Langsung ke konten utama

Athaf dalam Ilmu Nahwu: Pengertian, Jenis, Huruf, dan Contoh I‘rab

Ketika membaca kitab Arab tanpa harakat, kita sering menemukan dua kata yang dihubungkan oleh huruf seperti وَ, فَ, dan ثُمَّ.

Perhatikan kalimat berikut:

جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو

Zaid dan Amr telah datang.

Mengapa kata عَمْرٌو dibaca dengan ḍammah? Mengapa tidak dibaca dengan fatḥah atau kasrah?

Jawabannya berkaitan dengan salah satu pembahasan penting dalam ilmu nahwu, yaitu ‘aṭaf atau athaf (الْعَطْفُ).

‘Aṭaf bukan hanya menghubungkan dua kata. Kita juga perlu mengetahui hubungan antara unsur yang dihubungkan, makna huruf penghubung, serta bagaimana kedudukan i‘rab unsur sebelumnya memengaruhi unsur sesudahnya.

Melalui artikel ini, kita akan mempelajari pengertian ‘aṭaf, dua jenis utamanya, huruf-huruf ‘aṭaf, hukum i‘rab, contoh berharakat, penerapannya dalam Al-Qur’an, serta cara menentukan ‘aṭaf ketika membaca kitab tanpa harakat.

Ringkasan 60 Detik

  • ‘Aṭaf termasuk kelompok at-tawābi‘ dalam ilmu nahwu.
  • ‘Aṭaf terbagi menjadi ‘aṭaf nasq dan ‘aṭaf bayān.
  • ‘Aṭaf nasq menggunakan huruf penghubung.
  • ‘Aṭaf bayān memperjelas unsur sebelumnya tanpa huruf penghubung.
  • Unsur sebelum huruf ‘aṭaf disebut ma‘ṭūf ‘alaih.
  • Unsur pengikut disebut ma‘ṭūf.
  • Ma‘ṭūf mengikuti kedudukan i‘rab ma‘ṭūf ‘alaih.
الْمَعْطُوفُ يَتْبَعُ الْمَعْطُوفَ عَلَيْهِ فِي إِعْرَابِهِ

Artinya: Ma‘ṭūf mengikuti ma‘ṭūf ‘alaih dalam i‘rabnya.

جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو

Kata عَمْرٌو mengikuti kedudukan kata زَيْدٌ, sehingga keduanya marfū‘.

1. Pengertian ‘Aṭaf dalam Ilmu Nahwu

Materi Dasar

Secara bahasa, ‘aṭaf (الْعَطْفُ) memiliki makna kecenderungan atau mengarahkan sesuatu kepada sesuatu yang lain.

Dalam ilmu nahwu, ‘aṭaf merupakan pembahasan mengenai unsur pengikut yang dihubungkan dengan unsur sebelumnya menggunakan huruf ‘aṭaf atau berfungsi memperjelas unsur sebelumnya tanpa huruf penghubung.

Dua bentuk tersebut dikenal sebagai:

عَطْفُ النَّسَقِ وَعَطْفُ الْبَيَانِ

Untuk memahami pola yang paling sederhana, perhatikan contoh berikut.

جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو

Zaid dan Amr telah datang.

Pada kalimat tersebut, Zaid merupakan fā‘il yang berkedudukan marfū‘.

Amr dihubungkan dengan Zaid melalui huruf wāwu sehingga mengikuti kedudukan raf‘ Zaid.

I‘rab Amr:
عَمْرٌو: مَعْطُوفٌ عَلَى زَيْدٍ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.

Rujukan: Al-Ājurrūmiyyah, Bab ‘Aṭaf [1].

2. Unsur-Unsur dalam ‘Aṭaf Nasq

Dalam ‘aṭaf nasq terdapat tiga unsur utama yang perlu dikenali.

Unsur Istilah Arab Fungsi
Ma‘ṭūf ‘alaih الْمَعْطُوفُ عَلَيْهِ Unsur sebelumnya yang menjadi tempat penyandaran ‘aṭaf.
Huruf ‘aṭaf حَرْفُ الْعَطْفِ Huruf yang menghubungkan dua unsur.
Ma‘ṭūf الْمَعْطُوفُ Unsur pengikut yang dihubungkan dengan ma‘ṭūf ‘alaih.

Contoh Penerapan

حَضَرَ مُحَمَّدٌ وَخَالِدٌ

Muhammad dan Khalid telah hadir.

  • مُحَمَّدٌ adalah ma‘ṭūf ‘alaih.
  • وَ adalah huruf ‘aṭaf.
  • خَالِدٌ adalah ma‘ṭūf.

Karena Muhammad berkedudukan marfū‘ sebagai fā‘il, Khalid sebagai ma‘ṭūf juga marfū‘.

الْمَعْطُوفُ عَلَيْهِ + حَرْفُ الْعَطْفِ + الْمَعْطُوفُ
Ma‘ṭūf ‘alaih + huruf ‘aṭaf + ma‘ṭūf.

3. ‘Aṭaf Termasuk Kelompok At-Tawābi‘

Dalam ilmu nahwu, ‘aṭaf termasuk kelompok at-tawābi‘.

التَّوَابِعُ

At-tawābi‘ merupakan kelompok unsur pengikut yang mengikuti kedudukan i‘rab kata sebelumnya.

النَّعْتُ، وَالتَّوْكِيدُ، وَالْعَطْفُ، وَالْبَدَلُ

Keempat pembahasan tersebut memiliki fungsi yang berbeda, tetapi sama-sama mengenal hubungan pengikutan dalam i‘rab.

