“Pengalaman Sebelum Lulus Kuliah, Apakah Dapat Dihitung? Kajian pada Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi Konstruksi”
Pengalaman Sebelum Lulus Kuliah, Apakah Dapat Dihitung? Kajian Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi Konstruksi
Salah satu persoalan yang cukup sering muncul dalam evaluasi pengadaan jasa konstruksi adalah ketika seorang personel mempunyai pengalaman pekerjaan yang panjang, tetapi sebagian pengalaman tersebut diperoleh sebelum yang bersangkutan lulus dari pendidikan yang kemudian digunakan sebagai dasar kompetensinya.
Misalnya, seseorang telah bekerja pada proyek sejak tahun 2018, tetapi baru lulus D3 atau S1 Teknik Sipil pada tahun 2021. Dalam tender atau seleksi tahun 2026, penyedia mencantumkan pengalaman personel tersebut sejak tahun 2018.
Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak boleh disederhanakan:
Untuk menjawabnya, perlu dibedakan dua rezim pengadaan jasa konstruksi:
- Pekerjaan Konstruksi; dan
- Jasa Konsultansi Konstruksi.
Keduanya memiliki benang merah yang sama: pengalaman personel tidak hanya dilihat dari kapan seseorang pertama kali bekerja, tetapi juga harus dikaitkan dengan pendidikan minimal yang dipersyaratkan untuk memperoleh SKK Konstruksi yang disyaratkan.
1. Pengalaman Faktual Tidak Selalu Sama dengan Pengalaman yang Dapat Dinilai
Hal pertama yang perlu dibedakan adalah antara:
- pengalaman faktual, yaitu pekerjaan yang benar-benar pernah dilakukan seseorang; dan
- pengalaman yang dapat dinilai, yaitu pengalaman yang memenuhi seluruh persyaratan tender atau seleksi.
Seseorang dapat saja benar-benar telah bekerja sejak sebelum lulus kuliah. Pengalaman tersebut merupakan fakta riwayat hidupnya.
Namun dalam pengadaan jasa konstruksi, persoalannya bukan hanya apakah pekerjaan itu pernah dilakukan, tetapi:
2. Pekerjaan Konstruksi: Pendidikan Minimal Menjadi Batas Awal
Dalam ketentuan pengadaan Pekerjaan Konstruksi, pengalaman personel dikaitkan dengan pendidikan minimal yang menjadi dasar untuk memperoleh sertifikat kompetensi yang disyaratkan.
Substansi ketentuan:
Pengalaman kerja yang dinilai dikaitkan dengan pengalaman setelah personel lulus pendidikan minimal sesuai persyaratan untuk memperoleh sertifikat kompetensi yang disyaratkan.
Dalam beberapa dokumen lama masih dapat dijumpai nomenklatur SKA/SKTK. Namun dalam sistem sertifikasi jasa konstruksi saat ini nomenklatur yang digunakan adalah Sertifikat Kompetensi Kerja Konstruksi atau SKK Konstruksi.
3. Bukan Otomatis Sejak Lulus S1
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap semua pengalaman baru dapat dihitung sejak seseorang lulus S1.
Pendekatan tersebut tidak selalu tepat.
Yang harus dicari adalah:
Misalnya seseorang mempunyai riwayat:
- lulus SMK tahun 2016;
- lulus D3 Teknik Sipil tahun 2019;
- lulus S1 Teknik Sipil tahun 2023.
Jika SKK yang dipersyaratkan dapat dipenuhi dengan pendidikan minimal D3, maka tidak tepat apabila evaluator otomatis baru menghitung pengalaman sejak tahun 2023 hanya karena S1 merupakan ijazah tertinggi personel.
Dalam kondisi tersebut, titik analisisnya adalah ketika pendidikan minimal D3 telah terpenuhi, sepanjang seluruh persyaratan lain juga terpenuhi.
4. Ijazah Tertinggi Bukan Selalu Titik Awal Pengalaman
Hal ini penting terutama bagi personel yang menempuh pendidikan secara bertahap.
Contohnya:
- D3 tahun 2018;
- bekerja sejak tahun 2019;
- S1 tahun 2023.
