Langsung ke konten utama

“Pengalaman Sebelum Lulus Kuliah, Apakah Dapat Dihitung? Kajian pada Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi Konstruksi”

Pengalaman Sebelum Lulus Kuliah, Apakah Dapat Dihitung? Kajian Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi Konstruksi

Salah satu persoalan yang cukup sering muncul dalam evaluasi pengadaan jasa konstruksi adalah ketika seorang personel mempunyai pengalaman pekerjaan yang panjang, tetapi sebagian pengalaman tersebut diperoleh sebelum yang bersangkutan lulus dari pendidikan yang kemudian digunakan sebagai dasar kompetensinya.

Misalnya, seseorang telah bekerja pada proyek sejak tahun 2018, tetapi baru lulus D3 atau S1 Teknik Sipil pada tahun 2021. Dalam tender atau seleksi tahun 2026, penyedia mencantumkan pengalaman personel tersebut sejak tahun 2018.

Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak boleh disederhanakan:

Apakah pengalaman pekerjaan sebelum lulus kuliah dapat dihitung sebagai pengalaman yang memenuhi persyaratan?

Untuk menjawabnya, perlu dibedakan dua rezim pengadaan jasa konstruksi:

  1. Pekerjaan Konstruksi; dan
  2. Jasa Konsultansi Konstruksi.

Keduanya memiliki benang merah yang sama: pengalaman personel tidak hanya dilihat dari kapan seseorang pertama kali bekerja, tetapi juga harus dikaitkan dengan pendidikan minimal yang dipersyaratkan untuk memperoleh SKK Konstruksi yang disyaratkan.

1. Pengalaman Faktual Tidak Selalu Sama dengan Pengalaman yang Dapat Dinilai

Hal pertama yang perlu dibedakan adalah antara:

  • pengalaman faktual, yaitu pekerjaan yang benar-benar pernah dilakukan seseorang; dan
  • pengalaman yang dapat dinilai, yaitu pengalaman yang memenuhi seluruh persyaratan tender atau seleksi.

Seseorang dapat saja benar-benar telah bekerja sejak sebelum lulus kuliah. Pengalaman tersebut merupakan fakta riwayat hidupnya.

Namun dalam pengadaan jasa konstruksi, persoalannya bukan hanya apakah pekerjaan itu pernah dilakukan, tetapi:

Apakah periode pengalaman tersebut memenuhi ketentuan pendidikan minimal, SKK, bidang pekerjaan, dan bukti pengalaman yang dipersyaratkan?

2. Pekerjaan Konstruksi: Pendidikan Minimal Menjadi Batas Awal

Dalam ketentuan pengadaan Pekerjaan Konstruksi, pengalaman personel dikaitkan dengan pendidikan minimal yang menjadi dasar untuk memperoleh sertifikat kompetensi yang disyaratkan.

PENGALAMAN PERSONEL PEKERJAAN KONSTRUKSI
PERATURAN LKPP NOMOR 12 TAHUN 2021

Substansi ketentuan:

Pengalaman kerja yang dinilai dikaitkan dengan pengalaman setelah personel lulus pendidikan minimal sesuai persyaratan untuk memperoleh sertifikat kompetensi yang disyaratkan.

Sumber: Lampiran Peraturan LKPP Nomor 12 Tahun 2021 sebagaimana diubah dengan Peraturan LKPP Nomor 4 Tahun 2024, ketentuan evaluasi pengalaman personel Pekerjaan Konstruksi.

Dalam beberapa dokumen lama masih dapat dijumpai nomenklatur SKA/SKTK. Namun dalam sistem sertifikasi jasa konstruksi saat ini nomenklatur yang digunakan adalah Sertifikat Kompetensi Kerja Konstruksi atau SKK Konstruksi.

Catatan: apabila sumber yang dikutip masih menggunakan istilah SKA/SKTK, yang penting ditarik adalah prinsip hubungan antara pendidikan minimal, kompetensi, dan pengalaman yang dinilai.

3. Bukan Otomatis Sejak Lulus S1

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap semua pengalaman baru dapat dihitung sejak seseorang lulus S1.