الْمَعْطُوفُ يَتْبَعُ الْمَعْطُوفَ عَلَيْهِ فِي إِعْرَابِهِ
Ma‘ṭūf mengikuti ma‘ṭūf ‘alaih dalam i‘rabnya.
Perhatian: Mengikuti kedudukan i‘rab tidak berarti kedua unsur selalu memiliki fungsi nahwu yang sama. Pada kalimat جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو, Zaid dii‘rab sebagai fā‘il, sedangkan Amr dii‘rab sebagai ma‘ṭūf kepada fā‘il.

4. Dua Jenis ‘Aṭaf dalam Ilmu Nahwu

Secara umum, ‘aṭaf dibagi menjadi dua jenis.

الْعَطْفُ نَوْعَانِ: عَطْفُ النَّسَقِ وَعَطْفُ الْبَيَانِ
Jenis Pengertian Contoh
‘Aṭaf Nasq Menghubungkan unsur menggunakan huruf ‘aṭaf. جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو
‘Aṭaf Bayān Memperjelas identitas atau maksud unsur sebelumnya tanpa huruf ‘aṭaf. جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ
Prioritas pembelajaran: Kuasai terlebih dahulu ‘aṭaf nasq beserta huruf penghubungnya. Setelah itu, pelajari ‘aṭaf bayān dan perbedaannya dengan badal.

5. ‘Aṭaf Nasq

Materi Dasar
عَطْفُ النَّسَقِ

‘Aṭaf nasq merupakan unsur pengikut yang dihubungkan dengan unsur sebelumnya melalui salah satu huruf ‘aṭaf.

عَطْفُ النَّسَقِ تَابِعٌ يَتَوَسَّطُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَتْبُوعِهِ حَرْفٌ مِنْ حُرُوفِ الْعَطْفِ
‘Aṭaf nasq adalah unsur pengikut yang dihubungkan dengan unsur sebelumnya melalui huruf ‘aṭaf.

A. Menghubungkan Dua Unsur Marfū‘

جَاءَ مُحَمَّدٌ وَعَلِيٌّ

Muhammad dan Ali telah datang.

عَلِيٌّ: مَعْطُوفٌ عَلَى مُحَمَّدٍ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.

B. Menghubungkan Dua Unsur Manṣūb

قَرَأْتُ كِتَابًا وَمَجَلَّةً

Saya membaca sebuah buku dan sebuah majalah.

مَجَلَّةً: مَعْطُوفٌ عَلَى كِتَابٍ مَنْصُوبٌ، وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ.

C. Menghubungkan Dua Unsur Majrūr

مَرَرْتُ بِزَيْدٍ وَخَالِدٍ

Saya melewati Zaid dan Khalid.

خَالِدٍ: مَعْطُوفٌ عَلَى زَيْدٍ مَجْرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ.

6. Sepuluh Huruf ‘Aṭaf Menurut Al-Ājurrūmiyyah

Materi Menengah

Dalam matan Al-Ājurrūmiyyah, disebutkan sepuluh huruf ‘aṭaf.

وَ، فَ، ثُمَّ، أَوْ، أَمْ، إِمَّا، بَلْ، لَا، لَكِنْ، حَتَّى

Penyebutan sepuluh huruf tersebut mengikuti matan Al-Ājurrūmiyyah. Namun, sebagian ahli nahwu tidak menggolongkan Immā sebagai huruf ‘aṭaf sehingga menghitung sembilan huruf.

No. Huruf Fungsi atau Makna Utama
1وَMenggabungkan tanpa menetapkan urutan.
2فَMenunjukkan urutan yang berdekatan.
3ثُمَّMenunjukkan urutan dengan jeda.
4أَوْPilihan atau salah satu kemungkinan, sesuai konteks.
5أَمْMeminta penentuan salah satu pilihan dalam pertanyaan.
6إِمَّاPerincian atau pilihan; statusnya sebagai huruf ‘aṭaf diperselisihkan.
7بَلْMengalihkan penetapan hukum kepada unsur sesudahnya.
8لَاMeniadakan hukum dari unsur sesudahnya.
9لَكِنْMenetapkan hukum yang berlawanan dengan unsur sebelumnya dalam susunan tertentu.
10حَتَّىMenyertakan unsur yang menjadi batas atau bagian akhir, dengan syarat tertentu.

A. Wāwu — وَ

الْوَاوُ لِمُطْلَقِ الْجَمْعِ

Wāwu menggabungkan dua unsur tanpa dengan sendirinya menentukan unsur mana yang lebih dahulu melakukan suatu perbuatan.

حَضَرَ زَيْدٌ وَخَالِدٌ

Zaid dan Khalid telah hadir.

Kalimat ini menyatakan bahwa keduanya hadir, tetapi tidak memastikan siapa yang datang terlebih dahulu.

B. Fā’ — فَ

الْفَاءُ لِلتَّرْتِيبِ وَالتَّعْقِيبِ

Fā’ menunjukkan urutan dan kedekatan antara dua peristiwa sesuai dengan konteksnya.

دَخَلَ زَيْدٌ فَعَمْرٌو

Zaid masuk, kemudian Amr menyusulnya.

Masuknya Amr terjadi sesudah Zaid dengan kedekatan waktu yang dipahami menurut konteks peristiwa.

C. Ṡumma — ثُمَّ

ثُمَّ لِلتَّرْتِيبِ وَالتَّرَاخِي

Ṡumma menunjukkan urutan disertai adanya jeda antara unsur atau peristiwa yang dihubungkan.

