Ketika membaca kitab Arab tanpa harakat, kita sering menemukan dua kata yang dihubungkan oleh huruf seperti وَ, فَ, dan ثُمَّ.
Perhatikan kalimat berikut:
Zaid dan Amr telah datang.
Mengapa kata عَمْرٌو dibaca dengan ḍammah? Mengapa tidak dibaca dengan fatḥah atau kasrah?
Jawabannya berkaitan dengan salah satu pembahasan penting dalam ilmu nahwu, yaitu ‘aṭaf atau athaf (الْعَطْفُ).
‘Aṭaf bukan hanya menghubungkan dua kata. Kita juga perlu mengetahui hubungan antara unsur yang dihubungkan, makna huruf penghubung, serta bagaimana kedudukan i‘rab unsur sebelumnya memengaruhi unsur sesudahnya.
Melalui artikel ini, kita akan mempelajari pengertian ‘aṭaf, dua jenis utamanya, huruf-huruf ‘aṭaf, hukum i‘rab, contoh berharakat, penerapannya dalam Al-Qur’an, serta cara menentukan ‘aṭaf ketika membaca kitab tanpa harakat.
Ringkasan 60 Detik
- ‘Aṭaf termasuk kelompok at-tawābi‘ dalam ilmu nahwu.
- ‘Aṭaf terbagi menjadi ‘aṭaf nasq dan ‘aṭaf bayān.
- ‘Aṭaf nasq menggunakan huruf penghubung.
- ‘Aṭaf bayān memperjelas unsur sebelumnya tanpa huruf penghubung.
- Unsur sebelum huruf ‘aṭaf disebut ma‘ṭūf ‘alaih.
- Unsur pengikut disebut ma‘ṭūf.
- Ma‘ṭūf mengikuti kedudukan i‘rab ma‘ṭūf ‘alaih.
Artinya: Ma‘ṭūf mengikuti ma‘ṭūf ‘alaih dalam i‘rabnya.
Kata عَمْرٌو mengikuti kedudukan kata زَيْدٌ, sehingga keduanya marfū‘.
1. Pengertian ‘Aṭaf dalam Ilmu Nahwu
Materi DasarSecara bahasa, ‘aṭaf (الْعَطْفُ) memiliki makna kecenderungan atau mengarahkan sesuatu kepada sesuatu yang lain.
Dalam ilmu nahwu, ‘aṭaf merupakan pembahasan mengenai unsur pengikut yang dihubungkan dengan unsur sebelumnya menggunakan huruf ‘aṭaf atau berfungsi memperjelas unsur sebelumnya tanpa huruf penghubung.
Dua bentuk tersebut dikenal sebagai:
Untuk memahami pola yang paling sederhana, perhatikan contoh berikut.
Zaid dan Amr telah datang.
Pada kalimat tersebut, Zaid merupakan fā‘il yang berkedudukan marfū‘.
Amr dihubungkan dengan Zaid melalui huruf wāwu sehingga mengikuti kedudukan raf‘ Zaid.
I‘rab Amr:Rujukan: Al-Ājurrūmiyyah, Bab ‘Aṭaf [1].
2. Unsur-Unsur dalam ‘Aṭaf Nasq
Dalam ‘aṭaf nasq terdapat tiga unsur utama yang perlu dikenali.
| Unsur | Istilah Arab | Fungsi |
|---|---|---|
| Ma‘ṭūf ‘alaih | الْمَعْطُوفُ عَلَيْهِ | Unsur sebelumnya yang menjadi tempat penyandaran ‘aṭaf. |
| Huruf ‘aṭaf | حَرْفُ الْعَطْفِ | Huruf yang menghubungkan dua unsur. |
| Ma‘ṭūf | الْمَعْطُوفُ | Unsur pengikut yang dihubungkan dengan ma‘ṭūf ‘alaih. |
Contoh Penerapan
Muhammad dan Khalid telah hadir.
- مُحَمَّدٌ adalah ma‘ṭūf ‘alaih.
- وَ adalah huruf ‘aṭaf.
- خَالِدٌ adalah ma‘ṭūf.
Karena Muhammad berkedudukan marfū‘ sebagai fā‘il, Khalid sebagai ma‘ṭūf juga marfū‘.
3. ‘Aṭaf Termasuk Kelompok At-Tawābi‘
Dalam ilmu nahwu, ‘aṭaf termasuk kelompok at-tawābi‘.