Pendekatan tersebut tidak selalu tepat.

Yang menjadi ukuran bukan otomatis ijazah tertinggi.

Yang harus dicari adalah:

Jenjang pendidikan minimal apa yang dipersyaratkan untuk memperoleh SKK Konstruksi yang disyaratkan bagi posisi tersebut?

Misalnya seseorang mempunyai riwayat:

  • lulus SMK tahun 2016;
  • lulus D3 Teknik Sipil tahun 2019;
  • lulus S1 Teknik Sipil tahun 2023.

Jika SKK yang dipersyaratkan dapat dipenuhi dengan pendidikan minimal D3, maka tidak tepat apabila evaluator otomatis baru menghitung pengalaman sejak tahun 2023 hanya karena S1 merupakan ijazah tertinggi personel.

Dalam kondisi tersebut, titik analisisnya adalah ketika pendidikan minimal D3 telah terpenuhi, sepanjang seluruh persyaratan lain juga terpenuhi.

4. Ijazah Tertinggi Bukan Selalu Titik Awal Pengalaman

Ijazah tertinggi bukan selalu titik awal penghitungan pengalaman. Yang relevan adalah jenjang pendidikan minimal yang memenuhi persyaratan SKK untuk posisi yang ditawarkan.

Hal ini penting terutama bagi personel yang menempuh pendidikan secara bertahap.

Contohnya:

  • D3 tahun 2018;
  • bekerja sejak tahun 2019;
  • S1 tahun 2023.

Apabila pendidikan minimal yang dibutuhkan untuk SKK yang disyaratkan adalah D3, maka pengalaman sejak setelah terpenuhinya pendidikan D3 dapat menjadi periode yang dinilai.

5. Pendidikan Hanya Menentukan Batas Paling Awal

Memenuhi pendidikan minimal tidak berarti seseorang otomatis memperoleh pengalaman sejak tanggal kelulusan.

Pendidikan minimal hanya menentukan batas paling awal pengalaman yang dapat dinilai. Adanya pengalaman tetap harus dibuktikan melalui pekerjaan nyata dan dokumen pendukung yang dipersyaratkan.

Contoh:

  • lulus S1 tahun 2018;
  • baru mulai bekerja pada proyek tahun 2021.

Pengalamannya tentu tidak dihitung sejak 2018.

Batas Fungsi
Pendidikan minimal Menentukan kapan paling awal pengalaman dapat masuk dalam periode yang dinilai.
Pengalaman pekerjaan nyata Menentukan kapan pengalaman benar-benar mulai diperoleh.

6. Apa yang Dimaksud Pendidikan Minimal untuk Memperoleh SKK?

Pertanyaan berikutnya adalah: apakah pendidikan minimal itu selalu S1?

Tidak.

Dalam sistem kompetensi kerja konstruksi terdapat jenjang kualifikasi jabatan kerja yang secara umum dikelompokkan menjadi:

  • Operator;
  • Teknisi/Analis; dan
  • Ahli.

Pada kelompok Ahli dikenal antara lain jenjang 7, 8, dan 9. Namun angka jenjang tidak boleh dibaca sendirian. Harus diperiksa pula jabatan kerja, subklasifikasi, program studi, serta skema sertifikasi.

7. Pendidikan dan Pengalaman Diperiksa dalam SKK

PERMEN PUPR NOMOR 8 TAHUN 2022
PERATURAN MENTERI PUPR NOMOR 8 TAHUN 2022

Pasal 26 ayat (1)

Dalam proses verifikasi dan validasi persyaratan permohonan SKK Konstruksi dilakukan penilaian terhadap kesesuaian persyaratan, termasuk:

kesesuaian pendidikan dan pengalaman

Sumber: Permen PUPR Nomor 8 Tahun 2022, Pasal 26.

Norma ini menegaskan bahwa pendidikan dan pengalaman merupakan unsur yang saling terkait dalam pemenuhan kompetensi kerja konstruksi.