دَخَلَ زَيْدٌ ثُمَّ عَمْرٌو

Zaid masuk, kemudian setelah suatu jeda Amr masuk.

Cara Cepat Mengingat:

Wāwu = menggabungkan, tanpa memastikan urutan.

Fā’ = berurutan dengan kedekatan.

Ṡumma = berurutan dengan jeda.

D. Aw — أَوْ

Aw dapat menunjukkan pilihan atau kebolehan memilih salah satu maupun keduanya, sesuai konteks.

اِقْرَأْ كِتَابًا أَوْ مَجَلَّةً

Bacalah sebuah buku atau sebuah majalah.

Dalam contoh ini, aw memberikan pilihan bahan bacaan.

E. Am — أَمْ

Am muttaṣilah digunakan dalam pola pertanyaan untuk meminta penentuan salah satu dari dua kemungkinan.

أَدَرَسْتَ النَّحْوَ أَمِ الصَّرْفَ؟

Apakah engkau mempelajari nahwu atau sharaf?

Pembicara meminta kepastian mengenai salah satu mata pelajaran yang dipelajari.

Catatan lanjutan: Am juga memiliki bentuk munqaṭi‘ah yang pembahasannya berbeda dari pola pilihan sederhana di atas.

F. Immā — إِمَّا

Materi Lanjutan

Immā digunakan untuk menunjukkan pilihan atau perincian.

اِخْتَرْ إِمَّا كِتَابًا وَإِمَّا مَجَلَّةً

Pilihlah sebuah buku atau sebuah majalah.

Mengapa ada kitab yang menyebut sepuluh huruf ‘aṭaf dan ada yang menyebut sembilan?

Al-Ājurrūmiyyah mencantumkan Immā dalam daftar sepuluh huruf ‘aṭaf.

Namun, menurut pendapat yang tidak menggolongkan Immā sebagai huruf ‘aṭaf, huruf penghubung dalam susunan seperti contoh tersebut adalah wāwu sebelum Immā yang kedua.

إِمَّا كِتَابًا وَإِمَّا مَجَلَّةً

Dengan demikian, kata majallah tetap dapat dianalisis sebagai ma‘ṭūf, tetapi terdapat perbedaan pendapat mengenai unsur yang dianggap sebagai huruf penghubungnya.

Untuk pemula, cukup pahami fungsi Immā sebagai penanda pilihan. Perbedaan pendapat mengenai kedudukan hurufnya dapat dipelajari lebih lanjut.

Rujukan: Al-Ājurrūmiyyah [1] dan Al-Tuḥfah al-Saniyyah [2].

G. Bal — بَلْ

Bal digunakan untuk mengalihkan penetapan hukum dari unsur sebelumnya kepada unsur sesudahnya.

Maknanya perlu dibedakan berdasarkan apakah kalimat sebelumnya berbentuk positif atau negatif.

1. Bal setelah kalimat positif

جَاءَ زَيْدٌ بَلْ عَمْرٌو

Semula disebut Zaid yang datang, tetapi yang dimaksud adalah Amr.

Kalimat tersebut mengalihkan penetapan kedatangan kepada Amr. Pernyataan sebelumnya mengenai kedatangan Zaid diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak lagi dipastikan oleh susunan tersebut.

Karena itu, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa Zaid pasti tidak datang tanpa mempertimbangkan konteks.

2. Bal setelah kalimat negatif

مَا جَاءَ زَيْدٌ بَلْ عَمْرٌو

Zaid tidak datang, tetapi Amr datang.

Pada susunan ini, penafian kedatangan Zaid tetap berlaku, sedangkan kedatangan ditetapkan kepada Amr.

I‘rab Amr:
عَمْرٌو: مَعْطُوفٌ عَلَى زَيْدٍ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.
Kunci pembelajaran: Jangan menyamakan penggunaan Bal setelah kalimat positif dan setelah kalimat negatif. Rujukan: Syarḥ Ibn ‘Aqīl, pembahasan huruf Bal [3].

H. Lā — لَا

Lā sebagai huruf ‘aṭaf dalam pola dasar digunakan untuk menetapkan hukum kepada unsur pertama dan meniadakannya dari unsur kedua.

حَضَرَ زَيْدٌ لَا خَالِدٌ

Zaid hadir, bukan Khalid.

Kedatangan ditetapkan bagi Zaid dan ditiadakan dari Khalid.

I. Lākin — لَكِنْ

Lākin dapat menjadi huruf ‘aṭaf dalam pola tertentu, terutama ketika didahului penafian atau larangan, diikuti unsur tunggal, dan tidak didahului wāwu penghubung.

مَا حَضَرَ زَيْدٌ لَكِنْ خَالِدٌ

Zaid tidak hadir, tetapi Khalid hadir.

Kata Khalid merupakan ma‘ṭūf kepada Zaid dan berkedudukan marfū‘.

Perhatian: Tidak semua penggunaan Lākin merupakan ‘aṭaf. Perhatikan keberadaan wāwu, bentuk unsur sesudahnya, dan susunan kalimat. Bentuk لَكِنَّ yang bertasydid termasuk kelompok Inna dan saudara-saudaranya, bukan huruf ‘aṭaf.

J. Ḥattā — حَتَّى

Materi Lanjutan

Ḥattā dapat berfungsi sebagai huruf ‘aṭaf jika memenuhi ketentuan tertentu, antara lain unsur sesudahnya menjadi bagian atau unsur yang tercakup dalam unsur sebelumnya dan berfungsi sebagai batas atau puncak yang dimaksud.

Namun, Ḥattā tidak selalu menjadi huruf ‘aṭaf. Ia juga dapat berfungsi sebagai huruf jarr atau huruf ibtidā’.

