20 Kaidah Emas Nahwu yang Paling Sering Muncul dalam Kitab Gundul
Membaca kitab gundul sering dianggap sulit karena teks Arab tidak memberikan harakat yang dapat langsung dijadikan pegangan. Padahal, masalah utamanya sering bukan pada harakat, tetapi pada kemampuan mengenali fungsi kata dan hubungan antarkata.
Semakin cepat kita mengetahui bahwa suatu kata adalah fa‘il, maf‘ul bih, mudhaf ilaih, isim inna, atau khabar kana, semakin mudah pula menentukan harakat akhirnya.
Pahami fungsi kata terlebih dahulu, baru tentukan harakatnya.
Karena itu, artikel ini tidak dimaksudkan menggantikan pembelajaran Nahwu secara lengkap. Dua puluh rumus berikut merupakan peta praktis untuk membantu pemula mengenali pola yang sangat sering dijumpai dalam kitab.
1. Mubtada dan Khabar Berkedudukan Marfu‘
Jika sebuah kalimat dimulai dengan isim, periksa kemungkinan bahwa kalimat tersebut merupakan jumlah ismiyyah.
Ilmu itu bermanfaat.
- الْعِلْمُ = mubtada, marfu‘.
- نَافِعٌ = khabar, marfu‘.
Namun, khabar tidak selalu berupa satu kata. Khabar juga dapat berupa jumlah atau syibhul jumlah.
Zaid berada di rumah.
- زَيْدٌ = mubtada marfu‘.
- فِي الْبَيْتِ = syibhul jumlah yang berkedudukan sebagai khabar.
2. إِنَّ Menashabkan Isim dan Merafa‘kan Khabar
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun.
- إِنَّ = huruf nasikh.
- اللَّهَ = isim inna, manshub.
- غَفُورٌ = khabar inna, marfu‘.
Hukum dasar ini juga berlaku pada saudara-saudara إِنَّ, antara lain:
إِنَّ → yang pertama manshub, yang kedua marfu‘.
3. كَانَ Merafa‘kan Isim dan Menashabkan Khabar
Cuaca ketika itu bagus.
- كَانَ = fi‘il naqish.
- الْجَوُّ = isim kana, marfu‘.
- جَمِيلًا = khabar kana, manshub.
Di antara saudara-saudara كَانَ adalah:
إِنَّ → isim manshub, khabar marfu‘.
كَانَ → isim marfu‘, khabar manshub.
4. Fa‘il Berkedudukan Marfu‘
Siswa itu telah datang.
الطَّالِبُ adalah orang yang melakukan perbuatan datang, sehingga berkedudukan sebagai fa‘il dan dibaca marfu‘.
Contoh yang sangat sering terlihat dalam kitab:
الْمُصَنِّفُ adalah fa‘il dari قَالَ.
5. Naibul Fa‘il Berkedudukan Marfu‘
Apabila fi‘il dibentuk pasif dan pelakunya tidak disebutkan, unsur yang menggantikannya disebut نائب الفاعل.
Buku itu telah ditulis.
الْكِتَابُ = naibul fa‘il, marfu‘.
6. Maf‘ul Bih Berkedudukan Manshub
Siswa membaca kitab.
- قَرَأَ = fi‘il.
- الطَّالِبُ = fa‘il.
- الْكِتَابَ = maf‘ul bih, manshub.
7. Setelah Huruf Jar, Isim Menjadi Majrur
Huruf jar yang sangat sering muncul antara lain:
مِنَ الْمَسْجِدِ
إِلَى الْبَيْتِ
8. Mudhaf Ilaih Selalu Majrur
Kitab milik siswa.
- كِتَابُ = mudhaf.
- الطَّالِبِ = mudhaf ilaih, majrur.
Contoh susunan idhafah yang sangat sering muncul:
كِتَابُ اللَّهِ
أَهْلُ الْعِلْمِ
طَالِبُ الْعِلْمِ
9. Na‘at Mengikuti Man‘ut
Na‘at adalah sifat, sedangkan man‘ut adalah kata yang disifati.
Laki-laki saleh itu datang.
Keduanya marfu‘.
Aku melihat laki-laki saleh itu.
Keduanya manshub.
Aku melewati laki-laki saleh itu.
Keduanya majrur.
10. Ma‘thuf Mengikuti Ma‘thuf ‘Alaih
Huruf athaf antara lain:
Zaid marfu‘, maka Amr juga marfu‘.
Zaid manshub, maka Amr juga manshub.
11. Badal Mengikuti Mubdal Minhu
Saudaramu, Zaid, telah datang.