8. Cara Menghitung Pengalaman TKK

PASAL 27 PERMEN PUPR NOMOR 8 TAHUN 2022

Pasal 27

Pengalaman tenaga kerja konstruksi pada pokoknya dihitung berdasarkan:

akumulasi waktu bekerja di bidang Jasa Konstruksi

Ketentuan tersebut juga mengatur cara memperhitungkan periode waktu pengalaman.

Sumber: Permen PUPR Nomor 8 Tahun 2022, Pasal 27.
Perlu dibedakan: tata cara menghitung pengalaman untuk proses sertifikasi SKK tidak selalu identik dengan tata cara evaluasi pengalaman dalam tender. Untuk tender tetap mengikuti Dokumen Pemilihan dan ketentuan pengadaan yang berlaku.

9. Contoh Hubungan Jenjang Ahli, Pendidikan, dan Pengalaman

CAPTURE ATURAN — JENJANG AHLI

Contoh Ahli Jenjang 8

Dalam ketentuan SKK terdapat antara lain jalur pendidikan:

  • S1/S1 Terapan/D-IV Terapan dengan pengalaman tertentu; atau
  • pendidikan profesi dengan pengalaman tertentu.

Contoh Ahli Jenjang 9

Dapat terdapat beberapa alternatif pendidikan, antara lain:

  • S1/S1 Terapan/D-IV Terapan dengan pengalaman lebih panjang;
  • pendidikan profesi; atau
  • S2/S2 Terapan/Spesialis 1 dengan pengalaman yang berbeda.
Sumber: Permen PUPR Nomor 8 Tahun 2022, ketentuan kualifikasi dan pengalaman SKK Konstruksi.
Jangan disederhanakan menjadi “Jenjang 7 = S1, Jenjang 8 = S1, Jenjang 9 = S2”. Untuk setiap jabatan kerja harus dibaca skema sertifikasinya secara spesifik.

10. Contoh Tabel Kaitan Jenjang Jabatan, Pendidikan, dan Pengalaman

Kualifikasi Jenjang Contoh Pendidikan Karakter Persyaratan Pengalaman Catatan
Ahli Muda 7 S1/S1 Terapan/D-IV Terapan sesuai jabatan kerja Dapat terdapat skema lulusan baru sesuai ketentuan Program studi harus sesuai skema SKK.
Ahli Madya 8 S1/S1 Terapan/D-IV Terapan atau jalur lain sesuai regulasi Memerlukan pengalaman sesuai jalur pendidikan dan skema sertifikasi Jangan hanya melihat angka jenjang.
Ahli Utama 9 S1/D-IV, profesi, atau S2 sesuai skema Jumlah pengalaman berbeda menurut jalur pendidikan Program studi dan jabatan kerja tetap harus sesuai.
Teknisi/Analis 4–6 Dapat berasal dari pendidikan vokasi/teknis sesuai skema jabatan Mengikuti ketentuan masing-masing jabatan kerja Tidak semua personel harus berkualifikasi Ahli.
Operator 1–3 Mengikuti skema kompetensi jabatan kerja Mengikuti ketentuan kompetensi yang berlaku Umumnya berkaitan dengan keterampilan operasional.
Penting: tabel di atas merupakan alat bantu memahami struktur kualifikasi. Pendidikan minimal yang berlaku harus ditentukan berdasarkan jabatan kerja dan skema SKK yang dipersyaratkan, bukan semata-mata berdasarkan angka jenjang.

11. Contoh Jabatan Kerja

Salah satu contoh yang mudah dipahami adalah bidang gedung.

Contoh Jabatan Kerja Kualifikasi Jenjang Contoh Bidang Pendidikan
Ahli Muda Teknik Bangunan Gedung Ahli 7 Teknik Sipil atau bidang pendidikan relevan sesuai skema
Ahli Madya Teknik Bangunan Gedung Ahli 8 Mengikuti persyaratan skema jabatan kerja
Ahli Teknik Bangunan Gedung Ahli 9 Mengikuti persyaratan program studi/skema sertifikasi
Manajer Lapangan Pelaksanaan Pekerjaan Gedung Teknisi/Analis 6 Mengikuti persyaratan jabatan kerja yang berlaku
Pelajaran penting: jangan menganggap semua personel konstruksi harus berpendidikan S1 atau harus mempunyai SKK Ahli. Persyaratan harus mengikuti posisi dan jabatan kerja yang benar-benar dibutuhkan.