At-tawābi‘ merupakan kelompok unsur pengikut yang mengikuti kedudukan i‘rab kata sebelumnya.
Keempat pembahasan tersebut memiliki fungsi yang berbeda, tetapi sama-sama mengenal hubungan pengikutan dalam i‘rab.
4. Dua Jenis ‘Aṭaf dalam Ilmu Nahwu
Secara umum, ‘aṭaf dibagi menjadi dua jenis.
| Jenis | Pengertian | Contoh |
|---|---|---|
| ‘Aṭaf Nasq | Menghubungkan unsur menggunakan huruf ‘aṭaf. | جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو |
| ‘Aṭaf Bayān | Memperjelas identitas atau maksud unsur sebelumnya tanpa huruf ‘aṭaf. | جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ |
5. ‘Aṭaf Nasq
Materi Dasar‘Aṭaf nasq merupakan unsur pengikut yang dihubungkan dengan unsur sebelumnya melalui salah satu huruf ‘aṭaf.
A. Menghubungkan Dua Unsur Marfū‘
Muhammad dan Ali telah datang.
B. Menghubungkan Dua Unsur Manṣūb
Saya membaca sebuah buku dan sebuah majalah.
C. Menghubungkan Dua Unsur Majrūr
Saya melewati Zaid dan Khalid.
6. Sepuluh Huruf ‘Aṭaf Menurut Al-Ājurrūmiyyah
Materi MenengahDalam matan Al-Ājurrūmiyyah, disebutkan sepuluh huruf ‘aṭaf.
Penyebutan sepuluh huruf tersebut mengikuti matan Al-Ājurrūmiyyah. Namun, sebagian ahli nahwu tidak menggolongkan Immā sebagai huruf ‘aṭaf sehingga menghitung sembilan huruf.
| No. | Huruf | Fungsi atau Makna Utama |
|---|---|---|
| 1 | وَ | Menggabungkan tanpa menetapkan urutan. |
| 2 | فَ | Menunjukkan urutan yang berdekatan. |
| 3 | ثُمَّ | Menunjukkan urutan dengan jeda. |
| 4 | أَوْ | Pilihan atau salah satu kemungkinan, sesuai konteks. |
| 5 | أَمْ | Meminta penentuan salah satu pilihan dalam pertanyaan. |
| 6 | إِمَّا | Perincian atau pilihan; statusnya sebagai huruf ‘aṭaf diperselisihkan. |
| 7 | بَلْ | Mengalihkan penetapan hukum kepada unsur sesudahnya. |
| 8 | لَا | Meniadakan hukum dari unsur sesudahnya. |
| 9 | لَكِنْ | Menetapkan hukum yang berlawanan dengan unsur sebelumnya dalam susunan tertentu. |
| 10 | حَتَّى | Menyertakan unsur yang menjadi batas atau bagian akhir, dengan syarat tertentu. |
A. Wāwu — وَ
Wāwu menggabungkan dua unsur tanpa dengan sendirinya menentukan unsur mana yang lebih dahulu melakukan suatu perbuatan.
Zaid dan Khalid telah hadir.
Kalimat ini menyatakan bahwa keduanya hadir, tetapi tidak memastikan siapa yang datang terlebih dahulu.
B. Fā’ — فَ
Fā’ menunjukkan urutan dan kedekatan antara dua peristiwa sesuai dengan konteksnya.
Zaid masuk, kemudian Amr menyusulnya.
Masuknya Amr terjadi sesudah Zaid dengan kedekatan waktu yang dipahami menurut konteks peristiwa.
C. Ṡumma — ثُمَّ
Ṡumma menunjukkan urutan disertai adanya jeda antara unsur atau peristiwa yang dihubungkan.
Zaid masuk, kemudian setelah suatu jeda Amr masuk.
Wāwu = menggabungkan, tanpa memastikan urutan.
Fā’ = berurutan dengan kedekatan.
Ṡumma = berurutan dengan jeda.
D. Aw — أَوْ
Aw dapat menunjukkan pilihan atau kebolehan memilih salah satu maupun keduanya, sesuai konteks.
Bacalah sebuah buku atau sebuah majalah.
Dalam contoh ini, aw memberikan pilihan bahan bacaan.