Apabila pendidikan minimal yang dibutuhkan untuk SKK yang disyaratkan adalah D3, maka pengalaman sejak setelah terpenuhinya pendidikan D3 dapat menjadi periode yang dinilai.
5. Pendidikan Hanya Menentukan Batas Paling Awal
Memenuhi pendidikan minimal tidak berarti seseorang otomatis memperoleh pengalaman sejak tanggal kelulusan.
Contoh:
- lulus S1 tahun 2018;
- baru mulai bekerja pada proyek tahun 2021.
Pengalamannya tentu tidak dihitung sejak 2018.
| Batas | Fungsi |
|---|---|
| Pendidikan minimal | Menentukan kapan paling awal pengalaman dapat masuk dalam periode yang dinilai. |
| Pengalaman pekerjaan nyata | Menentukan kapan pengalaman benar-benar mulai diperoleh. |
6. Apa yang Dimaksud Pendidikan Minimal untuk Memperoleh SKK?
Pertanyaan berikutnya adalah: apakah pendidikan minimal itu selalu S1?
Tidak.
Dalam sistem kompetensi kerja konstruksi terdapat jenjang kualifikasi jabatan kerja yang secara umum dikelompokkan menjadi:
- Operator;
- Teknisi/Analis; dan
- Ahli.
Pada kelompok Ahli dikenal antara lain jenjang 7, 8, dan 9. Namun angka jenjang tidak boleh dibaca sendirian. Harus diperiksa pula jabatan kerja, subklasifikasi, program studi, serta skema sertifikasi.
7. Pendidikan dan Pengalaman Diperiksa dalam SKK
Pasal 26 ayat (1)
Dalam proses verifikasi dan validasi persyaratan permohonan SKK Konstruksi dilakukan penilaian terhadap kesesuaian persyaratan, termasuk:
kesesuaian pendidikan dan pengalaman
Norma ini menegaskan bahwa pendidikan dan pengalaman merupakan unsur yang saling terkait dalam pemenuhan kompetensi kerja konstruksi.
8. Cara Menghitung Pengalaman TKK
Pasal 27
Pengalaman tenaga kerja konstruksi pada pokoknya dihitung berdasarkan:
akumulasi waktu bekerja di bidang Jasa Konstruksi
Ketentuan tersebut juga mengatur cara memperhitungkan periode waktu pengalaman.
9. Contoh Hubungan Jenjang Ahli, Pendidikan, dan Pengalaman
Contoh Ahli Jenjang 8
Dalam ketentuan SKK terdapat antara lain jalur pendidikan:
- S1/S1 Terapan/D-IV Terapan dengan pengalaman tertentu; atau
- pendidikan profesi dengan pengalaman tertentu.
Contoh Ahli Jenjang 9
Dapat terdapat beberapa alternatif pendidikan, antara lain:
- S1/S1 Terapan/D-IV Terapan dengan pengalaman lebih panjang;
- pendidikan profesi; atau
- S2/S2 Terapan/Spesialis 1 dengan pengalaman yang berbeda.
10. Contoh Tabel Kaitan Jenjang Jabatan, Pendidikan, dan Pengalaman
| Kualifikasi | Jenjang | Contoh Pendidikan | Karakter Persyaratan Pengalaman | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| Ahli Muda | 7 | S1/S1 Terapan/D-IV Terapan sesuai jabatan kerja | Dapat terdapat skema lulusan baru sesuai ketentuan | Program studi harus sesuai skema SKK. |
| Ahli Madya | 8 | S1/S1 Terapan/D-IV Terapan atau jalur lain sesuai regulasi | Memerlukan pengalaman sesuai jalur pendidikan dan skema sertifikasi | Jangan hanya melihat angka jenjang. |
| Ahli Utama | 9 | S1/D-IV, profesi, atau S2 sesuai skema | Jumlah pengalaman berbeda menurut jalur pendidikan | Program studi dan jabatan kerja tetap harus sesuai. |
| Teknisi/Analis | 4–6 | Dapat berasal dari pendidikan vokasi/teknis sesuai skema jabatan | Mengikuti ketentuan masing-masing jabatan kerja | Tidak semua personel harus berkualifikasi Ahli. |
| Operator | 1–3 | Mengikuti skema kompetensi jabatan kerja | Mengikuti ketentuan kompetensi yang berlaku | Umumnya berkaitan dengan keterampilan operasional. |
11. Contoh Jabatan Kerja
Salah satu contoh yang mudah dipahami adalah bidang gedung.