12. Capture Contoh Program Studi pada Jabatan Kerja

CAPTURE ATURAN — PENETAPAN JABATAN KERJA

Contoh:

Klasifikasi: Sipil

Subklasifikasi: Gedung

Jabatan Kerja: Ahli Teknik Bangunan Gedung

Contoh program studi yang relevan antara lain:

Teknik Sipil / Pendidikan Teknik Sipil atau Bangunan sesuai skema yang berlaku

Sumber: ketentuan penetapan jabatan kerja dan jenjang kualifikasi bidang jasa konstruksi.

13. Kaitannya dengan Pengalaman Sebelum Lulus Kuliah

Dengan memahami tabel di atas, cara evaluasinya menjadi lebih jelas.

PERTAMA
Identifikasi SKK dan jabatan kerja yang dipersyaratkan.
↓
KEDUA
Periksa jenjang SKK serta pendidikan/program studi yang dapat digunakan.
↓
KETIGA
Tentukan kapan pendidikan minimal tersebut diperoleh.
↓
KEEMPAT
Periksa pengalaman nyata setelah titik pendidikan minimal tersebut.
↓
KELIMA
Uji relevansi bidang dan bukti pengalaman.

14. Simulasi Pekerjaan Konstruksi

Kasus 1

Andi bekerja pada proyek konstruksi sejak Januari 2018.
Ia baru lulus S1 Teknik Sipil pada Agustus 2021.
Dalam tender tahun 2026, Andi ditawarkan sebagai personel manajerial.
SKK yang dipersyaratkan membutuhkan pendidikan minimal S1 yang relevan.
Jika pendidikan minimal yang menjadi dasar untuk memperoleh SKK yang disyaratkan baru terpenuhi tahun 2021, maka pengalaman sebelum terpenuhinya pendidikan minimal tersebut tidak masuk sebagai pengalaman yang dinilai berdasarkan ketentuan tersebut.

15. Simulasi Ahli Madya Jenjang 8

Kasus 2

Rahman bekerja di proyek sejak 2012.
S1 Teknik Sipil lulus tahun 2016.
Tahun 2026 ditawarkan dengan SKK Ahli Madya Teknik Bangunan Gedung Jenjang 8.

Evaluator tidak boleh langsung menghitung pengalaman sejak 2012.

Jika pendidikan minimal yang menjadi dasar untuk memperoleh SKK tersebut adalah S1 yang baru terpenuhi pada 2016, maka titik awal periode pengalaman yang dapat dinilai dimulai setelah terpenuhinya pendidikan minimal tersebut.

16. Simulasi: Sudah D3, Kemudian Melanjutkan S1

Kasus 3

Budi lulus D3 Teknik Sipil tahun 2018.
Bekerja sejak 2019.
Kemudian lulus S1 tahun 2023.
SKK yang disyaratkan dapat diperoleh berdasarkan pendidikan minimal D3.
Pengalaman Budi tidak harus baru dihitung sejak S1 tahun 2023. Jika D3 sudah memenuhi pendidikan minimal untuk SKK tersebut, periode pengalaman setelah D3 dapat dinilai sepanjang seluruh bukti dan bidang pengalamannya memenuhi persyaratan.

17. Jasa Konsultansi Konstruksi

Dalam Jasa Konsultansi Konstruksi, persoalan ini terutama berkaitan dengan pengalaman profesional tenaga ahli.

TENAGA AHLI JASA KONSULTANSI KONSTRUKSI
PEDOMAN JASA KONSULTANSI KONSTRUKSI

Substansi ketentuan tenaga ahli menegaskan bahwa pengalaman profesional dikaitkan dengan:

pengalaman kerja setelah lulus pendidikan sesuai pendidikan minimal untuk memperoleh SKK Konstruksi yang dipersyaratkan

Sumber: ketentuan/pedoman Kementerian PUPR mengenai persyaratan tenaga ahli Jasa Konsultansi Konstruksi.