E. Am — أَمْ
Am muttaṣilah digunakan dalam pola pertanyaan untuk meminta penentuan salah satu dari dua kemungkinan.
Apakah engkau mempelajari nahwu atau sharaf?
Pembicara meminta kepastian mengenai salah satu mata pelajaran yang dipelajari.
F. Immā — إِمَّا
Materi LanjutanImmā digunakan untuk menunjukkan pilihan atau perincian.
Pilihlah sebuah buku atau sebuah majalah.
Al-Ājurrūmiyyah mencantumkan Immā dalam daftar sepuluh huruf ‘aṭaf.
Namun, menurut pendapat yang tidak menggolongkan Immā sebagai huruf ‘aṭaf, huruf penghubung dalam susunan seperti contoh tersebut adalah wāwu sebelum Immā yang kedua.
Dengan demikian, kata majallah tetap dapat dianalisis sebagai ma‘ṭūf, tetapi terdapat perbedaan pendapat mengenai unsur yang dianggap sebagai huruf penghubungnya.
Untuk pemula, cukup pahami fungsi Immā sebagai penanda pilihan. Perbedaan pendapat mengenai kedudukan hurufnya dapat dipelajari lebih lanjut.
Rujukan: Al-Ājurrūmiyyah [1] dan Al-Tuḥfah al-Saniyyah [2].
G. Bal — بَلْ
Bal digunakan untuk mengalihkan penetapan hukum dari unsur sebelumnya kepada unsur sesudahnya.
Maknanya perlu dibedakan berdasarkan apakah kalimat sebelumnya berbentuk positif atau negatif.
1. Bal setelah kalimat positif
Semula disebut Zaid yang datang, tetapi yang dimaksud adalah Amr.
Kalimat tersebut mengalihkan penetapan kedatangan kepada Amr. Pernyataan sebelumnya mengenai kedatangan Zaid diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak lagi dipastikan oleh susunan tersebut.
Karena itu, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa Zaid pasti tidak datang tanpa mempertimbangkan konteks.
2. Bal setelah kalimat negatif
Zaid tidak datang, tetapi Amr datang.
Pada susunan ini, penafian kedatangan Zaid tetap berlaku, sedangkan kedatangan ditetapkan kepada Amr.
I‘rab Amr:H. Lā — لَا
Lā sebagai huruf ‘aṭaf dalam pola dasar digunakan untuk menetapkan hukum kepada unsur pertama dan meniadakannya dari unsur kedua.
Zaid hadir, bukan Khalid.
Kedatangan ditetapkan bagi Zaid dan ditiadakan dari Khalid.
I. Lākin — لَكِنْ
Lākin dapat menjadi huruf ‘aṭaf dalam pola tertentu, terutama ketika didahului penafian atau larangan, diikuti unsur tunggal, dan tidak didahului wāwu penghubung.
Zaid tidak hadir, tetapi Khalid hadir.
Kata Khalid merupakan ma‘ṭūf kepada Zaid dan berkedudukan marfū‘.
J. Ḥattā — حَتَّى
Materi LanjutanḤattā dapat berfungsi sebagai huruf ‘aṭaf jika memenuhi ketentuan tertentu, antara lain unsur sesudahnya menjadi bagian atau unsur yang tercakup dalam unsur sebelumnya dan berfungsi sebagai batas atau puncak yang dimaksud.
Namun, Ḥattā tidak selalu menjadi huruf ‘aṭaf. Ia juga dapat berfungsi sebagai huruf jarr atau huruf ibtidā’.
Contoh: Tiga Kemungkinan I‘rab Ḥattā
Perhatikan perubahan harakat kata ra’s pada tiga kalimat berikut.
| Kalimat Arab | Fungsi Ḥattā | I‘rab Ra’s |
|---|---|---|
| أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسَهَا | Huruf ‘aṭaf | Manṣūb dengan fatḥah. |
| أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسِهَا | Huruf jarr | Majrūr dengan kasrah. |
| أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسُهَا | Huruf ibtidā’ | Marfū‘ sebagai mubtada’. |
1. Ḥattā sebagai huruf ‘aṭaf
Saya memakan ikan itu, termasuk kepalanya.
2. Ḥattā sebagai huruf jarr
Pada bentuk ini, Ḥattā berfungsi sebagai huruf jarr yang menunjukkan batas.