زَيْدٌ adalah badal dan mengikuti i‘rab kata sebelumnya.
12. Taukid Mengikuti Kata yang Ditegaskan
Di antara lafaz taukid yang sering digunakan:
Direktur itu sendiri datang.
Aku melihat seluruh kaum itu.
13. Hal Umumnya Nakirah dan Manshub
Hal menjelaskan keadaan seseorang atau sesuatu ketika suatu perbuatan berlangsung.
Zaid datang dalam keadaan berkendara.
رَاكِبًا = hal, manshub.
Siswa masuk dalam keadaan tersenyum.
14. Tamyiz Umumnya Nakirah dan Manshub
Tamyiz menjelaskan sesuatu yang sebelumnya masih samar.
Aku membeli dua puluh kitab.
كِتَابًا = tamyiz.
Aku lebih banyak hartanya daripada kamu.
مَالًا menjelaskan: “lebih banyak dalam hal apa?”
15. Zharaf Zaman dan Makan Umumnya Manshub
Zharaf menunjukkan waktu atau tempat terjadinya suatu pekerjaan.
Zharaf Zaman
يَوْمَ menunjukkan waktu.
Zharaf Makan
أَمَامَ menunjukkan tempat.
Kata yang sering dijumpai antara lain:
16. Dalam Istitsna Tamm Mutsbat, Mustatsna dengan إِلَّا Manshub
Para siswa datang kecuali Zaid.
Jadi, rumus di atas adalah rumus dasar untuk istitsna tamm mutsbat, bukan satu-satunya bentuk istitsna.
17. Isim لَا النَّافِيَةُ لِلْجِنْسِ Berkedudukan Manshub
Tidak ada keraguan di dalamnya.
Tidak ada keraguan tentang hal itu.
18. Munada: Jangan Menganggap Semua Kata Setelah يَا Berfathah
Ini termasuk bagian yang sering keliru dipahami oleh pemula.
Wahai Zaid.
I‘rab:
Jadi, dhammah pada زَيْدُ tidak berarti bahwa ia menjadi marfu‘. Ia adalah munada yang mabni ‘ala adh-dhamm fi mahalli nashb.
Bandingkan dengan munada mudhaf:
Wahai penuntut ilmu.
طَالِبَ = munada mudhaf, manshub.
Wahai Abdullah/hamba Allah.
19. Dhamir Muttashil Mengikuti Kedudukannya dalam Kalimat
Bentuk dhamir yang sama dapat memiliki kedudukan i‘rab berbeda.
Sebagai Maf‘ul Bih
Aku melihatnya.
ـهُ berkedudukan pada محل نصب sebagai maf‘ul bih.
Setelah Huruf Jar
ـهُ berkedudukan pada محل جر.
Sebagai Mudhaf Ilaih
ـهُ berkedudukan pada محل جر sebagai mudhaf ilaih.
20. Petunjuk Emas: Jumlah Setelah Nakirah Sering Menjadi Sifat, Setelah Ma‘rifah Sering Menjadi Hal
Kaidah ini sangat membantu sebagai petunjuk awal ketika membaca kitab.
Setelah Nakirah
Datang seorang laki-laki yang membawa sebuah kitab.
رَجُلٌ adalah nakirah. Jumlah يَحْمِلُ كِتَابًا menjelaskan laki-laki yang bagaimana, sehingga dapat berkedudukan sebagai sifat.
Setelah Ma‘rifah
Laki-laki itu datang dalam keadaan membawa sebuah kitab.
الرَّجُلُ adalah ma‘rifah. Jumlah يَحْمِلُ كِتَابًا menjelaskan keadaan laki-laki tersebut ketika datang, sehingga dapat berkedudukan sebagai hal.
Ringkasan 20 Kaidah Emas
| No. | Kaidah | Rumus Praktis |
|---|---|---|
| 1 | Mubtada–Khabar | Keduanya berkedudukan marfu‘ |
| 2 | إِنَّ | Isim manshub, khabar marfu‘ |
| 3 | كَانَ | Isim marfu‘, khabar manshub |
| 4 | Fa‘il | Marfu‘ |
| 5 | Naibul Fa‘il | Marfu‘ |
| 6 | Maf‘ul Bih | Manshub |
| 7 | Huruf Jar | Isim sesudahnya majrur |
| 8 | Mudhaf Ilaih | Majrur |
| 9 | Na‘at | Mengikuti man‘ut |
| 10 | Athaf | Mengikuti ma‘thuf ‘alaih |
| 11 | Badal | Mengikuti mubdal minhu |
| 12 | Taukid | Mengikuti muakkad |
| 13 | Hal | Umumnya nakirah dan manshub |
| 14 | Tamyiz | Umumnya nakirah dan manshub |
| 15 | Zharaf | Umumnya manshub |
| 16 | Istitsna | Pada tamm mutsbat: mustatsna dengan إِلَّا manshub |
| 17 | لَا النافية للجنس | Isimnya berkedudukan manshub |
| 18 | Munada | Hukum bergantung jenis munada |
| 19 | Dhamir Muttashil | Kedudukan mengikuti fungsi dalam kalimat |
| 20 | Jumlah setelah isim | Nakirah: sering sifat; ma‘rifah: sering hal |
Tiga Pertanyaan Sakti Saat Membaca Kitab Gundul
Ketika berhadapan dengan tulisan Arab tanpa harakat, jangan memulai dengan menebak fathah, dhammah atau kasrah. Gunakan tiga pertanyaan berikut.