18. Simulasi Jasa Konsultansi Konstruksi

Kasus 4

Citra mulai terlibat dalam pekerjaan konsultansi tahun 2017 sambil kuliah.
Ia lulus S1 Teknik Sipil tahun 2020.
Dalam seleksi tahun 2026 ia ditawarkan sebagai tenaga ahli.
KAK mensyaratkan SKK dengan pendidikan minimal S1 dan pengalaman profesional minimal 5 tahun.
Jika pendidikan minimal baru terpenuhi tahun 2020, maka periode 2017–2019 tidak dimasukkan sebagai pengalaman profesional yang dinilai untuk memenuhi persyaratan tersebut.

19. Bekerja Sambil Kuliah: Apakah Otomatis Tidak Dihitung?

Tidak.

Status seseorang sedang kuliah tidak otomatis membuat pengalaman kerjanya gugur.

Seseorang dapat saja:

  • sudah lulus D3 lalu bekerja sambil kuliah S1;
  • sudah lulus S1 lalu bekerja sambil kuliah S2;
  • kuliah kelas karyawan;
  • melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja.
Jadi rumus “masih kuliah = pengalaman tidak dihitung” adalah keliru.

20. Kuliah S2 Tidak Menghapus Pengalaman

Misalnya seseorang:

  • lulus S1 tahun 2015;
  • bekerja sejak 2016;
  • kuliah S2 tahun 2020–2022 sambil tetap bekerja.

Jika SKK yang dipersyaratkan hanya memerlukan pendidikan minimal S1, maka pengalaman selama kuliah S2 tetap dapat dinilai sepanjang pengalaman kerjanya nyata dan terbukti.

21. Tanggal SKK Bukan Otomatis Titik Awal Pengalaman

Kesalahan lain adalah menganggap pengalaman baru dihitung sejak SKK diterbitkan.

Contoh:

  • lulus S1 tahun 2018;
  • mulai bekerja sesuai bidang tahun 2019;
  • SKK baru diterbitkan tahun 2022.
Bedakan tiga hal:

1. tanggal terpenuhinya pendidikan minimal;
2. tanggal pengalaman pekerjaan nyata dimulai; dan
3. tanggal SKK diterbitkan.

Tanggal SKK diterbitkan tidak otomatis sama dengan tanggal dimulainya pengalaman.

22. Bagaimana dengan Magang?

Pengalaman magang tidak otomatis sama dengan pengalaman profesional yang dapat dinilai.

Perlu diperiksa:

  • apakah dilakukan sebelum atau sesudah pendidikan minimal terpenuhi;
  • jenis tugas yang dilakukan;
  • relevansinya dengan kompetensi;
  • durasi;
  • status kegiatan; dan
  • bukti pengalaman.

23. Matriks Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi Konstruksi

Aspek Pekerjaan Konstruksi Jasa Konsultansi Konstruksi
Subjek Personel manajerial/personel yang dipersyaratkan Tenaga ahli/personel profesional
Pendidikan Dikaitkan dengan pendidikan minimal untuk SKK yang disyaratkan Dikaitkan dengan pendidikan minimal untuk SKK tenaga ahli dalam KAK
Ijazah tertinggi Tidak otomatis menjadi titik awal Tidak otomatis menjadi titik awal
Tanggal SKK Tidak otomatis menjadi awal pengalaman Tidak otomatis menjadi awal pengalaman
Status kuliah Tidak otomatis menghapus pengalaman Tidak otomatis menghapus pengalaman