3. Ḥattā sebagai huruf ibtidā’
Pada bentuk ini, Ḥattā mengantarkan kalimat baru yang dimulai dengan mubtada’.
Khabarnya dipahami dari konteks, misalnya:
Bahkan kepalanya pun dimakan.
Satu susunan yang hampir sama dapat memiliki tiga kemungkinan i‘rab berdasarkan fungsi Ḥattā dan harakat kata sesudahnya.
Saat membaca kitab tanpa harakat, jangan menentukan kedudukan kata sesudah Ḥattā secara otomatis. Perhatikan hubungan antarkata dan makna kalimat terlebih dahulu.
Rujukan: Pembahasan Ḥattā dalam ilmu nahwu [4].
7. Hukum I‘rab ‘Aṭaf
Materi MenengahHukum dasar ‘aṭaf nasq adalah bahwa ma‘ṭūf mengikuti kedudukan i‘rab ma‘ṭūf ‘alaih.
A. ‘Aṭaf pada Isim Marfū‘
B. ‘Aṭaf pada Isim Manṣūb
C. ‘Aṭaf pada Isim Majrūr
D. ‘Aṭaf pada Fi‘il Muḍāri‘ Majzūm
Zaid tidak menulis dan tidak menggambar.
E. Tanda I‘rab Berbeda, tetapi Kedudukannya Sama
Direktur dan para guru telah hadir.
Kedua isim tersebut sama-sama marfū‘, tetapi tanda raf‘-nya berbeda.
Al-Mudīr menggunakan ḍammah karena berbentuk isim mufrad, sedangkan Al-Mu‘allimūn menggunakan wāwu karena berbentuk jamak mudzakkar sālim.
8. ‘Aṭaf Bayān dan Perbedaannya dengan Badal
Materi Lanjutan‘Aṭaf bayān merupakan unsur pengikut, umumnya berupa isim jāmid, yang digunakan untuk memperjelas atau mengkhususkan unsur sebelumnya.
A. Contoh ‘Aṭaf Bayān
Khalifah Umar telah datang.
Kata Al-Khalīfah menyebutkan jabatan, sedangkan kata Umar memperjelas siapa khalifah yang dimaksud.
I‘rab:Analisis tersebut digunakan ketika kata Umar dipahami sebagai unsur yang memperjelas identitas khalifah.
B. Mengapa ‘Aṭaf Bayān Mirip dengan Badal?
‘Aṭaf bayān dan badal muṭābiq mempunyai hubungan yang sangat dekat. Dalam banyak susunan, kata kedua memungkinkan dua analisis berdasarkan struktur dan pendekatan yang digunakan.
| Aspek | ‘Aṭaf Bayān | Badal Muṭābiq |
|---|---|---|
| Fungsi | Memperjelas atau mengkhususkan unsur sebelumnya. | Unsur kedua menjadi sasaran utama hukum dalam susunan badal. |
| Hubungan | Unsur kedua berfungsi sebagai penjelas unsur pertama. | Unsur kedua diperlakukan sebagai sasaran utama pernyataan. |
| Contoh | جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ | جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ |
Perbedaan fungsi tersebut membantu memahami kedua istilah, tetapi bukan aturan mutlak bahwa setiap kalimat hanya dapat memiliki satu analisis.
C. Contoh Ketika ‘Aṭaf Bayān Tidak Dapat Diganti dengan Badal
PengayaanDalam Syarḥ Ibn ‘Aqīl dibahas contoh:
Wahai anak muda yang bernama Ya‘mar!
Pada contoh klasik ini, Ya‘mar merupakan nama orang dan berfungsi sebagai ‘aṭaf bayān yang mengikuti kedudukan naṣb secara maḥallī dari kata Ghulām.
Kata Ghulām sebagai munādā mufrad ma‘rifah dibina di atas ḍammah dan berkedudukan naṣb secara maḥallī.
Jika Ya‘mar dianalisis sebagai badal dalam pola ini, berlaku konsekuensi pengulangan ‘āmil nidā’. Nama tersebut akan diperlakukan sebagai munādā tersendiri, sehingga tidak sesuai dengan bentuk naṣb yang terdapat pada contoh.
Karena itu, dalam analisis yang dijelaskan Ibn ‘Aqīl, Ya‘maran pada susunan tersebut ditetapkan sebagai ‘aṭaf bayān, bukan badal.
