saya mengetahui bahwa siswa itu rajin.
Makna: Koreksi atau pertentangan dengan informasi sebelumnya.
Jalannya panjang, tetapi perjalanan itu bermanfaat.
Makna: Penyerupaan.
Bulan itu seakan-akan sebuah lampu.
Makna: Pengandaian atau keinginan.
Andai orang yang absen itu hadir.
Makna: Harapan atau perkiraan, sesuai konteks.
Semoga siswa itu berhasil.
Inna dan Anna: penegasan. Lākinna: koreksi. Ka’anna: penyerupaan. Laita: pengandaian atau keinginan. La‘alla: harapan atau perkiraan sesuai konteks.
4. Perbedaan Inna dan Anna
Materi MenengahInna dan Anna sama-sama merupakan huruf nāsikh yang mempunyai hukum dasar serupa, tetapi berbeda dalam harakat hamzah serta kedudukannya dalam susunan kalimat.
A. Inna dengan hamzah berharakat kasrah
Sesungguhnya ilmu itu bermanfaat.
B. Anna dengan hamzah berharakat fatḥah
Saya mengetahui bahwa ilmu itu bermanfaat.
Pengayaan: Anna dan maṣdar mu’awwal
Gabungan Anna, isim, dan khabarnya dapat ditakwilkan menjadi satu maṣdar.
Susunan أَنَّ الْعِلْمَ نَافِعٌ dapat dipahami sebagai informasi mengenai kebermanfaatan ilmu.
Pada contoh yang menggunakan fi‘il عَلِمَ dengan makna mengetahui suatu kenyataan, maṣdar mu’awwal tersebut dapat dijelaskan sebagai unsur yang mencukupi kedudukan dua maf‘ūl dari fi‘il hati yang digunakan dalam pola ini.
Bagi pemula, yang perlu dikuasai lebih dahulu adalah bahwa isim Anna manṣūb dan khabarnya marfū‘.
5. Tanda Naṣb pada Isim dan Raf‘ pada Khabar
Materi IntiIsim Inna tidak selalu memiliki fatḥah yang tampak, dan khabarnya tidak selalu memiliki ḍammah yang tampak.
Tanda i‘rab bergantung pada bentuk kata.
| Bentuk Isim | Tanda Naṣb | Tanda Raf‘ |
|---|---|---|
| Isim mufrad mu‘rab | Fatḥah | Ḍammah |
| Mutsannā | Yā’ | Alif |
| Jamak mudzakkar sālim | Yā’ | Wāwu |
| Jamak mu’annats sālim | Kasrah sebagai pengganti fatḥah | Ḍammah |
| Al-asmā’ al-khamsah yang memenuhi syarat | Alif | Wāwu |
A. Isim dan khabar berbentuk mutsannā
Sesungguhnya kedua siswa itu rajin.
B. Jamak mudzakkar sālim
Sesungguhnya para guru itu tulus dalam menjalankan tugasnya.
C. Jamak mu’annats sālim
Sesungguhnya para siswi itu rajin.
Temukan terlebih dahulu apakah kata berfungsi sebagai isim atau khabar Inna. Setelah menentukan hukumnya, periksa bentuk isim untuk menetapkan tanda i‘rab yang sesuai.
6. Isim Inna Dapat Berupa Ḍamīr
Materi MenengahIsim Inna tidak selalu berupa kata yang berdiri sendiri. Isimnya dapat berupa ḍamīr muttaṣil yang melekat pada huruf nāsikh.
Sesungguhnya engkau rajin.
Perhatikan bentuk-bentuk berikut:
Pada bentuk tersebut, ḍamīr yang melekat berkedudukan naṣb sebagai isim Inna.
Pada kalimat إِنَّكَ مُجْتَهِدٌ, isim Inna adalah kāf yang melekat pada Inna. Kata مُجْتَهِدٌ merupakan khabarnya.
7. Jenis-Jenis Khabar Inna
Materi MenengahKhabar Inna dapat berupa khabar mufrad, khabar jumlah, atau khabar syibhul jumlah.
Dalam pembagian ini, istilah mufrad berarti bukan berupa jumlah dan bukan berupa syibhul jumlah. Khabar mufrad tetap dapat berbentuk mutsannā atau jamak.
A. Khabar mufrad
Sesungguhnya ilmu itu bermanfaat.
B. Khabar berupa jumlah fi‘liyyah
Sesungguhnya siswa itu sedang menulis.
Fi‘il يَكْتُبُ berkedudukan marfū‘ sebagai fi‘il muḍāri‘. Adapun keseluruhan jumlah fi‘liyyah berkedudukan raf‘ sebagai khabar Inna.