24. Matriks Keputusan Cepat

Kondisi Dapat Dinilai? Penjelasan
Bekerja sebelum pendidikan minimal untuk SKK terpenuhi Tidak untuk periode tersebut Belum memenuhi batas pendidikan minimal.
D3 telah memenuhi syarat SKK, kemudian melanjutkan S1 Dapat Pengalaman dapat dihitung setelah pendidikan minimal D3 terpenuhi.
S1 telah memenuhi syarat, bekerja sambil kuliah S2 Dapat Status kuliah S2 tidak otomatis menghapus pengalaman.
SKK terbit belakangan Tidak otomatis ditolak Bedakan tanggal SKK dengan tanggal pendidikan minimal dan pekerjaan nyata.
Sudah lulus tetapi belum bekerja Tidak Ijazah tidak membuktikan pengalaman.
Pengalaman hanya di CV tanpa bukti Tidak otomatis dapat dinilai Harus memenuhi bukti yang dipersyaratkan.

25. Rumus Praktis Evaluasi bagi Pokja

LANGKAH 1
Tentukan jenis pengadaan: Pekerjaan Konstruksi atau Jasa Konsultansi Konstruksi.
↓
LANGKAH 2
Identifikasi posisi personel dan jabatan kerja.
↓
LANGKAH 3
Periksa SKK yang dipersyaratkan.
↓
LANGKAH 4
Periksa jenjang dan program studi/pendidikan minimal.
↓
LANGKAH 5
Tentukan kapan pendidikan minimal terpenuhi.
↓
LANGKAH 6
Periksa kapan pengalaman pekerjaan nyata dimulai.
↓
LANGKAH 7
Periksa relevansi bidang pengalaman.
↓
LANGKAH 8
Verifikasi CV, referensi kerja dan bukti pendukung.
↓
LANGKAH 9
Hitung hanya periode pengalaman yang memenuhi seluruh ketentuan.

26. Kesalahan Evaluasi yang Perlu Dihindari

Kesalahan 1 — Semua pengalaman dihitung sejak pertama bekerja

Tidak tepat apabila pada periode awal personel belum memenuhi pendidikan minimal untuk SKK yang dipersyaratkan.

Kesalahan 2 — Semua pengalaman baru dihitung sejak lulus S1

Tidak tepat apabila jenjang pendidikan sebelumnya sudah memenuhi pendidikan minimal untuk SKK.

Kesalahan 3 — Pengalaman baru dihitung sejak SKK terbit

Tidak otomatis demikian. Tanggal SKK harus dibedakan dengan tanggal pendidikan minimal dan tanggal pekerjaan nyata.

Kesalahan 4 — Masih kuliah berarti tidak bisa bekerja

Tidak benar. Seseorang dapat bekerja sambil melanjutkan pendidikan.

Kesalahan 5 — Sudah lulus berarti otomatis berpengalaman

Juga tidak benar. Pendidikan membuktikan kelulusan, bukan pengalaman pekerjaan.

27. Contoh Redaksi Hasil Evaluasi Pekerjaan Konstruksi

“Personel yang ditawarkan mencantumkan pengalaman sejak tahun 2018. Berdasarkan dokumen pendidikan, pendidikan minimal yang relevan untuk memperoleh SKK yang disyaratkan baru terpenuhi pada tahun 2021. Oleh karena itu, periode pengalaman sebelum terpenuhinya pendidikan minimal tersebut tidak diperhitungkan. Setelah dilakukan penghitungan terhadap periode pengalaman yang memenuhi ketentuan, pengalaman yang dapat dinilai adalah ... tahun, sedangkan yang dipersyaratkan minimal ... tahun.”

28. Contoh Redaksi Hasil Evaluasi Jasa Konsultansi Konstruksi

“Berdasarkan KAK, tenaga ahli dipersyaratkan memiliki SKK Konstruksi dengan pendidikan minimal .... Pengalaman profesional dinilai setelah terpenuhinya pendidikan minimal yang menjadi dasar untuk memperoleh SKK tersebut. Sebagian pengalaman yang dicantumkan berada sebelum terpenuhinya pendidikan minimal sehingga tidak diperhitungkan dalam pemenuhan pengalaman tenaga ahli.”

29. Kesimpulan

Pertama, pada Pekerjaan Konstruksi maupun Jasa Konsultansi Konstruksi, pengalaman tidak selalu dihitung sejak seseorang pertama kali bekerja.