| Contoh Jabatan Kerja | Kualifikasi | Jenjang | Contoh Bidang Pendidikan |
|---|---|---|---|
| Ahli Muda Teknik Bangunan Gedung | Ahli | 7 | Teknik Sipil atau bidang pendidikan relevan sesuai skema |
| Ahli Madya Teknik Bangunan Gedung | Ahli | 8 | Mengikuti persyaratan skema jabatan kerja |
| Ahli Teknik Bangunan Gedung | Ahli | 9 | Mengikuti persyaratan program studi/skema sertifikasi |
| Manajer Lapangan Pelaksanaan Pekerjaan Gedung | Teknisi/Analis | 6 | Mengikuti persyaratan jabatan kerja yang berlaku |
12. Capture Contoh Program Studi pada Jabatan Kerja
Contoh:
Klasifikasi: Sipil
Subklasifikasi: Gedung
Jabatan Kerja: Ahli Teknik Bangunan Gedung
Contoh program studi yang relevan antara lain:
Teknik Sipil / Pendidikan Teknik Sipil atau Bangunan sesuai skema yang berlaku
13. Kaitannya dengan Pengalaman Sebelum Lulus Kuliah
Dengan memahami tabel di atas, cara evaluasinya menjadi lebih jelas.
Identifikasi SKK dan jabatan kerja yang dipersyaratkan.
Periksa jenjang SKK serta pendidikan/program studi yang dapat digunakan.
Tentukan kapan pendidikan minimal tersebut diperoleh.
Periksa pengalaman nyata setelah titik pendidikan minimal tersebut.
Uji relevansi bidang dan bukti pengalaman.
14. Simulasi Pekerjaan Konstruksi
Andi bekerja pada proyek konstruksi sejak Januari 2018.
Ia baru lulus S1 Teknik Sipil pada Agustus 2021.
Dalam tender tahun 2026, Andi ditawarkan sebagai personel manajerial.
SKK yang dipersyaratkan membutuhkan pendidikan minimal S1 yang relevan.
15. Simulasi Ahli Madya Jenjang 8
Rahman bekerja di proyek sejak 2012.
S1 Teknik Sipil lulus tahun 2016.
Tahun 2026 ditawarkan dengan SKK Ahli Madya Teknik Bangunan Gedung Jenjang 8.
Evaluator tidak boleh langsung menghitung pengalaman sejak 2012.
16. Simulasi: Sudah D3, Kemudian Melanjutkan S1
Budi lulus D3 Teknik Sipil tahun 2018.
Bekerja sejak 2019.
Kemudian lulus S1 tahun 2023.
SKK yang disyaratkan dapat diperoleh berdasarkan pendidikan minimal D3.
17. Jasa Konsultansi Konstruksi
Dalam Jasa Konsultansi Konstruksi, persoalan ini terutama berkaitan dengan pengalaman profesional tenaga ahli.
Substansi ketentuan tenaga ahli menegaskan bahwa pengalaman profesional dikaitkan dengan:
pengalaman kerja setelah lulus pendidikan sesuai pendidikan minimal untuk memperoleh SKK Konstruksi yang dipersyaratkan
18. Simulasi Jasa Konsultansi Konstruksi
Citra mulai terlibat dalam pekerjaan konsultansi tahun 2017 sambil kuliah.
Ia lulus S1 Teknik Sipil tahun 2020.
Dalam seleksi tahun 2026 ia ditawarkan sebagai tenaga ahli.
KAK mensyaratkan SKK dengan pendidikan minimal S1 dan pengalaman profesional minimal 5 tahun.
19. Bekerja Sambil Kuliah: Apakah Otomatis Tidak Dihitung?
Tidak.
Status seseorang sedang kuliah tidak otomatis membuat pengalaman kerjanya gugur.