C. Khabar berupa jumlah ismiyyah
Sesungguhnya siswa itu memiliki akhlak yang baik.
Ḍamīr hā’ pada أَخْلَاقُهُ menjadi penghubung antara jumlah ismiyyah yang berfungsi sebagai khabar dan isim Inna.
D. Khabar berupa syibhul jumlah
Syibhul jumlah dapat berbentuk jār-majrūr atau ẓarf.
Sesungguhnya buku itu berada di atas meja.
Susunan عَلَى الْمَكْتَبِ memberikan informasi mengenai tempat buku berada.
Pengayaan: I‘rab khabar berupa syibhul jumlah
Dalam salah satu pendekatan analisis, jār-majrūr berhubungan dengan khabar Inna yang diperkirakan, misalnya كَائِنٌ.
Dalam penyajian pembelajaran dasar, syibhul jumlah juga sering disebut secara ringkas sebagai khabar Inna.
Perbedaan tersebut berkaitan dengan cara menguraikan i‘rab. Pembaca dapat mengikuti pendekatan yang digunakan oleh kitab atau pengajarnya.
8. Ketika Khabar Mendahului Isim Inna
Materi LanjutanDalam pola dasar, isim Inna terletak sebelum khabarnya. Namun, apabila khabar berbentuk syibhul jumlah, khabar dapat didahulukan pada susunan tertentu.
Sesungguhnya ada seorang siswa di dalam kelas.
Apabila sesudah Inna terdapat jār-majrūr atau ẓarf, periksa kemungkinan unsur tersebut berhubungan dengan khabar yang didahulukan.
9. Perbedaan Inna dan Kāna
Materi DasarKāna dan Inna sama-sama termasuk pembahasan unsur nāsikh, tetapi jenis kata dan hukum i‘rab keduanya berbeda.
| Aspek | Kāna | Inna |
|---|---|---|
| Jenis kata | Fi‘il nāqiṣ nāsikh | Huruf nāsikh |
| Isim | Marfū‘ | Manṣūb |
| Khabar | Manṣūb | Marfū‘ |
10. Innamā dan Mā Kāffah
Materi LanjutanSalah satu bentuk yang perlu dipahami ketika membaca kitab adalah:
Pada pola Innamā, Mā kāffah mencegah Inna melakukan fungsi i‘rabnya sebagaimana pada susunan biasa.
Gabungan Innamā juga dapat memberikan makna pembatasan atau ḥaṣr, yaitu menegaskan suatu informasi dengan membatasi hubungan makna sesuai konteks kalimat.
A. Contoh buatan untuk membandingkan i‘rab
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.
Contoh buatan ini digunakan khusus untuk memperlihatkan hukum Inna ketika masih beramal.
B. Penggalan ayat dengan Innamā
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.
Pada penggalan ayat tersebut, Inna bersambung dengan Mā kāffah. Kata الْمُؤْمِنُونَ tidak menjadi isim Inna yang manṣūb, melainkan menjadi mubtada’ marfū‘.
Pertama, Mā kāffah mencegah Inna menashabkan isim pada pola ini. Kedua, Innamā dapat digunakan untuk memberikan makna pembatasan.
Karena itu, ketika membaca kata إِنَّمَا, perhatikan hukum i‘rab sekaligus makna kalimatnya.
Pengayaan: Apakah semua saudara Inna berhenti beramal ketika bertemu Mā?
Pada pembahasan dasar, Mā kāffah umumnya mencegah huruf nāsikh melakukan amalnya.
Namun, pada bentuk لَيْتَمَا, literatur nahwu membahas kemungkinan tetap beramal atau tidak beramal.
Rincian tersebut merupakan materi lanjutan. Untuk memahami contoh Innamā dalam artikel ini, cukup gunakan kaidah yang sudah dijelaskan di atas.
11. Jangan Tertukar dengan Huruf yang Mirip
Materi MenengahA. Inna dan In syarṭiyyah
Sesungguhnya siswa itu rajin.
Jika engkau belajar, engkau akan berhasil.
Pada contoh kedua, إِنْ merupakan huruf syarat jāzimah, bukan Inna yang menashabkan isim dan meraf‘kan khabar.
B. Anna dan An yang menashabkan fi‘il muḍāri‘
Anna pada contoh tersebut merupakan saudara Inna.
Saya ingin belajar.
An pada contoh kedua merupakan huruf maṣdariyyah yang menashabkan fi‘il muḍāri‘ أَتَعَلَّمَ.