9. Perbedaan ‘Aṭaf dengan Tawābi‘ Lain
Untuk mempermudah pembaca mengenali ‘aṭaf dalam kalimat Arab, perhatikan perbandingan berikut.
| Jenis | Fungsi | Contoh Arab |
|---|---|---|
| Na‘at | Menjelaskan sifat isim. | جَاءَ الطَّالِبُ الْمُجْتَهِدُ |
| Taukīd | Memberikan penegasan. | جَاءَ الطَّالِبُ نَفْسُهُ |
| ‘Aṭaf Nasq | Menghubungkan unsur melalui huruf ‘aṭaf. | جَاءَ الطَّالِبُ وَالْمُعَلِّمُ |
| ‘Aṭaf Bayān | Memperjelas unsur sebelumnya. | جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ |
| Badal | Unsur pengikut menjadi sasaran utama hukum. | جَاءَ أَخُوكَ خَالِدٌ |
Na‘at = menjelaskan sifat.
Taukīd = menguatkan kepastian.
‘Aṭaf Nasq = menghubungkan unsur dengan huruf ‘aṭaf.
‘Aṭaf Bayān = memperjelas identitas.
Badal = unsur pengikut menjadi sasaran utama hukum.
10. Contoh Analisis I‘rab Lengkap
A. Contoh ‘Aṭaf Marfū‘
Guru dan siswa telah hadir.
B. Contoh ‘Aṭaf Manṣūb
Saya melihat guru dan siswa.
C. Contoh ‘Aṭaf Majrūr
Saya mengucapkan salam kepada guru dan siswa.
11. Contoh ‘Aṭaf dalam Al-Qur’an
A. QS. Al-Baqarah Ayat 43
Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.
QS. Al-Baqarah [2]: 43
Dalam ayat ini, terdapat beberapa fi‘il amr yang dihubungkan menggunakan huruf wāwu.
Perhatikan hubungan antara fi‘il pertama dan kedua.
Fi‘il Ātū dihubungkan dengan fi‘il Aqīmū oleh huruf wāwu.
B. QS. An-Naḥl Ayat 90
Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi bantuan kepada kerabat.
QS. An-Naḥl [16]: 90, penggalan ayat.
Perhatikan tiga unsur berikut:
Kata Al-‘Adl berkedudukan majrūr karena didahului huruf bā’.
Kata Al-Iḥsān dan Ītā’ dihubungkan melalui huruf wāwu dan mengikuti kedudukan jarr unsur sebelumnya.
I‘rab Al-Iḥsān:Contoh ini menunjukkan bahwa beberapa unsur dapat dihubungkan secara berurutan dan mengikuti kedudukan i‘rab unsur yang menjadi ma‘ṭūf ‘alaih.
12. Praktik Menentukan ‘Aṭaf ketika Membaca Kitab Tanpa Harakat
Latihan PraktikKetika membaca kitab tanpa harakat, kita tidak boleh langsung menentukan harakat akhir sebuah kata hanya karena terdapat huruf wāwu di depannya.
Temukan terlebih dahulu hubungan kata dan kedudukan ma‘ṭūf ‘alaih.
Langkah Pertama: Bacalah Kalimat Tanpa Harakat
Langkah Kedua: Tentukan Fi‘il dan Fā‘il
Kata قرأ merupakan fi‘il māḍī.
Kata الطالب merupakan fā‘il.
Karena fā‘il berkedudukan marfū‘, kata tersebut dibaca:
Langkah Ketiga: Tentukan Maf‘ūl Bih
Kata الكتاب menjadi objek yang dibaca.
Karena berkedudukan sebagai maf‘ūl bih, kata tersebut dibaca:
Langkah Keempat: Tentukan Huruf ‘Aṭaf
Setelah kata Al-Kitāb terdapat huruf wāwu yang menghubungkannya dengan kata Al-Majallah.
- Ma‘ṭūf ‘alaih adalah الْكِتَابَ.
- Huruf ‘aṭaf adalah وَ.
- Ma‘ṭūf adalah الْمَجَلَّةَ.
Langkah Kelima: Tentukan Harakat Ma‘ṭūf
Karena ma‘ṭūf ‘alaih berkedudukan manṣūb, ma‘ṭūf juga berkedudukan manṣūb.
Langkah Keenam: Baca Kalimat secara Lengkap
Siswa itu telah membaca buku dan majalah.