Kedua, pengalaman yang dinilai harus dikaitkan dengan pendidikan minimal yang dipersyaratkan untuk memperoleh SKK Konstruksi yang disyaratkan.

Ketiga, pengalaman sebelum pendidikan minimal tersebut terpenuhi pada prinsipnya tidak masuk sebagai pengalaman yang dinilai untuk memenuhi persyaratan tersebut.

Keempat, pendidikan minimal tidak selalu berarti S1. Pendidikan minimal harus dibaca berdasarkan jabatan kerja dan skema SKK yang relevan.

Kelima, ijazah tertinggi tidak selalu menjadi titik awal penghitungan pengalaman.

Keenam, terpenuhinya pendidikan minimal tidak otomatis membuktikan adanya pengalaman. Pengalaman harus benar-benar ada dan dapat dibuktikan.

Ketujuh, seseorang yang masih kuliah dapat saja memperoleh pengalaman yang dapat dinilai apabila pendidikan minimal yang relevan telah dipenuhi sebelumnya.

Kedelapan, tanggal terbit SKK tidak selalu identik dengan tanggal mulai pengalaman.

Kesembilan, evaluasi yang tepat dilakukan dengan urutan: jabatan kerja → SKK → jenjang → pendidikan minimal → tanggal kelulusan → pengalaman nyata → relevansi bidang → bukti pengalaman.
“Pertanyaan yang tepat bukan: kapan personel ini lulus S1? Tetapi: kapan ia telah memenuhi pendidikan minimal untuk SKK yang dipersyaratkan, dan sejak kapan pengalaman relevan setelah titik tersebut benar-benar dapat dibuktikan?”

30. Dasar Hukum dan Referensi

  1. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah beserta perubahannya.
  2. Peraturan LKPP Nomor 12 Tahun 2021 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Melalui Penyedia.
  3. Peraturan LKPP Nomor 4 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Peraturan LKPP Nomor 12 Tahun 2021.
  4. Peraturan Menteri PUPR Nomor 8 Tahun 2022 mengenai pemenuhan sertifikat standar jasa konstruksi dan SKK Konstruksi.
  5. Ketentuan Kementerian PUPR mengenai jabatan kerja, jenjang kualifikasi, pendidikan, dan skema sertifikasi tenaga kerja konstruksi.
  6. Ketentuan/pedoman Kementerian PUPR mengenai Jasa Konsultansi Konstruksi.
  7. Model Dokumen Pemilihan LKPP yang berlaku.
  8. KAK, LDP/LDK dan Dokumen Pemilihan paket yang bersangkutan.

Catatan: artikel ini menjelaskan prinsip penghitungan pengalaman personel. Dalam penerapan terhadap suatu paket tertentu, Pokja Pemilihan atau Pejabat Pengadaan tetap harus memeriksa secara spesifik jabatan kerja, jenjang SKK, program studi yang diperbolehkan, pendidikan minimal, bidang pengalaman, bukti pengalaman, KAK, serta Dokumen Pemilihan yang berlaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunitas Pembelajar

Ikuti Sukri Almarosy

Jadilah bagian dari komunitas pembelajar PBJ, kepemimpinan, dan pengembangan kompetensi ASN. Dengan menjadi follower, materi terbaru lebih mudah ditemukan melalui Daftar Bacaan Blogger Anda.

  • Mengetahui pembaruan artikel dan materi pembelajaran lebih cepat.
  • Mudah kembali ke panduan PBJ, simulasi, dan pembahasan terbaru.
  • Gratis, aman melalui akun Google, dan dapat berhenti mengikuti kapan saja.

✓ Menjadi Followers

Klik tombol di bawah, masuk dengan akun Google, lalu pilih mengikuti secara publik atau anonim.

✓ Ikuti di Blogger Nama dan foto profil hanya tampil jika Anda memilih mengikuti secara publik.

Mulai Belajar Hari Ini

Pengetahuan yang tepat membuat kita bekerja lebih tenang dan profesional.

Jelajahi Rumah Belajar ASN