Contoh: Tiga Kemungkinan I‘rab Ḥattā

Perhatikan perubahan harakat kata ra’s pada tiga kalimat berikut.

Kalimat Arab Fungsi Ḥattā I‘rab Ra’s
أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسَهَا Huruf ‘aṭaf Manṣūb dengan fatḥah.
أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسِهَا Huruf jarr Majrūr dengan kasrah.
أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسُهَا Huruf ibtidā’ Marfū‘ sebagai mubtada’.

1. Ḥattā sebagai huruf ‘aṭaf

أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسَهَا

Saya memakan ikan itu, termasuk kepalanya.

حَتَّى: حَرْفُ عَطْفٍ مَبْنِيٌّ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
رَأْسَهَا: مَعْطُوفٌ عَلَى السَّمَكَةِ مَنْصُوبٌ، وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ، وَهُوَ مُضَافٌ، وَالْهَاءُ ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ فِي مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ.

2. Ḥattā sebagai huruf jarr

أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسِهَا

Pada bentuk ini, Ḥattā berfungsi sebagai huruf jarr yang menunjukkan batas.

حَتَّى: حَرْفُ جَرٍّ مَبْنِيٌّ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
رَأْسِهَا: اسْمٌ مَجْرُورٌ بِحَتَّى، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ، وَهُوَ مُضَافٌ، وَالْهَاءُ ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ فِي مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ.

3. Ḥattā sebagai huruf ibtidā’

أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسُهَا

Pada bentuk ini, Ḥattā mengantarkan kalimat baru yang dimulai dengan mubtada’.

Khabarnya dipahami dari konteks, misalnya:

حَتَّى رَأْسُهَا مَأْكُولٌ

Bahkan kepalanya pun dimakan.

حَتَّى: حَرْفُ ابْتِدَاءٍ مَبْنِيٌّ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
رَأْسُهَا: مُبْتَدَأٌ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ، وَهُوَ مُضَافٌ، وَالْهَاءُ ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ فِي مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ.
الْخَبَرُ مَحْذُوفٌ تَقْدِيرُهُ: مَأْكُولٌ.
Kesimpulan penting tentang Ḥattā:

Satu susunan yang hampir sama dapat memiliki tiga kemungkinan i‘rab berdasarkan fungsi Ḥattā dan harakat kata sesudahnya.

Saat membaca kitab tanpa harakat, jangan menentukan kedudukan kata sesudah Ḥattā secara otomatis. Perhatikan hubungan antarkata dan makna kalimat terlebih dahulu.

Rujukan: Pembahasan Ḥattā dalam ilmu nahwu [4].

7. Hukum I‘rab ‘Aṭaf

Materi Menengah

Hukum dasar ‘aṭaf nasq adalah bahwa ma‘ṭūf mengikuti kedudukan i‘rab ma‘ṭūf ‘alaih.

الْمَعْطُوفُ يَتْبَعُ الْمَعْطُوفَ عَلَيْهِ فِي إِعْرَابِهِ
Ma‘ṭūf mengikuti ma‘ṭūf ‘alaih dalam i‘rabnya.

A. ‘Aṭaf pada Isim Marfū‘

جَاءَ زَيْدٌ وَخَالِدٌ
خَالِدٌ: مَعْطُوفٌ عَلَى زَيْدٍ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.

B. ‘Aṭaf pada Isim Manṣūb

رَأَيْتُ زَيْدًا وَخَالِدًا
خَالِدًا: مَعْطُوفٌ عَلَى زَيْدٍ مَنْصُوبٌ، وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ.

C. ‘Aṭaf pada Isim Majrūr

مَرَرْتُ بِزَيْدٍ وَخَالِدٍ
خَالِدٍ: مَعْطُوفٌ عَلَى زَيْدٍ مَجْرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ.

D. ‘Aṭaf pada Fi‘il Muḍāri‘ Majzūm

لَمْ يَكْتُبْ زَيْدٌ وَيَرْسُمْ

Zaid tidak menulis dan tidak menggambar.

يَرْسُمْ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَجْزُومٌ عَطْفًا عَلَى يَكْتُبْ، وَعَلَامَةُ جَزْمِهِ السُّكُونُ الظَّاهِرُ.

E. Tanda I‘rab Berbeda, tetapi Kedudukannya Sama

حَضَرَ الْمُدِيرُ وَالْمُعَلِّمُونَ

Direktur dan para guru telah hadir.

الْمُدِيرُ: فَاعِلٌ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.
الْمُعَلِّمُونَ: مَعْطُوفٌ عَلَى الْمُدِيرِ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الْوَاوُ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ.

Kedua isim tersebut sama-sama marfū‘, tetapi tanda raf‘-nya berbeda.

Al-Mudīr menggunakan ḍammah karena berbentuk isim mufrad, sedangkan Al-Mu‘allimūn menggunakan wāwu karena berbentuk jamak mudzakkar sālim.

Kaidah yang harus diingat: Ma‘ṭūf mengikuti kedudukan i‘rab ma‘ṭūf ‘alaih, bukan selalu menggunakan harakat atau tanda i‘rab yang sama.

8. ‘Aṭaf Bayān dan Perbedaannya dengan Badal

Materi Lanjutan
عَطْفُ الْبَيَانِ

‘Aṭaf bayān merupakan unsur pengikut, umumnya berupa isim jāmid, yang digunakan untuk memperjelas atau mengkhususkan unsur sebelumnya.