I‘rab Ma‘ṭūf:13. Kesalahan yang Sering Terjadi
A. Menganggap Semua Wāwu sebagai Huruf ‘Aṭaf
Tidak semua wāwu merupakan huruf ‘aṭaf.
Zaid datang dalam keadaan tertawa.
Pada contoh tersebut, wāwu berfungsi sebagai wāwu ḥāl yang mengantarkan keterangan keadaan.
B. Menganggap Semua Huruf ‘Aṭaf Memiliki Makna yang Sama
Perhatikan perbedaan makna antara wāwu, fā’, dan ṡumma.
Ketiga kalimat tersebut tidak memberikan informasi yang sama mengenai urutan dan jeda peristiwa.
C. Menganggap Ma‘ṭūf Selalu Memiliki Tanda I‘rab yang Sama
Ma‘ṭūf mengikuti kedudukan i‘rab, tetapi tanda i‘rab dapat berbeda berdasarkan bentuk kata.
Kata Aṭ-Ṭālib menggunakan ḍammah, sedangkan Al-Mu‘allimūn menggunakan wāwu. Keduanya tetap berkedudukan marfū‘.
D. Menganggap Semua Kata Setelah Ḥattā sebagai Ma‘ṭūf
Ḥattā dapat menjadi huruf ‘aṭaf, huruf jarr, atau huruf ibtidā’.
Karena itu, fungsi Ḥattā perlu ditentukan sebelum memberikan harakat kepada kata sesudahnya.
E. Menyamakan Bal Setelah Kalimat Positif dan Negatif
Bal setelah kalimat positif mengalihkan penetapan hukum kepada unsur kedua, sedangkan setelah penafian, penafian unsur pertama tetap berlaku dan hukum yang berlawanan ditetapkan bagi unsur kedua.
F. Menganggap Semua ‘Aṭaf Harus Memiliki Huruf Penghubung
‘Aṭaf nasq menggunakan huruf penghubung, sedangkan ‘aṭaf bayān tidak menggunakan huruf penghubung antara unsur penjelas dan unsur yang dijelaskannya.
14. Latihan Menentukan ‘Aṭaf dan Pembahasannya
Tentukan ma‘ṭūf ‘alaih, huruf ‘aṭaf, ma‘ṭūf, kedudukan i‘rab, dan tanda i‘rabnya pada kalimat berikut.
- جَاءَ زَيْدٌ وَخَالِدٌ
- رَأَيْتُ الْمُعَلِّمَ وَالطَّالِبَ
- مَرَرْتُ بِالْمُدِيرِ وَالْمُعَلِّمِ
- دَخَلَ زَيْدٌ ثُمَّ عَمْرٌو
- حَضَرَ الطَّالِبُ وَالْمُعَلِّمُونَ
- مَا حَضَرَ زَيْدٌ بَلْ خَالِدٌ
- أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسِهَا
- جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ
Lihat Jawaban dan Pembahasan
Ma‘ṭūf ‘alaih adalah Zaid, huruf ‘aṭaf adalah wāwu, dan ma‘ṭūf adalah Khalid.
Ma‘ṭūf mengikuti kedudukan manṣūb Al-Mu‘allim sebagai maf‘ūl bih.
Ma‘ṭūf mengikuti kedudukan majrūr Al-Mudīr.
Huruf penghubungnya adalah ṡumma yang menunjukkan urutan dengan jeda.
Kedua unsur berkedudukan marfū‘, tetapi tanda i‘rabnya berbeda.
Huruf Bal muncul setelah penafian, sehingga pernyataan tersebut menafikan kedatangan Zaid dan menetapkan kedatangan Khalid.
Ḥattā dalam contoh ini merupakan huruf jarr, bukan huruf ‘aṭaf. Oleh karena itu, Ra’sihā bukan ma‘ṭūf.
Pada analisis sebagai ‘aṭaf bayān, Umar memperjelas identitas khalifah. Tidak terdapat huruf penghubung antara keduanya.
Dalam konteks tertentu, susunan yang sama juga memungkinkan analisis sebagai badal muṭābiq.