C. Lākinna dan Lākin tanpa tasydid
Jalannya panjang, tetapi perjalanan itu bermanfaat.
Lākinna dengan nūn bertasydid merupakan salah satu saudara Inna.
Lākin tanpa tasydid sebagai huruf ‘aṭaf:Zaid tidak hadir, tetapi Khalid hadir.
Pada contoh kedua, Lākin tanpa tasydid berfungsi sebagai huruf ‘aṭaf karena memenuhi ketentuan penggunaannya.
Lākin tanpa tasydid tidak otomatis merupakan huruf ‘aṭaf pada setiap kalimat.
Dalam penggunaan sebagai huruf ‘aṭaf, Lākin umumnya didahului penafian atau larangan, menghubungkan unsur mufrad, dan tidak didahului wāwu ‘aṭaf.
Apabila digunakan dalam susunan lain, Lākin dapat berfungsi sebagai huruf istidrāk atau ibtidā’, sehingga analisis kata sesudahnya mengikuti struktur kalimat.
12. Contoh Inna dan Saudara-Saudaranya dalam Al-Qur’an
A. Inna dengan khabar syibhul jumlah
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.
Syibhul jumlah فِي خُسْرٍ berhubungan dengan khabar Inna yang diperkirakan.
Rujukan: QS. Al-‘Aṣr ayat 2 .
B. La‘alla dengan isim berupa ḍamīr
Agar kamu bertakwa.
La‘alla sering diperkenalkan dengan makna harapan. Namun, maknanya pada ayat Al-Qur’an perlu dipahami sesuai konteks tafsir.
Penggalan ayat ini diterjemahkan dengan makna tujuan, yaitu “agar kamu bertakwa”.
Rujukan: QS. Al-Baqarah ayat 21 .
C. Innamā dengan Mā kāffah
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.
Pada penggalan ayat tersebut, Inna bersambung dengan Mā kāffah.
Rujukan: QS. Al-Ḥujurāt ayat 10 .
13. Praktik Membaca Kitab Tanpa Harakat
Latihan PraktikKetika membaca kitab tanpa harakat, langkah pertama bukanlah menebak harakat akhir kata, melainkan mengenali hubungan antarunsur kalimat.
Langkah 1 — Bacalah teks tanpa harakat
Langkah 2 — Temukan huruf nāsikh
Inna membuat isimnya berkedudukan manṣūb dan khabarnya marfū‘.
Langkah 3 — Temukan isim Inna
Unsur yang diterangkan adalah kedua siswa.
Kata tersebut berbentuk mutsannā. Karena berkedudukan manṣūb sebagai isim Inna, tanda naṣb-nya adalah yā’.
Langkah 4 — Temukan khabar Inna
Informasi yang diberikan adalah keadaan rajin.
Karena khabar berbentuk mutsannā dan berkedudukan marfū‘, tanda raf‘-nya adalah alif.
Langkah 5 — Bacalah kalimat dan susun i‘rab
Sesungguhnya kedua siswa itu rajin.
14. Kesalahan yang Sering Terjadi
A. Menganggap semua isim Inna harus berakhir dengan fatḥah
Al-Mu‘allimīna berkedudukan manṣūb dengan tanda yā’ karena berbentuk jamak mudzakkar sālim.
B. Menganggap kata setelah Inna selalu merupakan isimnya
Pada contoh ini, jār-majrūr berhubungan dengan khabar yang didahulukan, sedangkan Ṭāliban merupakan isim Inna yang diakhirkan.
C. Menganggap semua khabar Inna berupa satu kata
Khabarnya adalah keseluruhan jumlah fi‘liyyah يَكْتُبُ beserta fā‘ilnya yang tersembunyi.
D. Menyamakan hukum Inna dan Kāna
Inna menashabkan isim dan meraf‘kan khabar. Kāna meraf‘kan isim dan menashabkan khabar.
E. Menganggap Innamā selalu menashabkan kata sesudahnya
Pada pola ini, Mā kāffah mencegah Inna beramal. Al-Mu’minūna menjadi mubtada’ marfū‘.
F. Menganggap Lākin tanpa tasydid selalu merupakan huruf ‘aṭaf
Fungsi Lākin harus ditentukan berdasarkan susunan dan ketentuan penggunaannya. Tidak semua Lākin tanpa tasydid dapat dianalisis sebagai huruf ‘aṭaf.
G. Menyamakan Inna, Anna, In, dan An
Keempat bentuk tersebut dapat mempunyai fungsi gramatikal yang berbeda. Perhatikan harakat hamzah, tasydid, dan kata yang muncul sesudahnya.