عَطْفُ الْبَيَانِ تَابِعٌ جَامِدٌ يُوَضِّحُ مَتْبُوعَهُ أَوْ يُخَصِّصُهُ
‘Aṭaf bayān adalah unsur pengikut berupa isim jāmid yang memperjelas atau mengkhususkan kata sebelumnya.

A. Contoh ‘Aṭaf Bayān

جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ

Khalifah Umar telah datang.

Kata Al-Khalīfah menyebutkan jabatan, sedangkan kata Umar memperjelas siapa khalifah yang dimaksud.

I‘rab:
الْخَلِيفَةُ: فَاعِلٌ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.
عُمَرُ: عَطْفُ بَيَانٍ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.

Analisis tersebut digunakan ketika kata Umar dipahami sebagai unsur yang memperjelas identitas khalifah.

B. Mengapa ‘Aṭaf Bayān Mirip dengan Badal?

‘Aṭaf bayān dan badal muṭābiq mempunyai hubungan yang sangat dekat. Dalam banyak susunan, kata kedua memungkinkan dua analisis berdasarkan struktur dan pendekatan yang digunakan.

Aspek ‘Aṭaf Bayān Badal Muṭābiq
Fungsi Memperjelas atau mengkhususkan unsur sebelumnya. Unsur kedua menjadi sasaran utama hukum dalam susunan badal.
Hubungan Unsur kedua berfungsi sebagai penjelas unsur pertama. Unsur kedua diperlakukan sebagai sasaran utama pernyataan.
Contoh جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ

Perbedaan fungsi tersebut membantu memahami kedua istilah, tetapi bukan aturan mutlak bahwa setiap kalimat hanya dapat memiliki satu analisis.

C. Contoh Ketika ‘Aṭaf Bayān Tidak Dapat Diganti dengan Badal

Pengayaan

Dalam Syarḥ Ibn ‘Aqīl dibahas contoh:

يَا غُلَامُ يَعْمَرًا

Wahai anak muda yang bernama Ya‘mar!

Pada contoh klasik ini, Ya‘mar merupakan nama orang dan berfungsi sebagai ‘aṭaf bayān yang mengikuti kedudukan naṣb secara maḥallī dari kata Ghulām.

يَعْمَرًا: عَطْفُ بَيَانٍ مَنْصُوبٌ تَبَعًا لِمَحَلِّ الْمُنَادَى، وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ.

Kata Ghulām sebagai munādā mufrad ma‘rifah dibina di atas ḍammah dan berkedudukan naṣb secara maḥallī.

Jika Ya‘mar dianalisis sebagai badal dalam pola ini, berlaku konsekuensi pengulangan ‘āmil nidā’. Nama tersebut akan diperlakukan sebagai munādā tersendiri, sehingga tidak sesuai dengan bentuk naṣb yang terdapat pada contoh.

Karena itu, dalam analisis yang dijelaskan Ibn ‘Aqīl, Ya‘maran pada susunan tersebut ditetapkan sebagai ‘aṭaf bayān, bukan badal.

Catatan untuk pemula: Contoh terakhir merupakan materi lanjutan. Kuasai dahulu perbedaan fungsi dasar ‘aṭaf bayān dan badal sebelum mempelajari pengecualian i‘rabnya. Rujukan: Syarḥ Ibn ‘Aqīl, pembahasan ‘Aṭaf Bayān [5].

9. Perbedaan ‘Aṭaf dengan Tawābi‘ Lain

Untuk mempermudah pembaca mengenali ‘aṭaf dalam kalimat Arab, perhatikan perbandingan berikut.

Jenis Fungsi Contoh Arab
Na‘at Menjelaskan sifat isim. جَاءَ الطَّالِبُ الْمُجْتَهِدُ
Taukīd Memberikan penegasan. جَاءَ الطَّالِبُ نَفْسُهُ
‘Aṭaf Nasq Menghubungkan unsur melalui huruf ‘aṭaf. جَاءَ الطَّالِبُ وَالْمُعَلِّمُ
‘Aṭaf Bayān Memperjelas unsur sebelumnya. جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ
Badal Unsur pengikut menjadi sasaran utama hukum. جَاءَ أَخُوكَ خَالِدٌ
Cara Mudah Mengingat:

Na‘at = menjelaskan sifat.

Taukīd = menguatkan kepastian.

‘Aṭaf Nasq = menghubungkan unsur dengan huruf ‘aṭaf.

‘Aṭaf Bayān = memperjelas identitas.

Badal = unsur pengikut menjadi sasaran utama hukum.

10. Contoh Analisis I‘rab Lengkap

A. Contoh ‘Aṭaf Marfū‘

حَضَرَ الْمُعَلِّمُ وَالطَّالِبُ

Guru dan siswa telah hadir.

حَضَرَ: فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ.
الْمُعَلِّمُ: فَاعِلٌ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.
الْوَاوُ: حَرْفُ عَطْفٍ مَبْنِيٌّ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
الطَّالِبُ: مَعْطُوفٌ عَلَى الْمُعَلِّمِ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.

B. Contoh ‘Aṭaf Manṣūb

رَأَيْتُ الْمُعَلِّمَ وَالطَّالِبَ

Saya melihat guru dan siswa.

رَأَيْتُ: فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ لِاتِّصَالِهِ بِتَاءِ الْفَاعِلِ، وَالتَّاءُ ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ.
الْمُعَلِّمَ: مَفْعُولٌ بِهِ مَنْصُوبٌ، وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ.
الْوَاوُ: حَرْفُ عَطْفٍ مَبْنِيٌّ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
الطَّالِبَ: مَعْطُوفٌ عَلَى الْمُعَلِّمِ مَنْصُوبٌ، وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ.