Seseorang dapat saja:
- sudah lulus D3 lalu bekerja sambil kuliah S1;
- sudah lulus S1 lalu bekerja sambil kuliah S2;
- kuliah kelas karyawan;
- melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja.
20. Kuliah S2 Tidak Menghapus Pengalaman
Misalnya seseorang:
- lulus S1 tahun 2015;
- bekerja sejak 2016;
- kuliah S2 tahun 2020–2022 sambil tetap bekerja.
Jika SKK yang dipersyaratkan hanya memerlukan pendidikan minimal S1, maka pengalaman selama kuliah S2 tetap dapat dinilai sepanjang pengalaman kerjanya nyata dan terbukti.
21. Tanggal SKK Bukan Otomatis Titik Awal Pengalaman
Kesalahan lain adalah menganggap pengalaman baru dihitung sejak SKK diterbitkan.
Contoh:
- lulus S1 tahun 2018;
- mulai bekerja sesuai bidang tahun 2019;
- SKK baru diterbitkan tahun 2022.
1. tanggal terpenuhinya pendidikan minimal;
2. tanggal pengalaman pekerjaan nyata dimulai; dan
3. tanggal SKK diterbitkan.
Tanggal SKK diterbitkan tidak otomatis sama dengan tanggal dimulainya pengalaman.
22. Bagaimana dengan Magang?
Pengalaman magang tidak otomatis sama dengan pengalaman profesional yang dapat dinilai.
Perlu diperiksa:
- apakah dilakukan sebelum atau sesudah pendidikan minimal terpenuhi;
- jenis tugas yang dilakukan;
- relevansinya dengan kompetensi;
- durasi;
- status kegiatan; dan
- bukti pengalaman.
23. Matriks Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi Konstruksi
| Aspek | Pekerjaan Konstruksi | Jasa Konsultansi Konstruksi |
|---|---|---|
| Subjek | Personel manajerial/personel yang dipersyaratkan | Tenaga ahli/personel profesional |
| Pendidikan | Dikaitkan dengan pendidikan minimal untuk SKK yang disyaratkan | Dikaitkan dengan pendidikan minimal untuk SKK tenaga ahli dalam KAK |
| Ijazah tertinggi | Tidak otomatis menjadi titik awal | Tidak otomatis menjadi titik awal |
| Tanggal SKK | Tidak otomatis menjadi awal pengalaman | Tidak otomatis menjadi awal pengalaman |
| Status kuliah | Tidak otomatis menghapus pengalaman | Tidak otomatis menghapus pengalaman |
24. Matriks Keputusan Cepat
| Kondisi | Dapat Dinilai? | Penjelasan |
|---|---|---|
| Bekerja sebelum pendidikan minimal untuk SKK terpenuhi | Tidak untuk periode tersebut | Belum memenuhi batas pendidikan minimal. |
| D3 telah memenuhi syarat SKK, kemudian melanjutkan S1 | Dapat | Pengalaman dapat dihitung setelah pendidikan minimal D3 terpenuhi. |
| S1 telah memenuhi syarat, bekerja sambil kuliah S2 | Dapat | Status kuliah S2 tidak otomatis menghapus pengalaman. |
| SKK terbit belakangan | Tidak otomatis ditolak | Bedakan tanggal SKK dengan tanggal pendidikan minimal dan pekerjaan nyata. |
| Sudah lulus tetapi belum bekerja | Tidak | Ijazah tidak membuktikan pengalaman. |
| Pengalaman hanya di CV tanpa bukti | Tidak otomatis dapat dinilai | Harus memenuhi bukti yang dipersyaratkan. |
25. Rumus Praktis Evaluasi bagi Pokja
Tentukan jenis pengadaan: Pekerjaan Konstruksi atau Jasa Konsultansi Konstruksi.
Identifikasi posisi personel dan jabatan kerja.
Periksa SKK yang dipersyaratkan.
Periksa jenjang dan program studi/pendidikan minimal.
Tentukan kapan pendidikan minimal terpenuhi.
Periksa kapan pengalaman pekerjaan nyata dimulai.
Periksa relevansi bidang pengalaman.