Ini adalah pintu pertama untuk membaca struktur kalimat.
Apakah ia fa‘il, maf‘ul bih, mubtada, khabar, mudhaf ilaih, atau fungsi lainnya?
Adakah إِنَّ, كَانَ, huruf jar, fi‘il, idhafah, huruf athaf, يَا, atau unsur lain sebelumnya?
Contoh Membongkar Kalimat Kitab Gundul
Misalnya kita menemukan tulisan:
Jangan langsung memasang harakat. Bongkar strukturnya.
Langkah 1 — Temukan إِنَّ
Karena ada إِنَّ, kita mencari isimnya. Kata setelahnya adalah طالب.
طَالِبَ menjadi isim إِنَّ sehingga manshub.
Langkah 2 — Kenali Idhafah
طالب terhubung dengan العلم.
الْعِلْمِ adalah mudhaf ilaih sehingga majrur.
Langkah 3 — Temukan Fi‘il
Fa‘il dari يَحْتَاجُ berupa dhamir mustatir yang kembali kepada طالب.
Langkah 4 — Temukan Huruf Jar
Karena إِلَى adalah huruf jar, kata الصبر menjadi majrur.
Maka hasil bacaannya:
Sesungguhnya penuntut ilmu membutuhkan kesabaran.
Peta Besar Nahwu yang Harus Dikuasai
1. Kelompok Marfu‘at
Yang sangat sering marfu‘ antara lain:
2. Kelompok Manshubat
Yang sangat sering manshub antara lain:
3. Kelompok Majrurat
Dua pola yang paling penting untuk pemula:
الْمُضَافُ إِلَيْهِ
Delapan Rumus yang Harus Menjadi Refleks
Inna menashabkan isim dan merafa‘kan khabar.
Kana merafa‘kan isim dan menashabkan khabar.
Fa‘il marfu‘.
Naibul fa‘il marfu‘.
Maf‘ul bih manshub.
Isim setelah huruf jar majrur.
Mudhaf ilaih majrur.
Unsur tabi‘ mengikuti unsur yang diikutinya dalam i‘rab.
Jangan Membaca Harakat Sebelum Membaca Struktur
Salah satu kebiasaan yang perlu diubah dalam belajar kitab gundul adalah pola:
Gantilah dengan pola:
Pola kedua memang sedikit lebih lambat ketika pertama kali dipelajari. Tetapi setelah sering digunakan, kemampuan mengenali struktur akan menjadi refleks.
Ketika melihat:
pikiran langsung mengenali: huruf jar → isim majrur.
Ketika melihat:
pikiran langsung mengenali: isim إِنَّ → manshub.
Ketika melihat:
pikiran langsung mengenali: fa‘il → marfu‘.
Penutup
Membaca kitab gundul bukan sekadar persoalan mengetahui apakah akhir sebuah kata harus dibaca dhammah, fathah atau kasrah.
Yang jauh lebih penting adalah mengetahui:
kata itu sedang bekerja sebagai apa di dalam kalimat.
Mulailah dengan mengenali pola yang paling sering muncul. Cari fi‘il dan fa‘il. Kenali mubtada dan khabar. Tandai huruf jar. Kenali idhafah. Waspadai إِنَّ dan كَانَ. Perhatikan kata-kata manshub. Kemudian lihat hubungan antara satu kata dengan kata berikutnya.
Semakin sering latihan dilakukan, semakin sedikit kebutuhan untuk “menebak” harakat.
Harakat mulai muncul sebagai akibat logis dari struktur.
Kenali kedudukan kata, maka Anda akan lebih mudah mengetahui harakatnya.
Dan di situlah kemampuan membaca kitab gundul sesungguhnya mulai terbentuk.
Komentar
Posting Komentar