C. Contoh ‘Aṭaf Majrūr

سَلَّمْتُ عَلَى الْمُعَلِّمِ وَالطَّالِبِ

Saya mengucapkan salam kepada guru dan siswa.

عَلَى: حَرْفُ جَرٍّ مَبْنِيٌّ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
الْمُعَلِّمِ: اسْمٌ مَجْرُورٌ بِعَلَى، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ.
الْوَاوُ: حَرْفُ عَطْفٍ مَبْنِيٌّ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
الطَّالِبِ: مَعْطُوفٌ عَلَى الْمُعَلِّمِ مَجْرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ.

11. Contoh ‘Aṭaf dalam Al-Qur’an

A. QS. Al-Baqarah Ayat 43

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.

QS. Al-Baqarah [2]: 43

Dalam ayat ini, terdapat beberapa fi‘il amr yang dihubungkan menggunakan huruf wāwu.

أَقِيمُوا، وَآتُوا، وَارْكَعُوا

Perhatikan hubungan antara fi‘il pertama dan kedua.

أَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
I‘rab Wāwu:
الْوَاوُ: حَرْفُ عَطْفٍ مَبْنِيٌّ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
I‘rab Ātū:
آتُوا: فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ النُّونِ لِاتِّصَالِهِ بِوَاوِ الْجَمَاعَةِ، وَوَاوُ الْجَمَاعَةِ ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ.

Fi‘il Ātū dihubungkan dengan fi‘il Aqīmū oleh huruf wāwu.

Perhatikan: Fi‘il amr tersebut tetap memiliki hukum binā’ masing-masing. Jangan menggunakan rumus ma‘ṭūf marfū‘ atau manṣūb sebagaimana isim mu‘rab untuk menjelaskan bentuk fi‘il amr.

B. QS. An-Naḥl Ayat 90

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi bantuan kepada kerabat.

QS. An-Naḥl [16]: 90, penggalan ayat.

Perhatikan tiga unsur berikut:

بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ

Kata Al-‘Adl berkedudukan majrūr karena didahului huruf bā’.

Kata Al-Iḥsān dan Ītā’ dihubungkan melalui huruf wāwu dan mengikuti kedudukan jarr unsur sebelumnya.

I‘rab Al-Iḥsān:
الْإِحْسَانِ: مَعْطُوفٌ عَلَى الْعَدْلِ مَجْرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ.
I‘rab Ītā’:
إِيتَاءِ: مَعْطُوفٌ عَلَى الْعَدْلِ مَجْرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ، وَهُوَ مُضَافٌ.

Contoh ini menunjukkan bahwa beberapa unsur dapat dihubungkan secara berurutan dan mengikuti kedudukan i‘rab unsur yang menjadi ma‘ṭūf ‘alaih.

12. Praktik Menentukan ‘Aṭaf ketika Membaca Kitab Tanpa Harakat

Latihan Praktik

Ketika membaca kitab tanpa harakat, kita tidak boleh langsung menentukan harakat akhir sebuah kata hanya karena terdapat huruf wāwu di depannya.

Temukan terlebih dahulu hubungan kata dan kedudukan ma‘ṭūf ‘alaih.

Langkah Pertama: Bacalah Kalimat Tanpa Harakat

قرأ الطالب الكتاب والمجلة

Langkah Kedua: Tentukan Fi‘il dan Fā‘il

Kata قرأ merupakan fi‘il māḍī.

Kata الطالب merupakan fā‘il.

Karena fā‘il berkedudukan marfū‘, kata tersebut dibaca:

الطَّالِبُ

Langkah Ketiga: Tentukan Maf‘ūl Bih

Kata الكتاب menjadi objek yang dibaca.

Karena berkedudukan sebagai maf‘ūl bih, kata tersebut dibaca:

الْكِتَابَ

Langkah Keempat: Tentukan Huruf ‘Aṭaf

Setelah kata Al-Kitāb terdapat huruf wāwu yang menghubungkannya dengan kata Al-Majallah.

  • Ma‘ṭūf ‘alaih adalah الْكِتَابَ.
  • Huruf ‘aṭaf adalah وَ.
  • Ma‘ṭūf adalah الْمَجَلَّةَ.

Langkah Kelima: Tentukan Harakat Ma‘ṭūf

Karena ma‘ṭūf ‘alaih berkedudukan manṣūb, ma‘ṭūf juga berkedudukan manṣūb.

الْمَجَلَّةَ

Langkah Keenam: Baca Kalimat secara Lengkap

قَرَأَ الطَّالِبُ الْكِتَابَ وَالْمَجَلَّةَ

Siswa itu telah membaca buku dan majalah.

I‘rab Ma‘ṭūf:
الْمَجَلَّةَ: مَعْطُوفٌ عَلَى الْكِتَابِ مَنْصُوبٌ، وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ.
Rumus Praktis Membaca Kitab:
حَدِّدِ الْمَعْطُوفَ عَلَيْهِ، ثُمَّ حَرْفَ الْعَطْفِ، ثُمَّ الْمَعْطُوفَ، ثُمَّ حَدِّدْ إِعْرَابَهُ.
Temukan ma‘ṭūf ‘alaih, huruf ‘aṭaf, dan ma‘ṭūf, kemudian tentukan i‘rabnya.

13. Kesalahan yang Sering Terjadi

A. Menganggap Semua Wāwu sebagai Huruf ‘Aṭaf

Tidak semua wāwu merupakan huruf ‘aṭaf.

جَاءَ زَيْدٌ وَهُوَ يَضْحَكُ

Zaid datang dalam keadaan tertawa.