15. Latihan dan Pembahasan
Uji PemahamanKerjakan setiap pertanyaan sebelum membuka pembahasannya. Tentukan huruf nāsikh, isim, khabar, dan tanda i‘rab masing-masing.
Manakah isim dan khabar Inna? Jelaskan tanda i‘rab keduanya.
Buka jawaban dan pembahasan soal 1
Apa tanda naṣb isim Inna dan tanda raf‘ khabarnya?
Buka jawaban dan pembahasan soal 2
Di manakah letak isim Inna?
Buka jawaban dan pembahasan soal 3
Isim Inna adalah kāf yang melekat pada huruf Inna.
Apakah kata Yanjaḥu harus dibaca manṣūb karena menjadi bagian dari khabar La‘alla?
Buka jawaban dan pembahasan soal 4
Tidak. Kata Yanjaḥu merupakan fi‘il muḍāri‘ marfū‘.
Keseluruhan jumlah fi‘liyyah berkedudukan raf‘ sebagai khabar La‘alla.
Mengapa Al-Mu’minūna tidak dibaca Al-Mu’minīna?
Buka jawaban dan pembahasan soal 5
Karena Mā kāffah mencegah Inna beramal pada pola ini.
Latihan tambahan: Membaca teks tanpa harakat
Bacalah dua kalimat berikut. Berikan harakat yang sesuai dan tentukan isim serta khabar Inna.
Bagaimana bacaan yang benar dan tanda i‘rab kedua isim tersebut?
Buka jawaban dan pembahasan soal 6
Manakah isim Inna, dan mengapa terletak setelah jār-majrūr?
Buka jawaban dan pembahasan soal 7
Susunan فِي الْفَصْلِ berhubungan dengan khabar Inna yang didahulukan.
16. Kesimpulan dan Daftar Referensi
Inna dan saudara-saudaranya terdiri atas enam huruf nāsikh yang dalam pola dasarnya menashabkan isim serta meraf‘kan khabar.
Isimnya dapat berupa kata yang tampak atau ḍamīr yang melekat. Khabarnya dapat berupa mufrad, jumlah, atau syibhul jumlah. Dalam susunan tertentu, khabar dapat didahulukan.
Ketika membaca kitab tanpa harakat, tentukan dahulu jenis huruf, pastikan apakah huruf tersebut masih beramal, temukan isim dan khabarnya, lalu tentukan tanda i‘rab berdasarkan bentuk kata.
Daftar Referensi
-
Ibnu Ājurrūm.
Al-Muqaddimah al-Ājurrūmiyyah,
Bab al-‘Awāmil al-Dākhilah ‘alā al-Mubtada’ wa al-Khabar.
Rujukan utama mengenai pembagian enam huruf Inna dan saudara-saudaranya, makna, serta hukum dasarnya.
Baca matan Al-Ājurrūmiyyah . -
Syarḥ Al-Ājurrūmiyyah.
Pembahasan tentang Inna dan saudara-saudaranya sebagai huruf yang menyerupai fi‘il serta kaidah isim manṣūb dan khabar marfū‘.
Baca syarah Inna dan saudara-saudaranya . -
JoAcademy.
Materi bentuk khabar Inna dan saudara-saudaranya.
Rujukan untuk pembahasan khabar mufrad, jumlah, syibhul jumlah, khabar yang didahulukan, dan Mā kāffah.
Baca pembahasan bentuk khabar Inna . -
Ka‘idah Penggunaan Lākin sebagai Huruf ‘Aṭaf.
Rujukan untuk membedakan Lākinna dengan nūn bertasydid dan Lākin tanpa tasydid beserta syarat penggunaannya sebagai huruf ‘aṭaf.
Baca pembahasan huruf ‘aṭaf Lākin . -
Al-Qur’an.
Surah Al-‘Aṣr [103]: 2.
Baca QS. Al-‘Aṣr ayat 2 . -
Al-Qur’an.
Surah Al-Baqarah [2]: 21.
Baca QS. Al-Baqarah ayat 21 . -
Al-Qur’an.
Surah Al-Ḥujurāt [49]: 10.
Baca QS. Al-Ḥujurāt ayat 10 .
Artikel ini disusun untuk pembaca tingkat dasar hingga menengah. Pembahasan Anna sebagai maṣdar mu’awwal, khabar yang didahulukan, dan Mā kāffah ditempatkan sebagai materi lanjutan.
Contoh buatan untuk latihan telah dibedakan dari kutipan Al-Qur’an yang disertai nama surah dan nomor ayatnya.
Komentar
Posting Komentar