15. Ringkasan Kaidah ‘Aṭaf
| Pembahasan | Kaidah | Contoh |
|---|---|---|
| ‘Aṭaf Nasq | Menggunakan huruf ‘aṭaf. | جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو |
| ‘Aṭaf Bayān | Memperjelas unsur sebelumnya. | جَاءَ الْخَلِيفَةُ عُمَرُ |
| Hukum I‘rab | Ma‘ṭūf mengikuti kedudukan ma‘ṭūf ‘alaih. | الْمَعْطُوفُ يَتْبَعُ الْمَعْطُوفَ عَلَيْهِ فِي إِعْرَابِهِ |
| Wāwu | Menggabungkan tanpa memastikan urutan. | جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو |
| Fā’ | Urutan dengan kedekatan. | جَاءَ زَيْدٌ فَعَمْرٌو |
| Ṡumma | Urutan dengan jeda. | جَاءَ زَيْدٌ ثُمَّ عَمْرٌو |
- Temukan huruf penghubung dan pastikan fungsinya.
- Tentukan ma‘ṭūf ‘alaih.
- Tentukan ma‘ṭūf.
- Kenali hubungan makna antara kedua unsur.
- Tentukan kedudukan i‘rab ma‘ṭūf ‘alaih.
- Terapkan kedudukan tersebut pada ma‘ṭūf sesuai bentuk katanya.
- Tuliskan i‘rab lengkap dalam bahasa Arab.
16. Penutup
‘Aṭaf merupakan salah satu pembahasan penting dalam ilmu nahwu karena membantu pembaca memahami hubungan antarkata dan antarkalimat.
Dalam ‘aṭaf nasq, huruf penghubung berfungsi menghubungkan unsur dan dapat memberikan hubungan makna tertentu. Sementara itu, ‘aṭaf bayān berfungsi memperjelas unsur sebelumnya tanpa menggunakan huruf ‘aṭaf.
Bagi pembaca yang sedang belajar membaca kitab tanpa harakat, kemampuan menentukan ma‘ṭūf ‘alaih dan ma‘ṭūf akan memudahkan penentuan kedudukan i‘rab dan pemilihan harakat akhir kata.
Mulailah dengan memahami wāwu, fā’, dan ṡumma, kemudian kuasai i‘rab ma‘ṭūf dalam keadaan raf‘, naṣb, dan jarr.
Setelah memahami pola dasar tersebut, lanjutkan ke pembahasan huruf ‘aṭaf lainnya, ‘aṭaf bayān, dan contoh-contoh yang memungkinkan perbedaan analisis.
Daftar Referensi
Pembahasan ‘aṭaf dalam artikel ini disusun berdasarkan kaidah nahwu klasik dan beberapa sumber pembelajaran bahasa Arab. Penjelasan serta contoh latihan disajikan kembali dengan bahasa yang lebih sederhana untuk membantu pembaca pemula.
-
Ibnu Ājurrūm.
Al-Muqaddimah al-Ājurrūmiyyah,
Bab ‘Aṭaf
(بَابُ الْعَطْفِ).
Baca naskah Arab Al-Ājurrūmiyyah . -
Muḥammad Muḥyī al-Dīn ‘Abd al-Ḥamīd.
Al-Tuḥfah al-Saniyyah bi-Syarḥ al-Muqaddimah al-Ājurrūmiyyah,
Bab ‘Aṭaf.
Baca pembahasan Bab ‘Aṭaf . -
Ibnu ‘Aqīl.
Syarḥ Ibn ‘Aqīl ‘alā Alfiyyah Ibn Mālik,
pembahasan ‘Aṭaf Nasq, khususnya fungsi huruf Bal.
Baca pembahasan huruf ‘aṭaf dalam Syarḥ Ibn ‘Aqīl . -
Alukah.
Ḥarf Ḥattā fī al-Naḥw
(حَرْفُ حَتَّى فِي النَّحْوِ).
Pembahasan Ḥattā sebagai huruf ‘aṭaf, huruf jarr, dan huruf ibtidā’.
Baca pembahasan fungsi Ḥattā . -
Ibnu ‘Aqīl.
Syarḥ Ibn ‘Aqīl ‘alā Alfiyyah Ibn Mālik,
pembahasan ‘Aṭaf Bayān dan perbedaannya dengan badal.
Baca pembahasan ‘Aṭaf Bayān dan Badal . -
Al-Qur’an.
Surah Al-Baqarah [2]: 43 dan Surah An-Naḥl [16]: 90.
Baca QS. Al-Baqarah ayat 43 .
Baca QS. An-Naḥl ayat 90 .
Komentar
Posting Komentar