Pada contoh tersebut, wāwu berfungsi sebagai wāwu ḥāl yang mengantarkan keterangan keadaan.

B. Menganggap Semua Huruf ‘Aṭaf Memiliki Makna yang Sama

Perhatikan perbedaan makna antara wāwu, fā’, dan ṡumma.

دَخَلَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو
دَخَلَ زَيْدٌ فَعَمْرٌو
دَخَلَ زَيْدٌ ثُمَّ عَمْرٌو

Ketiga kalimat tersebut tidak memberikan informasi yang sama mengenai urutan dan jeda peristiwa.

C. Menganggap Ma‘ṭūf Selalu Memiliki Tanda I‘rab yang Sama

Ma‘ṭūf mengikuti kedudukan i‘rab, tetapi tanda i‘rab dapat berbeda berdasarkan bentuk kata.

حَضَرَ الطَّالِبُ وَالْمُعَلِّمُونَ

Kata Aṭ-Ṭālib menggunakan ḍammah, sedangkan Al-Mu‘allimūn menggunakan wāwu. Keduanya tetap berkedudukan marfū‘.

D. Menganggap Semua Kata Setelah Ḥattā sebagai Ma‘ṭūf

Ḥattā dapat menjadi huruf ‘aṭaf, huruf jarr, atau huruf ibtidā’.

Karena itu, fungsi Ḥattā perlu ditentukan sebelum memberikan harakat kepada kata sesudahnya.

E. Menyamakan Bal Setelah Kalimat Positif dan Negatif

Bal setelah kalimat positif mengalihkan penetapan hukum kepada unsur kedua, sedangkan setelah penafian, penafian unsur pertama tetap berlaku dan hukum yang berlawanan ditetapkan bagi unsur kedua.

F. Menganggap Semua ‘Aṭaf Harus Memiliki Huruf Penghubung

‘Aṭaf nasq menggunakan huruf penghubung, sedangkan ‘aṭaf bayān tidak menggunakan huruf penghubung antara unsur penjelas dan unsur yang dijelaskannya.

14. Latihan Menentukan ‘Aṭaf dan Pembahasannya

Tentukan ma‘ṭūf ‘alaih, huruf ‘aṭaf, ma‘ṭūf, kedudukan i‘rab, dan tanda i‘rabnya pada kalimat berikut.

  1. جَاءَ زَيْدٌ وَخَالِدٌ
  2. رَأَيْتُ الْمُعَلِّمَ وَالطَّالِبَ
  3. مَرَرْتُ بِالْمُدِيرِ وَالْمُعَلِّمِ
  4. دَخَلَ زَيْدٌ ثُمَّ عَمْرٌو
  5. حَضَرَ الطَّالِبُ وَالْمُعَلِّمُونَ
  6. مَا حَضَرَ زَيْدٌ بَلْ خَالِدٌ
  7. أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسِهَا
  8. جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ
Lihat Jawaban dan Pembahasan
1. Jawaban Pertama
خَالِدٌ: مَعْطُوفٌ عَلَى زَيْدٍ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.

Ma‘ṭūf ‘alaih adalah Zaid, huruf ‘aṭaf adalah wāwu, dan ma‘ṭūf adalah Khalid.

2. Jawaban Kedua
الطَّالِبَ: مَعْطُوفٌ عَلَى الْمُعَلِّمِ مَنْصُوبٌ، وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ.

Ma‘ṭūf mengikuti kedudukan manṣūb Al-Mu‘allim sebagai maf‘ūl bih.

3. Jawaban Ketiga
الْمُعَلِّمِ: مَعْطُوفٌ عَلَى الْمُدِيرِ مَجْرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ.

Ma‘ṭūf mengikuti kedudukan majrūr Al-Mudīr.

4. Jawaban Keempat
عَمْرٌو: مَعْطُوفٌ عَلَى زَيْدٍ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.

Huruf penghubungnya adalah ṡumma yang menunjukkan urutan dengan jeda.

5. Jawaban Kelima
الْمُعَلِّمُونَ: مَعْطُوفٌ عَلَى الطَّالِبِ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الْوَاوُ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ.

Kedua unsur berkedudukan marfū‘, tetapi tanda i‘rabnya berbeda.

6. Jawaban Keenam
خَالِدٌ: مَعْطُوفٌ عَلَى زَيْدٍ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.

Huruf Bal muncul setelah penafian, sehingga pernyataan tersebut menafikan kedatangan Zaid dan menetapkan kedatangan Khalid.

7. Jawaban Ketujuh
حَتَّى: حَرْفُ جَرٍّ مَبْنِيٌّ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
رَأْسِهَا: اسْمٌ مَجْرُورٌ بِحَتَّى، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ.

Ḥattā dalam contoh ini merupakan huruf jarr, bukan huruf ‘aṭaf. Oleh karena itu, Ra’sihā bukan ma‘ṭūf.

8. Jawaban Kedelapan
عُمَرُ: عَطْفُ بَيَانٍ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.

Pada analisis sebagai ‘aṭaf bayān, Umar memperjelas identitas khalifah. Tidak terdapat huruf penghubung antara keduanya.

Dalam konteks tertentu, susunan yang sama juga memungkinkan analisis sebagai badal muṭābiq.