Verifikasi CV, referensi kerja dan bukti pendukung.
Hitung hanya periode pengalaman yang memenuhi seluruh ketentuan.
26. Kesalahan Evaluasi yang Perlu Dihindari
Kesalahan 1 — Semua pengalaman dihitung sejak pertama bekerja
Tidak tepat apabila pada periode awal personel belum memenuhi pendidikan minimal untuk SKK yang dipersyaratkan.
Kesalahan 2 — Semua pengalaman baru dihitung sejak lulus S1
Tidak tepat apabila jenjang pendidikan sebelumnya sudah memenuhi pendidikan minimal untuk SKK.
Kesalahan 3 — Pengalaman baru dihitung sejak SKK terbit
Tidak otomatis demikian. Tanggal SKK harus dibedakan dengan tanggal pendidikan minimal dan tanggal pekerjaan nyata.
Kesalahan 4 — Masih kuliah berarti tidak bisa bekerja
Tidak benar. Seseorang dapat bekerja sambil melanjutkan pendidikan.
Kesalahan 5 — Sudah lulus berarti otomatis berpengalaman
Juga tidak benar. Pendidikan membuktikan kelulusan, bukan pengalaman pekerjaan.
27. Contoh Redaksi Hasil Evaluasi Pekerjaan Konstruksi
28. Contoh Redaksi Hasil Evaluasi Jasa Konsultansi Konstruksi
29. Kesimpulan
Kedua, pengalaman yang dinilai harus dikaitkan dengan pendidikan minimal yang dipersyaratkan untuk memperoleh SKK Konstruksi yang disyaratkan.
Ketiga, pengalaman sebelum pendidikan minimal tersebut terpenuhi pada prinsipnya tidak masuk sebagai pengalaman yang dinilai untuk memenuhi persyaratan tersebut.
Keempat, pendidikan minimal tidak selalu berarti S1. Pendidikan minimal harus dibaca berdasarkan jabatan kerja dan skema SKK yang relevan.
Kelima, ijazah tertinggi tidak selalu menjadi titik awal penghitungan pengalaman.
Keenam, terpenuhinya pendidikan minimal tidak otomatis membuktikan adanya pengalaman. Pengalaman harus benar-benar ada dan dapat dibuktikan.
Ketujuh, seseorang yang masih kuliah dapat saja memperoleh pengalaman yang dapat dinilai apabila pendidikan minimal yang relevan telah dipenuhi sebelumnya.
Kedelapan, tanggal terbit SKK tidak selalu identik dengan tanggal mulai pengalaman.
Kesembilan, evaluasi yang tepat dilakukan dengan urutan: jabatan kerja → SKK → jenjang → pendidikan minimal → tanggal kelulusan → pengalaman nyata → relevansi bidang → bukti pengalaman.
30. Dasar Hukum dan Referensi
- Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah beserta perubahannya.
- Peraturan LKPP Nomor 12 Tahun 2021 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Melalui Penyedia.
- Peraturan LKPP Nomor 4 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Peraturan LKPP Nomor 12 Tahun 2021.
- Peraturan Menteri PUPR Nomor 8 Tahun 2022 mengenai pemenuhan sertifikat standar jasa konstruksi dan SKK Konstruksi.
- Ketentuan Kementerian PUPR mengenai jabatan kerja, jenjang kualifikasi, pendidikan, dan skema sertifikasi tenaga kerja konstruksi.
- Ketentuan/pedoman Kementerian PUPR mengenai Jasa Konsultansi Konstruksi.
- Model Dokumen Pemilihan LKPP yang berlaku.
- KAK, LDP/LDK dan Dokumen Pemilihan paket yang bersangkutan.
Catatan: artikel ini menjelaskan prinsip penghitungan pengalaman personel. Dalam penerapan terhadap suatu paket tertentu, Pokja Pemilihan atau Pejabat Pengadaan tetap harus memeriksa secara spesifik jabatan kerja, jenjang SKK, program studi yang diperbolehkan, pendidikan minimal, bidang pengalaman, bukti pengalaman, KAK, serta Dokumen Pemilihan yang berlaku.
Komentar
Posting Komentar