15. Ringkasan Kaidah ‘Aṭaf

Pembahasan Kaidah Contoh
‘Aṭaf Nasq Menggunakan huruf ‘aṭaf. جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو
‘Aṭaf Bayān Memperjelas unsur sebelumnya. جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ
Hukum I‘rab Ma‘ṭūf mengikuti kedudukan ma‘ṭūf ‘alaih. الْمَعْطُوفُ يَتْبَعُ الْمَعْطُوفَ عَلَيْهِ فِي إِعْرَابِهِ
Wāwu Menggabungkan tanpa memastikan urutan. جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو
Fā’ Urutan dengan kedekatan. جَاءَ زَيْدٌ فَعَمْرٌو
Ṡumma Urutan dengan jeda. جَاءَ زَيْدٌ ثُمَّ عَمْرٌو
Rumus Cepat Menentukan ‘Aṭaf
  1. Temukan huruf penghubung dan pastikan fungsinya.
  2. Tentukan ma‘ṭūf ‘alaih.
  3. Tentukan ma‘ṭūf.
  4. Kenali hubungan makna antara kedua unsur.
  5. Tentukan kedudukan i‘rab ma‘ṭūf ‘alaih.
  6. Terapkan kedudukan tersebut pada ma‘ṭūf sesuai bentuk katanya.
  7. Tuliskan i‘rab lengkap dalam bahasa Arab.

16. Penutup

‘Aṭaf merupakan salah satu pembahasan penting dalam ilmu nahwu karena membantu pembaca memahami hubungan antarkata dan antarkalimat.

Dalam ‘aṭaf nasq, huruf penghubung berfungsi menghubungkan unsur dan dapat memberikan hubungan makna tertentu. Sementara itu, ‘aṭaf bayān berfungsi memperjelas unsur sebelumnya tanpa menggunakan huruf ‘aṭaf.

Bagi pembaca yang sedang belajar membaca kitab tanpa harakat, kemampuan menentukan ma‘ṭūf ‘alaih dan ma‘ṭūf akan memudahkan penentuan kedudukan i‘rab dan pemilihan harakat akhir kata.

Mulailah dengan memahami wāwu, fā’, dan ṡumma, kemudian kuasai i‘rab ma‘ṭūf dalam keadaan raf‘, naṣb, dan jarr.

Setelah memahami pola dasar tersebut, lanjutkan ke pembahasan huruf ‘aṭaf lainnya, ‘aṭaf bayān, dan contoh-contoh yang memungkinkan perbedaan analisis.

Daftar Referensi

Pembahasan ‘aṭaf dalam artikel ini disusun berdasarkan kaidah nahwu klasik dan beberapa sumber pembelajaran bahasa Arab. Penjelasan serta contoh latihan disajikan kembali dengan bahasa yang lebih sederhana untuk membantu pembaca pemula.

  1. Ibnu Ājurrūm. Al-Muqaddimah al-Ājurrūmiyyah, Bab ‘Aṭaf (بَابُ الْعَطْفِ).
    Baca naskah Arab Al-Ājurrūmiyyah .
  2. Muḥammad Muḥyī al-Dīn ‘Abd al-Ḥamīd. Al-Tuḥfah al-Saniyyah bi-Syarḥ al-Muqaddimah al-Ājurrūmiyyah, Bab ‘Aṭaf.
    Baca pembahasan Bab ‘Aṭaf .
  3. Ibnu ‘Aqīl. Syarḥ Ibn ‘Aqīl ‘alā Alfiyyah Ibn Mālik, pembahasan ‘Aṭaf Nasq, khususnya fungsi huruf Bal.
    Baca pembahasan huruf ‘aṭaf dalam Syarḥ Ibn ‘Aqīl .
  4. Alukah. Ḥarf Ḥattā fī al-Naḥw (حَرْفُ حَتَّى فِي النَّحْوِ). Pembahasan Ḥattā sebagai huruf ‘aṭaf, huruf jarr, dan huruf ibtidā’.
    Baca pembahasan fungsi Ḥattā .
  5. Ibnu ‘Aqīl. Syarḥ Ibn ‘Aqīl ‘alā Alfiyyah Ibn Mālik, pembahasan ‘Aṭaf Bayān dan perbedaannya dengan badal.
    Baca pembahasan ‘Aṭaf Bayān dan Badal .
  6. Al-Qur’an. Surah Al-Baqarah [2]: 43 dan Surah An-Naḥl [16]: 90.
    Baca QS. Al-Baqarah ayat 43 .
    Baca QS. An-Naḥl ayat 90 .
Catatan pembelajaran: Artikel ini merupakan materi pembelajaran tingkat dasar hingga menengah dengan bagian lanjutan sebagai pengayaan. Beberapa huruf ‘aṭaf memiliki persyaratan penggunaan dan perbedaan analisis di antara ahli nahwu. Untuk pembahasan yang lebih mendalam, pembaca dapat merujuk langsung kepada kitab-kitab yang tercantum di atas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunitas Pembelajar

Ikuti Sukri Almarosy

Jadilah bagian dari komunitas pembelajar PBJ, kepemimpinan, dan pengembangan kompetensi ASN. Dengan menjadi follower, materi terbaru lebih mudah ditemukan melalui Daftar Bacaan Blogger Anda.

  • Mengetahui pembaruan artikel dan materi pembelajaran lebih cepat.
  • Mudah kembali ke panduan PBJ, simulasi, dan pembahasan terbaru.
  • Gratis, aman melalui akun Google, dan dapat berhenti mengikuti kapan saja.

✓ Menjadi Followers

Klik tombol di bawah, masuk dengan akun Google, lalu pilih mengikuti secara publik atau anonim.

✓ Ikuti di Blogger Nama dan foto profil hanya tampil jika Anda memilih mengikuti secara publik.

Mulai Belajar Hari Ini

Pengetahuan yang tepat membuat kita bekerja lebih tenang dan profesional.

Jelajahi Rumah Belajar ASN